
Asha tampak sedikit panik saat tiba-tiba di tengah perjalanan seseorang menghubungi Eden, secepat kilat laki-laki itu memutar keadaan, rencana awal yang harusnya pergi berdua terpaksa ditunda dahulu hingga Eden menyelesaikan urusan nya.
Laki-laki itu meminta sang adik deliyah untuk menjemput Asha dan membawa nya lebih dulu ke tempat pertemuan mereka.
"Ada apa sebenarnya?"
Tanya Asha sambil menoleh ke arah mobil Eden yang mulai melesat pergi menjauhi mobil mereka.
"Seperti nya ada kejadian darurat"
Ucap Deliyah cepat.
"Apakah hal yang buruk? dia tidak pergi untuk saling beradu senjata bukan?"
Asha tampak menggenggam erat telapak tangan nya, kekhawatiran meliputi perasaan nya, bahkan hati nya tiba-tiba menjadi gusar bukan main.
"Aku fikir tidak kak, jangan khawatir soal kak Eden"
Deliyah berusaha menenangkan perasaan kakaknya.
"Aku hanya takut kejadian malam dulu kembali terjadi"
Ingatan buruk soal luka tembak dan kecelakaan itu membuat Asha tidak bisa tidur dan makan dengan baik, bahkan perasaan nya diliputi jutaan kepanikan luar biasa, seluruh luka di punggung Eden juga tembakan di perut nya membuat Asha tidak bisa bernafas Sempurna selama beberapa hari.
Fikiran buruk kala itu terus menghantamnya, kata "Bagaimana jika" atau "Seandainya" saat itu terus menghantam kepalanya, dia jelas benar-benar takut kehilangan Eden saat itu.
"Kakak jangan sepanik itu, itu hanya urusan di perusahaan Al Jaber, Abigail menghubungi ku juga tadi, dia bilang ada sedikit urusan, akan kembali secepatnya menemui kita"
Deliyah seolah tahu ke khawatiran sang kakak, dengan cepat dia menggenggam erat tangan sang kakak.
"Aku hanya khawatir jika dia kembali pergi berperang, seolah-olah membuat ku berfikir itu untuk yang terakhir kalinya aku akan melihat dirinya"
Deliya langsung menggelang cepat.
"Kakak harus membuang pemikiran buruk seperti itu, itu akan menciptakan beban buruk dalam pemikiran kakak"
__ADS_1
Asha tampak diam, bola matanya tampak menatap lurus kedepan.
*********
Saat mereka tiba di sebuah lokasi hunian mewah yang Asha tidak tahu milik siapa, sejenak gadis itu menaikkan alisnya.
"Ini dimana?"
Dia bertanya pada adiknya sambil mengerutkan dahinya.
"Aku juga tidak begitu paham, Abigail bilang disini lokasinya"
Asha hanya diam, turun perlahan dari mobilnya kemudian dia berjalan menuju ke arah depan.
"Deliyah aku..."
Asha mencoba untuk bicara pada deliyah, tapi Realita nya sang adik entah menghilang kemana untuk memarkirkan mobilnya.
Tidak tahu kenapa tapi hati Asha Seolah-olah memerintahkan dirinya agar terus melangkah masuk kedalam.
...Terima kasih terus setia menanti ku, Asha....
...Mari terus melangkah kedepan bersama....
...Kevin Burja....
Bola mata Asha tampak Mulai berkaca-kaca,kaki nya terus melangkah kedalam mengikuti gambar hati itu secara perlahan, di ujung ruangan tampak Eden memainkan pianonya, menyanyikan lagu love you beloved by you milik Mark terenzi.
Rupanya disisi kiri dan kanan sepanjang ruangan dia melangkah, tampak terpampang foto-foto indah dirinya sejak kecil hingga dia dewasa.
Asha mencoba menahan gemuruh di dadanya, terus melangkah mendekati Eden dengan langkah tidak percaya, tubuh nya tampak gemetaran dengan bola mata yang sudah mulai memanas.
__ADS_1
Saat dia telah berhenti tepat dihadapan Eden yang masih terus bernyanyi dan memainkan piano untuk dirinya, sejenak bola matanya menatap ke arah sisi kanan nya, seketika tangis Asha pecah, dia berusaha menghapus air matanya berkali-kali dengan jemari indahnya.
Cukup tidak percaya Dengan apa yang dia lihat saat ini.
Asha berusaha tertawa diiringi air mata yang terus turun tiada henti, saat lagu yang Kevin bawakan berhenti, laki-laki itu dengan cepat berdiri, mengulurkan tangan nya dan menunggu Asha meraih jemari nya.
Sepersekian detik kemudian Asha membalas uluran tangan Eden, dengan perlahan mereka melangkah ke arah sisi kanan Asha. Mendekati ruangan bertaburkan bunga dan ratusan balon di atas nya, Lampu MARRY ME ? Tampak menyala indah disana.
Eden langsung duduk dengan menekukkan kaki kanan nya, dia melepaskan tangan nya dari Asha, mencoba meraih sesuatu yang ada di dalam kantung celana nya, secara perlahan Eden membuka kotak bludru berwarna putih itu di hadapan Asha, sebuah cincin indah tampak bertengger di dalam sana.
"Will you marry me, Asha?"
Tanya Eden dengan bola mata yang ikut berbinar-binar, degub jantung Eden jelas tidak beraturan, dia menahan rasa kacau di dada nya sejak siang tadi, bahkan berkali-kali dia mencoba menarik nafasnya karena takut rencana yang mereka susun bakal berantakan.
Asha menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, gadis itu benar-benar kehilangan kata-kata nya saat ini.
********
Catatan \= Maafkan kalau outhor lama up nya, bukan di sengaja, tapi outhor harus benar-benar memikirkan dengan matang untuk tiap konsep part nya agar para readers/pembaca tidak jenuh,bosan dan kecewa.
Outhor mau setiap pasangan mendapatkan feel yang berbeda di hati para readers/pembaca, mendapatkan rasa dan kenangan sendiri-sendiri dengan cerita tiap pasangan nya.
Love you all selangit cakrawala
salam kasih dan sayang
Eva Hye Seung
apalah arti nya outhor tanpa readers nya
apalah arti nya penulis tanpa pembaca nya dan
__ADS_1
apalah arti nya saya tanpa kalian semua
😘😘😘😘😍😍😍😍💓💓💓💓💗💗💗💋💋💋💓💓💓💞💞❣️❣️