Putri Perawan Milik Daddy Season 2

Putri Perawan Milik Daddy Season 2
Sistem kerja yang kebablasan


__ADS_3

Belle sejak tadi berguling-guling Kesana-kemari di sekitaran tempat tidur nya, sebentar-sebentar dia melirik ke arah Bern yang sibuk dengan pekerjaan nya, sebentar-sebentar Belle menatap ke arah makanan dan teh bern yang mulai mendingin dan belum tersentuh tangan sama sekali.


Sejak memutuskan mulai mengurangi dunia gelap nya, Bern mulai fokus pada urusan perusahaan, kali ini dia di minta oleh daddy nya untuk mulai mengurusi proyek pertama nya.


Cukup sulit untuk Bern yang terbiasa dengan kehidupan kelam, Senjata, minuman, penyelundupan, uang instan, membunuh atau di bunuh tiba-tiba mengubah kebiasaan menjadi duduk manis di depan laptop nya, dengan tumpukan berkas-berkas, susunan jurnal keuangan, statistik perdagangan, memperhatikan nilai saham, menjaga nilai saham tetap stabil, berbaur dengan para investor dan orang-orang berjas dan berdasi.


Awal-awal kemarin dia cukup ingin menyerah, cukup stress dalam menyusun jurnal pembukuan, neraca, debet, kredit, untung, rugi, laba dan entah apalagi Bern tidak paham.


Untungnya Belle cukup menguasai perihal soal keuangan mengingat sang istri memang sekolah SMK di bagian akuntansi hingga mempermudah Bern untuk memahami semua nya, dia baru tahu betapa Allah memberikan kelebihan untuk sang istri, IQ Belle jelas berada jauh di atas rata-rata, sang istri rupanya meraih peringkat 1 antar sekolah dalam seluruh bidang mata pelajaran terutama akuntansi dan matematika.


Karena itu Bern Fikir mencoba memprioritas kan pendidikan Belle setelah pernikahan mereka, selain bern ingin Belle menyetarakan pendidikan nya Bern juga jelas membutuhkan pasangan pelengkap untuk menyempurnakan urusan perusahaan.


"Ada yang terasa Sulit?"


Belle bertanya cepat ke arah Bern, berguling kan tubuhnya menuju ke arah Bern.


Seketika Bern menoleh ke arah Belle, menyentuh lembut wajah Belle sambil tersenyum.


"Sejauh ini baik-baik saja"


Ucap nya kemudian menundukkan kepalanya, sejenak Bern mencium lembut bibir Belle.

__ADS_1


"Sudah memutuskan nya?"


Tanya Bern tiba-tiba.


Belle diam sejenak, lalu mengangguk pelan.


"He em"


Belle fikir dia memang sudah harus memutuskan nya, untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi sesuai yang di saran kan Bern kemarin pada nya, dia tidak bisa membiarkan Bern mengurus segala sesuatu sendiri, laki-laki itu jika fokus pada satu perkerjaan akan lupa dengan pola makan dan istirahat nya.


Sejenak Belle menghela pelan nafasnya, dia bangun lantas secara perlahan menyingkirkan semua berkas-berkas bern dan laptop Nyang ada di hadapan sang suami.


Bern tampak menaikkan alisnya.


Belle tidak menjawab, terus membereskan berkas-berkas nya kemudian secara perlahan meraih piring berisi nasi dan lauk yang telah dia siapkan sejak tadi, secara perlahan dia mulai memasukkan nasi dan lauk ke dalam sendok makan lantas mencoba menyuapkan nya ke arah Bern.


"Aku fikir ini bukan lagi jam makan malam"


Belle bicara sambil melirik ke arah jam di dinding.


Buru-buru Bern ikut menoleh.

__ADS_1


Hampir tengah malam.


Sejenak Bern menelan salivanya.


"Maafkan aku sayang"


Ucap nya cepat lantas mulai membuka mulutnya, menerima suapan yang di berikan Belle lantas mulai mengunyahnya secara perlahan.


"Asik kerja boleh tapi jangan lupa tubuh dan Fikirkan juga butuh asupan dan istirahat, kalau sudah seperti ini, nama nya kebablasan"


Ucap Belle mencoba mengingat kan, tangan nya masih terus bergerak menyuapi Bern secara perlahan.


"Aku benar-benar kebablasan, maafkan aku sayang"


Ucap Bern lagi pelan.


"Bukan kah fungsi istri mengingatkan?"


Belle bicara sambil mengembangkan senyuman nya ke arah Bern.


Laki-laki itu mengangguk lantas mengelus lembut kepala Belle.

__ADS_1


Yah dia sadar seperti nya belakangan dia jadi kebablasan dengan keadaan, mungkin karena belum terbiasa jadi lupa dengan realita jika tubuh dan Fikiran nya juga butuh waktu istirahat yang cukup.


Satu-satunya orang yang paling sabar mengingat kan Dirinya hanya Belle, dan untung nya sang istri juga bukan type penuntut atau banyak protes soal apapun.


__ADS_2