
Saat Winda mengarahkan pistol nya pada Mila, perempuan itu jelas menatap tidak percaya.
kletekkk
"Kau benar-benar akan membunuh ku?"
Mila bertanya lantas menurunkan pistol nya.
Winda secara perlahan menarik pelatuk pistol nya, menatap perempuan itu dengan pandangan yang sulit untuk di artikan.
"Tentu saja"
Dooorrrrr
Sebuah tembakan melesat tepat mengenai kening Mila, perempuan itu seketika terkapar masih terlihat sedikit gerakan ditubuh nya.
"Kau tahu peraturan di DEMON ANGLE'S? jangan pernah menggunakan hati mu, jika tidak kau hanya akan mati sia-sia"
Ucap Winda lantas melesat pergi dari sana.
Bern menatap sosok Winda yang kemudian mulai menyerang orang-orang disekitarnya.
Bern Fikir gadis itu mungkin sejak awal memang sudah di latih dan di dokrin isi kepalanya oleh tidak menggunakan hati, mereka semua para kawanan nya bergerak tanpa perasaan, apalagi Hera, jelas terlihat perempuan cantik itu pandai bermain peran, ber..cin..ta dengan lawan nya dengan mudah bahkan setelah sesi ber..cin..ta Hera bahkan tanpa hati bisa membunuh mereka.
Dan gadis seperti mereka jelas terlihat sangat sulit untuk benar-benar jatuh cinta.
Pertarungan demi pertarungan terus terjadi, baku hantam, saling tembak dan saling membunuh antara satu dengan yang lainnya, beberapa orang milik Bern tampak tumbang.
Hingga pada akhirnya Bern dengan gerakan cepat keluar mencoba mengejar ketua O'Hara Lorenzo yang telah melesat menjauhi mereka entah sejak kapan, diikuti oleh Aland dan Winda.
"Abigail masih bersama mereka memindahkan Berliannya"
Ucap Winda cepat saat mereka berada didalam mobil.
"Aku yakin kau bukan type pengkhianat"
Ucap bern sambil menoleh ke arah Winda saat mereka telah berada didalam mobil, Bern, Winda dan Aland, 2 mobil mengikuti mereka dari belakang.
Winda terkekeh.
__ADS_1
"Tergantung"
Bern menaikkan alisnya
Winda membuang earphone miliknya dan milik Bern, dia berbisik.
"Saat misi di red mafia menghadapi Akbar, aku harap kau tidak ikut campur didalam nya, sebab disana aku bisa jadi mengkhianati mu"
Bern terkekeh.
"Pilihan ku cukup tepat untuk tidak memaksa mu untuk melakukan one night stand bersama, jika tidak setelah bergumul di kasur kita bisa saling menembakkan senjata antara satu dengan yang lainnya"
ucap bern sambil menggelengkan kepalanya.
"Karena itu aku menolak untuk ber..cinta dengan mu"
Aland tampak menaikkan alisnya.
"Ok, aku fikir rekan satu tim memang tidak seharusnya berbagi Saliva bersama"
"Oh shi..t"
"Aku tidak setuju jika laki-laki itu tidur dengan para gadis macan"
Bern dan Winda langsung memasang earphone mereka.
"Kau bilang kami macan?"
Hera terdengar mengoceh dari ujung sana.
"Oh sayang bukan begitu, so.kemana kota setelah ini?"
"Sayang, dimana kamu?"
Tiba-tiba eve bicara dengan seseorang di balik earphone nya.
"Meluncur dalam 60 detik sayang"
Bern tampak tidak menghiraukan mereka.
__ADS_1
"Posisi macan?"
Bern bertanya pada seseorang dari balik earphone nya.
"Menuju ke Bogor"
"Kami mulai merapat"
Setelah itu Bern dengan kekuatan penuh menginjak pedal gas mobil nya.
Winda dan Aland dengan secepat kilat meraih senjata mereka, mulai mengisi peluru nya dengam sempurna.
"Apa kau tidak merasa heran, Bern?"
Aland bicara sambil meraih rokoknya,. menyulut pamatik di ujung rokok yang sudah ada di bibirnya itu.
kletekk
Seketika Aland menurup pamatiknya, kemudian secara perlahan menghisap rokoknya itu.
Winda dengan gerakan cepat meraih rokoknya, Aland dengan gerakan cepat menghidupkan pamatik nya ke arah Winda, menunggu rokok Perempuan itu menyala dan mulai menghisap nya,Aland langsung mematikan pamatiknya, sepersekian detik kemudian Winda menghisap rokoknya dan membuang asapnya.
"Kenapa?"
Bern bertanya sambil bola matanya tetap fokus kedepan.
"Sejak awal kita masuk, kita sama sekali tidak melihat aries"
Ucap Aland cepat sambil berusaha memejamkan bola matanya.
"Ini sedikit aneh"
Lanjut Aland.
Seketika Bern terdiam diikuti Winda.
Yah mereka baru menyadari laki-laki ba..jingan itu sejak awal sama sekali tidak terlihat.
Yang jadi pertanyaan saat ini, kemana sesungguhnya laki-laki itu berada.
__ADS_1
Bern semakin mempercepat laju mobilnya menembus pekatnya malam, Tampak keheningan mulai meliputi diri mereka masing-masing saat ini.