Putri Perawan Milik Daddy Season 2

Putri Perawan Milik Daddy Season 2
Anak-anak yang lucu "Harapan yang terlalu dini"


__ADS_3

Catatan \= Undangan Susulan InsyaAllah nantinya malam, yang belum kebagian sabar yaaa 😘❣️


********


Jum'at Dini hari


Uni emirat Arab


2 jam setelah sesi hangat Malam Pertama


Bern & Belle


Entah pukul berapa, masih sangat dini hari semua orang tampak bersiap-siap dalam keberangkatan.


Karena Sabtu acara pernikahan Selena dan Bahrat mereka mau tidak mau mengejar jadwal keberangkatan, memastikan jika mereka harus tiba di Indonesia esok hari sebelum sholat Jum'at, memastikan diri masing-masing mendapat kan istirahat cukup ketika tiba di Indonesia, lalu malam hingga esok paginya harus sudah ada di kediaman Al Jaber semua dalam keadaan segar bugar.


Bern sempat ingin membuat perjalanan pulang di keesokan hari, tapi Daddy nya berkata.


"jika kita kembali ke Indonesia besok pagi setelah sarapan, itu artinya kita akan kehilangan waktu Jum'at kita, belum lagi kondisi tubuh menjadi tidak seimbang karena kelelahan di hari Sabtu nya"


Setelah di fikir-fikir ucapan Daddy nya benar juga.


Belle jelas tertidur pulas setelah mereka melewati sesi panas bersama, setelah mengajak sang istri membersihkan diri dan mandi junub, dia tahu Belle pasti begitu kelelahan setelah melewati banyak hal sejak pagi kemarin hingga malam ini, Karena itu Bern tidak ingin mengganggu waktu istirahat Belle sedikit pun hingga pada akhirnya Bern memutuskan untuk tidak membangunkan Belle, melainkan langsung mengangkat tubuh Belle agar masuk ke dalam dekapannya.


"Tidur?"


Sang Mommy Bern bertanya sambil berbisik begitu Bern keluar dari kamar mereka dari sisi kanan, dari sisi kiri tampak mommy rafeeqa mulai mengeluarkan koper milik mereka dari kamar sebelah.


Bern mengangguk perlahan.

__ADS_1


"Dia cukup kelelahan"


Mommy Bern tampak mengulas senyum, Mommy rafeeqa tampak menggeleng pelan.


"Jangan terlalu terburu-buru, kalian bisa melakukan banyak hal dengan Santai saat mendapat kan bukan madu setelah acara bahrat dan Selena"


Ucap mommy rafeeqa cepat.


"Aku fikir dia tidak mungkin bisa menahan nya dan tidak terburu-buru"


Seseorang terdengar bicara cekikikan dari arah belakang, itu adalah Seine.


"Jangan menggoda nya, wajah nya tampak malu ketika kamu menggoda nya"


Arash bicara sambil meninju pelan bahu kanan Seine.


"Bukankah dia paling kecil di antara kita? cukup menyenangkan menggoda dirinya"


Bern hanya bisa mengulas senyum, dia fikir resiko pengantin baru pasti selalu di goda oleh orang-orang.


"Sayang, sudah siap?"


Arash tampak bertanya pada seorang perempuan di arah kamar depan.


"Sudah, aku fikir sedikit sulit membangun kan heidar,apa kamu harus menggendong nya?"


Perempuan itu bertanya cepat ke arah Arash.


"Biar aku yang menggendongnya, zehra"

__ADS_1


Ucap Seine cepat.


"Seine, Amira mencari mu"


Mommy Gao bicara sambil meminta Bern agar melangkah lebih dulu kedepan.


"Oh sayang, istri ku membutuhkan ku, aku fikir masa kehamilan nya sangat membuat nya tidak nyaman, jadi aku fikir akan menggendong heidar ketika tiba di Indonesia"


Setelah berkata begitu, laki-laki itu melesat pergi meninggalkan semua orang.


Arash dengan gerakan cepat untuk mendapatkan putra kesayangan nya itu, sedangkan Bern melesat cepat menggendong belle menuju ke arah depan.


"Aku fikir kalian sebaiknya naik ke mobil bersama grandma Belle"


Tiba-tiba Mommy Bern berbicara ke arah Bern.


"Dia masih cukup merasa sedih karena satu persatu anak dan cucunya telah di miliki oleh orang lain"


Bern mengangguk dengan cepat.


Sejenak Bern menatap dalam wajah sang istri, lantas menatap beberapa keluarga dan teman-teman nya yang mulai keluar membawa para buah hati mereka, atau bahkan istri-istri mereka tampak berjalan kepayahan dalam masa kehamilan nya.


Tampak Sang kakak Murat yang membawa istri nya dalam kondisi hamil, Seine yang membawa Amira juga yang tengah hamil, keluarga gaohan dengan anak kembar nya, Arash dengan putra laki-laki nya, Tristan dengan Putri nya serta putra kecilnya bersama Lana Lan, beberapa keluarga Ayana dengan anak-anak mereka.


Sejenak Bern mengulum senyum lantas berfikir.


Bukan kah terlalu berlebihan ketika baru melewati malam pertama, dia mengharapkan hal yang sama.


Seketika Bern menggelengkan pelan kepala nya sambil terkekeh didalam hati.

__ADS_1


Oh God, bukan kah terlalu dini mengharapkan anak-anak yang lucu hadir di antara Kami.


Ucap Bern dalam hati.


__ADS_2