
Ailee tampak berada di atas kursi, sejak tadi mencoba memanjat untuk membersihkan beberapa hiasan yang tergantung di dinding kamar, dengan kondisi perut yang sudah membuncit dia terus mencari kegiatan untuk mengeluarkan keringat nya.
Sejak memasuki usia kehamilan 7 bulan beberapa waktu kemarin Ailee selalu berusaha menyibukkan diri agar tidak terbiasa tidur seharian mengingat dia takut mendapatkan resiko lahiran sulit yang sering di katakan oleh orang-orang tertua.
Ailee terlihat cukup kepayahan untuk mendapat kan sebuah hiasan dinding, kursi yang dia gunakan sebagai pijakan sempat bergoyang beberapa kali.
Masih terus berusaha mendapatkan hiasan dinding nya, kaki Ailee mulai secara perlahan menjinjit ke atas, jemari tangannya terus berusaha menggapai hiasan dinding yang ada di atas kepalanya.
"Oh God, susah sekali"
Keluh Ailee.
Dia masih terus berusaha untuk menjinjitkan kakinya hingga semakin ke atas, kursi yang dia gunakan secara perlahan mulai bergeser dengan gerakan lembut,jika dalam hitungan beberapa detik saja Ailee masih terus bergerak, bisa dibayangkan akan ada hantaman keras yang terjadi di ruangan kamar tersebut.
Saat Aland membukakan pintu kamar mereka, Sejenak Aland membulatkan bola matanya saat melihat posisi Ailee yang begitu mengejutkan.
"Sayang apa yang kamu lakukan?"
Aland jelas panik melihat aksi Ailee.
"Jika kamu terjatuh bagaimana? ini sangat berbahaya sekali Ailee"
__ADS_1
Raut wajah Aland tampak terlihat marah dengan jelas, laki-laki itu menyambar cepat tubuh Ailee hingga masuk ke dalam pangkuan nya.
"Apa kamu tidak lihat? kursi nya mulai bergeser"
Aland benar-benar marah, dia melihat sendiri bagaimana kursi yang Ailee Naiki mulai bergerak, jika terlambat sebentar saja Aland masuk, bisa dipastikan kursi nya terpelanting kebelakang dan tubuh aile terhempas kedepan.
"Maafkan aku"
Ailee langsung menundukkan kepalanya saat berada didalam gendongan Aland, dia baru kali ini melihat sang suami terlihat begitu marah dengan nada suara yang tinggi dan bola mata hampir lepas.
Urat wajah sisi kiri kanan Aland jelas menegang.
Ucap Ailee pelan.
"Jangan marah"
Aland berusaha menarik nafasnya beberapa waktu, menetralisir jantung nya yang hampir lepas, fikiran-fikiran buruk jelas menghantam dirinya tadi.
Secara perlahan Aland meletakkan tubuh Ailee di atas kasur.
"Sayang aku tidak marah, hanya saja pelajari Medan yang harus kamu lewati saat melakukan sesuatu, jangan langsung hantam tanpa pemikiran yang matang"
__ADS_1
Aland mulai meredam kemarahan nya yang tadi, dia tahu Ailee type gadis yang sedikit ceroboh, selalu bertindak tanpa berfikir, semuanya dilakukan tanpa pernah tahu apa akibat yang akan terjadi, karena itu meninggal kan Ailee sendirian dalam kondisi hamil jelas membuat Aland khawatir.
Oleh sebab itu Aland acapkali membawa Ailee kekantor agar dia lebih gampang mengawasi sang istri.
Bagi nya mungkin Ailee masih terlalu muda, pola fikirnya pun belum dewasa dengan sempurna, karena itu Aland selalu dengan sabar mencoba menuntun Ailee agar tumbuh dewasa dengan baik.
"Jika sesuatu yang buruk terjadi pada kamu, katakan pada ku, aku harus bagaimana?"
Seketika raut wajah Aland berubah.
Dia jelas tidak ingin lagi kehilangan, cukup dimasa lalu tidak di masa kini.
"Aku tidak bisa hidup tanpa kamu, jadi jangan lakukan hal seperti itu lagi, kamu bisa minta pada para pekerja untuk melakukan nya, bahkan bik sumi bisa membantu kamu dalam melanjutkan pekerjaannya"
Aland menyentuh lembut wajah Ailee.
"Kerjakan yang tidak menimbulkan resiko, sisanya biarkan orang-orang yang mengerjakan nya hmm"
Ucap aland lagi.
Ailee menatap dalam wajah Aland, secara perlahan dia mengangguk kan kepalanya.
__ADS_1