
Selena jelas terkejut bukan main, Seketika dia kehilangan kata-kata, hanya bisa menatap wajah bahrat yang terus menunggu jawaban dari nya.
"Will you?"
Bahrat jelas menunggu dengan sejuta pemikiran, dia benar-benar nekat membuat lamaran untuk Selena malam ini dengan pemikiran yang begitu matang. Dibalik diterima atau tidak oleh gadis itu, yang jelas bagi Bahrat dia harus berani mencoba terlebih dahulu.
Para penyanyi dan pemain musik tampak menunggu dengan perasaan was-was, beberapa orang yang berada di sekitar mereka seoalah-olah berkata TERIMA, TERIMA kepada Selena.
Seketika bola mata Selena tampak berkaca-kaca, masih berusaha menetralisir perasaan nya untuk memberikan jawaban pasti untuk laki-laki yang ada di hadapannya itu.
Sepersekian detik kemudian gadis itu mengangguk pelan sambil mengulurkan tangan kirinya, sedangkan punggung tangan kanan nya mencoba menutup Mulutnya karena masih merasa kaget dengan kejutan yang bahrat ciptakan.
Dan bisa dibayangkan bagaimana ekspresi bahrat, laki-laki itu Seketika tersenyum senang, mencoba menyematkan cincin berlian itu ke jari manis Selena.
Sepersekian detik kemudian bahrat langsung berdiri, kemudian tanpa basa-basi kedua tangan bahrat langsung menyentuh pipi Selena, kemudian bahrat langsung menautkan bibir mereka secara sempurna.
Selena secara perlahan memejamkan bola matanya, menikmati ciuman hangat yang bahrat ciptakan untuk diri nya dalam waktu yang cukup lama.
Seketika terdengar tepuk tangan gemuruh dari semua orang, dan sepersekian detik kemudian terdengar suara-suara yang Selena hapal betul siapa saja para pemilik nya.
Secepat kilat ciuman hangat mereka terlepas, Selena langsung menoleh ke asal suara-suara yang ada, lagi-lagi selena membulatkan bola matanya.
"Bagaimana mereka..?"
Jelas saja Selena terkejut setengah mati saat sadar siapa saja yang ada disamping mereka saat ini.
Keluarga besar Al Jaber berkumpul di sana, bahkan Abigail tampak sibuk merekam moment mereka sejak tadi.
"Jangan katakan ini ide Abigail"
Ucap selena ke arah bahrat.
"No sayang, ini murni ide ku untuk melakukan lamaran nya, tapi kehadiran mereka jelas adalah ide Abigail"
Jawab bahrat cepat mencoba menjelaskan sambil menahan senyumannya.
"Kami takut kamu menolak uncle bahrat, jadi Abigail bilang jika di tolak, maka kami harus membantu menguatkan uncle bahrat agar tidak melakukan aksi nekad Seperti bunuh diri misal nya karena putus cinta"
Goda Murat cepat.
Seketika semua orang Terkekeh, Selena juga Ikut terkekeh.
__ADS_1
"Doa mereka sangat mengerikan bukan sayang?"
Ucap Bahrat sambil merangkul erat tubuh Selena.
"Aku sudah bilang untie tidak mungkin menolak nya"
Aishe cepat lantas melirik ke arah bahrat.
"Uncle benar-benar merencanakan semuanya dengan begitu matang"
Goda Aishe penuh kebahagiaan.
"Dan yang cukup Sibuk membantu mencipta kan moment lamaran sempurna nya adalah BERN"
Aishe bicara sambil mengarahkan tangannya pada Bern.
Laki-laki itu terkekeh.
"Yang lain bagaimana?"
Bahrat mencoba mengangkat sebelah alisnya.
"Menunggu dengan berdebar-debar moment di terima nya lamaran sambil makan di lantai bawah"
"Okeeee... aku. rasa kita akan sibuk menentu kan tanggal pernikahan nya, lalu menentukan motif undangannya, kita juga harus sibuk mencari konsep pernikahan terbaiknya"
Murat bicara cepat sambil menepuk-nepuk punggung bahrat.
"Dia bilang ini special untuk mu"
Murat berbisik ke arah Selena.
Selena tampak mengerutkan bibirnya karena malu.
"Kita akan sangat sibukkk setelah malam ini"
Abigail berteriak senang, lantas langsung mengarahkan kamera nya ke semua orang.
"Dan aku fikir Abigail telah menemukan posisi pelabuhan nya"
Tiba-tiba Bern angkat bicara.
__ADS_1
Semua orang tampak menaikkan alisnya.
"Siapa?"
Semua bertanya secara bersamaan.
"Oh no... jangan katakan sekarang brother, aku belun tahu dia sudah punya pacar atau belum"
Abigail bicara cepat, seolah-olah takut gagal sebelum berperang.
"Oh ayolah brother, kau tahu? sebelum ada kata dia istri ku atau suami ku, kau masih punya kesempatan sebesar 80% untuk menaklukkan hati seorang gadis"
Ejek Bern cepat.
"Lalu kamu?"
Murat balik meledek.
Bern mengangkat sebelah alisnya.
"What?"
"Bagaimana dengan kamu dan putri Al Fattah?"
Goda Murat cepat.
"hahaha ayolah kak, dia masih sangat kecil dan muda"
Bern bicara cepat sambil memukul pelan bahu Murat.
"Istri ku pun masih kecil dan muda"
Murat bicara sambil merangkul Aishe, mencium lembut pipi sang istri sambil mengedipkan bola mata nya ke arah Bern.
"Isshhh sayang"
Aishe tampak malu, mencubit pelan perut Murat.
Seketika semua orang terkekeh, Bern hanya bisa cengar-cengir kuda sambil menyentuh pelan tengkuknya.
Oh shi..t malah aku yang kena.
__ADS_1
Ucap bern dalam hati dengan wajah memerah.