
Malam sebelum lamaran Eden untuk Asha.
Abigail tampak sibuk memboyong bunga dan balon dengan warna mendominasi berwarna putih, untuk warna bunga lainnya di bantu oleh deliyah dalam mencarinya.
"Apa ini cukup sayang?"
Tanya Abigail cepat sambil meletakkan kardus-kardus itu ke bagasi mobil.
"Aku fikir cukup, sebaiknya kita minta sopir dan beberapa pelayan mengangkut pianonya lebih dulu"
Saran deliyah cepat.
"Ini cukup mendadak sebabnya, takut ada banyak halangan di jalan"
lanjut Deliyah lagi.
"Oke, kita coba menghubungi salah satu sopir keluarga Al Jaber"
Ucap Abigail sambil langsung mengeluarkan handphone.
Deliyah langsung menutup pintu mobil belakang lantas berjalan ke arah samping, mengambil pesanan lampu serta beberapa lilin Yang akan mereka gunakan malam besok.
"Oke antarkan besok pagi yah pak, jangan sampai lewat dari sebelum jam makan siang"
Terdengar suara Abigail dari arah belakang Deliyah, lantas laki-laki itu menutup panggilan nya, meletakkan handphone nya ke dalam kantong celananya.
"lampu-lampu Huruf nya sudah datang?"
Tanya Abigail kemudian.
Bola mata Deliyah tampak menatap ke arah samping.
"Itu mereka"
__ADS_1
Jawab deliyah cepat sambil melambaikan tangannya.
Tampak 2 orang membawa kotak-kotak cukup besar dari arah dalam menuju ke arah deliyah dan Abigail.
Dengan gerakan cepat Abigail membuka bagasi mobilnya kembali, mulai menyusun seluruh kotak-kotak itu secara rapi.
Setelah cukup lama dan semua nya telah dipastikan cukup, mereka langsung melesat pergi dari sana menuju ke villa baru milik Eden.
"Hubungan keluarga kalian bagitu baik"
Ucap Deliyah tiba-tiba, dia melirik ke arah Abigail sambil mengembang Senyumannya, laki-laki itu tampak fokus menyetir sambil tangan kirinya terus menggenggam telapak tangan deliyah.
Cukup terkesima, meskipun Kevin pernah menyakiti mereka selama waktu yang begitu lama, tapi keluarga Al Jaber tampak begitu masih membuka pintu kekeluargaan untuk laki-laki tersebut, tidak memendam dendam bahkan beberapa kali selalu menghubungi Kevin agar kembali pulang ke kediaman Al Jaber tiap minggunya untuk berkumpul bersama.
"Meskipun tidak ada hubungan keluarga, tapi Realita nya kami telah bersama untuk waktu yang begitu lama, jadi rasanya seolah-olah Eden memang bagian dari pada keluarga Al Jaber yang harus kami perhitungkan"
Ucap Abigail sambil melirik ke arah Deliyah.
Deliyah tampak mengangguk kan kepalanya.
"Kami sudah sepakat untuk tidak membicara kan soal masa lalu lagi saat bersama Eden atau pun dikala Eden tidak ada, bagi kami kemarin anggaplah hanya mimpi buruk yang tidak mesti di kenang"
Seulas senyum mengembang dari balik wajah Abigail, kemudian tiba-tiba dia kembali melirik ke arah deliyah.
"Bukan kah yang harus kita bicarakan saat ini adalah soal masa depan kita? seperti nya di antara semua orang, kita yang paling lamban dalam melangkah"
Goda Abigail kemudian.
Deliyah tampak terkekeh.
"Aku fikir ini hal yang buruk jika kita harus saling berlomba memutuskan untuk menata masa depan di tahun yang sama"
Ucap Deliyah sambil menatap dalam wajah Abigail dari arah samping.
__ADS_1
"Biarkan yang lebih tua lebih dulu melangkah, kita yang lebih muda bisa mengalah sedikit hingga ke tahun depan"
Abigail tampak mengembang kan senyuman nya, menggenggam erat tangan Deliyah lantas mencium punggung tangan gadis itu secara perlahan dengan penuh cinta.
"Baiklah, aku akan menunggu hingga tahun depan tiba, bukan kah itu tidak lama lagi?"
Tanya Abigail sambil menoleh sejenak ke arah deliyah.
Gadis itu tampak mengulum senyumannya.
"Bagaimana jika kita bertunangan lebih dulu? ini membuat ku khawatir, bukankah kamu cukup di idolakan di rumah sakit? bagaimana jika mereka terus menggoda mu?"
Tiba-tiba Abigail tampak bertanya panik.
Deliyah terkekeh pelan.
"Sayang, aku bukan type gadis yang gampang tergoda dengan seseorang, Kamu tahu? urusan hati itu begitu kompleks, dia tidak sembarang berlabuh tanpa memiliki tingkat kenyamanan diri,jadi jangan khawatir aku akan tergoda dengan laki-laki lain sebab hati ini tahu betul siapa pemilik nya"
Abigail terus menggenggam erat telapak tangan deliyah, lagi-lagi dia menoleh ke arah deliyah.
"Oh sayang, bisa aku berhenti sekarang dan memberikan mu ciuman?"
Deliyah Terus terkekeh melihat kekonyolan Abigail.
"Sayang kita bisa melakukan nya di rumah"
"Grrhhh kamu membuat aku ingin sekali menggigit mu secara tiba-tiba"
Ucap Abigail sambil terus mencium punggung tangan Deliyah berkali-kali.
Gadis itu terus tertawa geli mendengar ucapan Abigail, bagi nya laki-laki itu acapkali bersikap konyol dan mampu mencair kan suasana yang tiba-tiba membeku, bahkan mama dan papa nya selalu berkata.
Punya Calon menantu unik bisa membuat kami awet muda.
__ADS_1