
Asha menatap bola mata nyonya Burja, wanita rentah itu sudah hampir 3 hari bangun dari koma nya, sejak kemarin selalu bertanya dimana Belle dan Kevin nya.
"Belle akan kemari malam ini untie"
Ucap Asha sambil menggenggam erat tangan nyonya Burja.
"Kevin?"
Tunggulah beberapa waktu lagi, dia sedang berada di luar negeri untie, untuk menyelesaikan beberapa urusan bisnis dari tempat kerjanya"
Nyonya Burja mengangguk senang.
"Mereka pasti tumbuh dewasa dengan baik, bahkan mungkin Belle sudah sangat dewasa Sekarang"
Ucap nyonya Burja dengan wajah berkaca-kaca.
"He em"
Asha mengangguk cepat, berusaha untuk Mulai menyuapi nyonya Burja dengan bubur.
"Tingginya hampir sama dengan ku"
Ucap Asha sambil mengingat-ingat tinggi badan Belle.
Benarkah?"
Nyonya Burja bertanya dengan nada terkejut.
"Iya, sebentar lagi bisa jadi lebih tinggi Belle dari pada diri ku untie"
Asha menyuapi nyonya Burja secara perlahan.
"Artinya aku benar-benar tertidur dalam waktu yang cukup lama"
Setelah selesai dengan kunyahan nya nyonya Burja melanjutkan ucapannya.
Asha kembali mengangguk.
__ADS_1
"He em karena itu seluruh otot-otot tulang untie menjadi kaku, sebab sudah lama tidak bergerak sama sekali"
Nyonya Burja menghela nafasnya panjang.
"Aku terlalu banyak menyusahkan Kevin"
wajahnya seketika berubah menjadi mendung.
"Tentu saja tidak,Kevin bukan type laki-laki seperti itu"
Seketika perasaan didada Asha terasa sesak, bola matanya terasa cukup menghangat.
"Apa kamu mencintai Kevin?"
pertanyaan nyonya Burja cukup mengejutkan untuk Asha, seketika wajah Asha memerah.
"Aku tidak bisa menakar hati ku untie, kadang perasaan datang dan pergi sesuka hati nya begitu saja"
Jawab Asha pelan lantas kembali menyuapi nyonya Burja.
nyonya Burja tersenyum lembut sambil menatap dalam bola mata Asha, setelah memastikan seluruh makanan nya tertelan Sempurna, nyonya Burja berkata.
nyonya Burja mencoba untuk mengingat-ingat soal Kevin.
"Dia bukan type penuntut, meskipun orang-orang bisa mendapatkan apapun yang mereka inginkan dari orang tuanya, dia tidak pernah buka suara dalam mengingankan sesuatu, dia akan diam-diam mencari pekerjaan sepulang sekolah, mengumpulkan uang untuk membeli keinginan nya, tapi lucu nya ketika Aliya sang kakak perempuan tiba-tiba membutuhkan sesuatu, dia dengan sukarela memberikan tabungan nya pada kami dan berkata Pakailah, aku belum begitu menginginkan nya"
"Dia begitu ceria, melompat kesana-kemari dengan banyak bercerita soal cita-cita nya, kau tahu nak apa yang dia cita-cita kan dulu?"
Nyonya Burja menatap dalam bola mata Asha.
Gadis itu menggeleng pelan.
"Aku ingin menjadi pilot ma, sebab saat aku bisa terbang melintasi dunia, aku ingin membawa serta kalian didalam perjalanan nya"
Kenang nyonya Burja, Seketika air matanya tumpah.
"Tapi semua nya pupus saat ayah nya meninggal, dia bilang aku akan menanamkan semua keinginan didasar laut yang paling dalam, menerbangkan harapan agar terseret angin entah menuju kemana, anggaplah Kevin tidak punya cita-cita, asalkan bisa hidup dengan baik dan melihat mommy dan Aliya baik-baik saja itu sudah jauh lebih dari cukup untuk ku"
__ADS_1
"Semua harapan dan cita-cita nya benar-benar melebur bersama angin seiring waktu, dia bahkan mulai tidak banyak bicara setelah waktu itu"
Seketika air mata nyonya Burja tumpah tidak terelakkan, Asha dengan cepat memeluk wanita itu didalam keheningan.
Tapi sepersekian detik kemudian tiba-tiba seseorang membuka pintu kamar depan.
"Asha?"
Salah satu rekan nya berkata cepat.
"Ya?"
Asha mengerutkan keningnya.
"Aku harus keluar sejenak, akan ada dokter lain yang menjaga untie mengganti kan ku"
Nyonya Burja mengangguk cepat.
Asha dengan langkah tergesa-gesa keluar dari kamar itu, dia fikir mungkin ada pasien darurat yang harus dia urus.
"Ada apa?"
"Kau tidak akan percaya ini"
Ucap laki-laki di hadapannya itu.
Asha masih teris mengerutkan keningnya.
"Laki-laki itu bangun dan terus menyebut nama mu"
"Siapa?"
"Memang nya siapa lagi?"
Seketika Asha membeku, lantas dia tersadar kemudian secepat kilat dia berlarian menyusuri tiap sudut rumah sakit meninggalkan rekan nya tadi.
Benarkah? benarkah?
__ADS_1
Tubuh Asha tampak gemetaran, seketika air matanya tumpah tanpa bisa dia bendung lagi.