
Masih di ruang operasi.
Salah satu dokter tengah melakukan pengecekan darah, mempersiapkan kemungkinan terburuk yang bisa-bisa terjadi nanti.
Setiap tindakan operasi tidak terlepas dari resiko, salah satunya adalah kehilangan volume darah. Bila jumlahnya sangat besar hingga ditakutkan akan mengganggu hemodinamika tubuh, transfusi menjadi opsi dan jalan keluar. Karena itulah setiap orang yang di operasi, terutama untuk operasi besar yang membutuhkan waktu lama dan beresiko mengenai pembuluh darah yang besar, kantung darah untuk transfusi akan dipersiapkan untuk "jaga-jaga" apabila nantinya diperlukan.
Sebelum dilakukan tranfusi akan dilakukan cross-check terlebih dahulu apakah darah pendonor dan penerima adalah "match", untuk meminimalisir adanya reaksi transfusi. Walaupun sebagian besar orang tidak mengalami masalah saat dan setelah transfusi, berbagai komplikasi termasuk reaksi alergi, cedera paru dan graft vs. host disease (kondisi ketika sel darah putih yang diterima menyerang jaringan tubuh orang yang menerima darah) dapat beraikbat fatal.
Sedangkan Asha terus melakukan tahap anestesi (Pembiusan) pada Eden, sejak tadi dia berusaha untuk memfokuskan diri dengan situasi, mencoba untuk terus menenangkan diri meskipun awalnya tangannya terus bergetar tidak ingin berhenti.
Asha meminta sang papa untuk memimpin semuanya, dia menggeleng perlahan sebelum memulai semuanya, dia tahu dia mungkin bisa membunuh Eden dalam ke panikan nya.
__ADS_1
"Maafkan aku"
Ucap Asha pelan dengan mata berkaca-kaca.
Beberapa dokter hanya mengangguk, mereka tahu Asha hanya gadis muda yang meskipun sudah punya jam terbang tapi tidak sebanyak jam terbang mereka, tidak heran ketika menghadapi orang yang di anggap penting dalam hidupnya, Asha akan mundur secara perlahan.
Entah sudah berapa lama mereka berada di ruangan operasi, bahkan bola mata Asha tidak ingin berhenti menatap mesin monitor di samping kiri nya itu, mata nya terus seja melirik ke arah sana, apalagi saat sang papa mulai membuang peluru di perut Eden, Asha hanya bisa menelan salivanya dengan kasar.
Peluru nya cukup tertanam dalam di Perut Eden, semua kondisi didalam ruangan terlihat begitu serius, hanya terdengar suara monitor yang terus mengatur kontrol jantung Eden, pernafasan nya masih terlihat normal hingga pada akhirnya kepanikan mulai sampai ke arah mereka.
Salah satu dokter berkata cepat, bergerak cepat berusaha untuk melakukan transfusi darah, kepanikan terus melanda karena tiba-tiba layar monitor mulai memainkan garis yang tidak beraturan.
Asha berusaha untuk mundur beberapa langkah.
__ADS_1
Papa Asha mulai mengambil paddles dari sisi samping alat, memastikan defibrillator dalam keadaan kering dan papa nya mulai memberikan gel disana, mendekati Eden lantas mulai menekan kedua sisi jantung Eden.
Keadaan mulai menjadi kacau, suara monitor mulai semakin memekakkan telinga,Air mata Asha jelas perlahan tumpah, masih bisa dia lihat bagaimana usaha semua dokter untuk mengembalikan kesadaran Eden, tapi berkali-kali papa nya memberikan alat kejut jantung,
semakin membuat hati dan Jantung Asha ikut merasa begitu sakit.
Tidak....tidakkkk
Asha berusaha untuk menutupi kedua belah telinganya, suara monitor itu semakin menekan keadaan Asha, seketika dia mencoba membuka pintu depan dengan gerakan kasar, menutup nya secara perlahan, Asha bersandar di balik ruang operasi yang dilapisi 2 kali pintu kaca yang bisa di geser, air matanya benar-benar tumpak tidak tertahannya.
Apa kau akan pergi? jangan lakukan itu, aku mohon! jangan bercanda dengan ku.
__ADS_1
Asha menurunkan tubuh nya dibalik pintu, menangis sejadi-jadinya di sana tanpa bisa dia tahan sama sekali, dia fikir kenapa air matanya bahkan tidak ingin berhenti mengalir sesuai kemauan nya.