
Belle secepat kilat turun dari stage, mencoba mencari sosok Bern yang pergi menjauh entah kemana, bola matanya terus menelusuri tiap sudut tempat, langkah kaki Belle terus berlarian mengitari kafe itu.
Belle fikir tidak mungkin Bern marah, ngambek dan meninggalkan dirinya seorang diri hanya karena kejadian tadi.
Hingga akhirnya Belle melangkah dengan perasaan kacau balau menuju ke arah parkiran, mencoba untuk memastikan jika mobil Bern masih ada disana.
Seketika senyuman di bibirnya mengembang saat melihat mobil Lamborghini berwarna hitam kelam itu masih berada di sana.
Dengan cepat Belle mendekati mobil itu dan mencoba mengintip.
Lagi-lagi senyum Belle mengembang, dengan posisi mesin mobil menyala laki-laki itu tampak bersandar sambil memejamkan bola matanya, secepat kilat Belle membuka pintu mobil dan naik ke samping Bern.
Bern langsung membuka bola matanya saat menyadari kehadiran Belle.
"Sudah selesai?"
Tanya Bern pelan, lantas secara perlahan mulai melajukan mobilnya dan menjauh dari sana.
Sejenak Belle memiringkan kepalanya, menatap dalam-dalam wajah Bern,dia fikir apa Bern tidak dalam keadaan marah? bukankah tadi terlihat begitu marah? bahkan langsung keluar meninggalkan dirinya.
"Ada apa?"
Bern bertanya tapi enggan menoleh ke arah Belle.
"Om marah?"
Belle semakin memiringkan kepalanya, dia meletakkan tangan nya lebih dulu kemudian membiarkan kepalanya menduduki punggung tangannya tepat di atas dashboard mobil lantas menatap dalam bola mata Bern.
"Tidak"
Bern bicara sambil terus fokus menyetir, membelokkan mobilnya ke arah kanan.
"Om marah"
Goda Belle lagi.
Di mengulum senyum, bisa di lihat wajah laki-laki itu tampak mengeras, tapi Belle bisa membaca karakter Bern, laki-laki itu jelas bukan type laki-laki yang suka berlaku kasar atau melampiaskan kekesalan dengan Melakukan kekerasan pada perempuan, Bern jelas hanya memendam kemarahan nya sendiri didalam hati.
Bern menghela kasar nafasnya.
"Tidak sayang"
Ucap nya lantas menoleh ke arah Belle, menampilkan Senyuman nya yang jelas terlihat begitu di paksa, kemudian Bern kembali fokus menyetir.
Belle terus menatap wajah Bern sambil terus mengulum senyum.
"Jangan melihat ku seperti itu"
Ucap Bern risih, dia pura-pura terus menatap lurus kedepan, padahal didalam hati cukup senang gadis kecil itu berlaku se imut itu pada nya.
__ADS_1
"hmmm"
Belle hanya ber hmmm ria, lantas mulai membenahi posisi duduknya.
Selama diperjalanan Bern tampak diam membeku, enggan bicara pada nya, sesekali belle melirik ke arah Bern lantas menghembuskan nafas nya berat.
Saat tiba di parkiran apartemen laki-laki itu hanya berjalan membukakan pintu mobil nya lantas melangkah mendahului dirinya.
Ishhhh
Belle diam mematung di belakang Bern sejenak, menatap punggung laki-laki itu yang melangkah menjauh.
"Bilang tidak marah, tapi jelas dia marah"
Omel Belle pelan.
kemudian tiba-tiba Belle berteriak kecil.
"Akkhhhh"
Dia pura-pura membuat kaki kanan nya tertekuk sempurna dengan membuat Hells nya masuk ke dalam salah satu lubang besi gorong-gorong / Siring apartemen.
Bern langsung menghentikan langkahnya, menatap kaget saat Belle tahu-tahu duduk sambil memegang kakinya, secepat kilat laki-laki itu berlarian mendekati Belle.
"sakit? lepaskan kaki mu dari sandalnya...tunggu sebentar"
Bern tampak bicara sedikit panik, mencoba melepaskan sandal belle secara perlahan, lantas dengan gerakan cepat tangan nya menyentuh kaki Belle, mencoba melihat bagian mana yang terluka.
Belle pura-pura berteriak kesakitan, dia meringis beberapa waktu.
"Tidak bisa jalan? sangat sakit kah?"
Tanya nya dengan ekspresi panik.
Belle mengangguk Cepat.
Secepat kilat Bern membalikkan tubuhnya, menyerahkan punggung nya ke arah Belle.
"Naikkan tubuhmu kemari"
Seketika Belle mengulum senyumnya, menatap wajah Bern yang tampak panik melihat kaki nya.
"Aku begitu berat"
Ucap Belle cepat.
"Tubuh mu tidak lebih dari setengah tubuh ku, sayang"
Bern bicara cepat, mencoba meraih tangan Belle.
__ADS_1
"Naiklah, kamu sama sekali tidak berat untuk ku"
"Hmmm"
Belle secara perlahan meraih punggung Bern, meraih leher Bern dan menyandarkan tubuh serta kepalanya dipunggung Kokok laki-laki itu.
Bern bangun dengan cepat.
"Sandal nya?"
"Kita akan membelinya lagi nanti, itu tidak penting, yang lebih penting merawat kakimu yang terkilir"
Bern bicara cepat lantas mulai berjalan ke arah tangga lift.
Belle mencoba menahan tawanya, memeluk erat leher Bern sambil menatap dalam wajah laki-laki itu dari sisi kanan nya.
"Tidak malu menggendong ku hingga ke atas?"
Goda Belle sambil memperhatikan lekuk wajah Bern.
"Tidak"
Jawab Bern cepat.
"Kenapa tadi langsung pergi, om cemburu?"
Tanya Belle cepat, kemudian jari telunjuk nya mengarah ke pipi kanan Bern.
Saat laki-laki itu spontan menoleh, jemari kecil itu masuk ke dalam pipinya.
"Kalau ada lesung pipinya, pasti lebih tampan"
Ucap Belle tiba-tiba.
"Ya?"
Bern menaikkan sebelah alisnya.
"Jangan cemberut, aku lebih suka lihat om tersenyum"
Seketika Bern kembali menatap ke arah depan, terus menggendong Belle hingga masuk ke dalam lift.
"Aku menolaknya"
Bisik Belle lagi kemudian, lantas mempererat pelukannya di leher Bern.
Seketika laki-laki membeku, kembali menoleh ke arah Belle.
Belle langsung membenamkan wajahnya di antara tengkuk dan bahu Bern, memejamkan secara perlahan bola matanya.
__ADS_1
Bern tampak diam, sepersekian detik kemudian tiba-tiba dia mengembangkan Senyuman nya yang begitu dalam.