
Belle tampak diam menatap langit-langit kamar mereka,sejenak dia mencoba membuat beberapa garis di langit-langit melalui jemari nya, kata-kata Bern soal pendidikan dan masa depan terus mengganggu fikiran nya sejak pagi tadi.
Sejak tadi dia sama sekali tidak bisa memejamkan bola matanya, belum lagi Bern yang entah pergi kemana.
Bagi Belle Setelah melangsungkan pernikahan memilih untuk melanjutkan pendidikan kuliah jelas tidak mudah, apalagi jika dirinya tiba-tiba hamil, akan ada proses panjang yang harus dia hadapi, bahkan Belle pastinya butuh proses adaptasi yang betul-betul ekstrim. Baik dari kehidupan peribadi maupun sosial nya.
Dia tidak pernah membicarakan nya pada Bern karena tahu akan ada banyak persiapan dan resiko-risiko yang harus dia hadapi kedepan nya, meskipun ada keinginan untuk melanjutkan pendidikan tapi hati nya jelas ragu untuk melangkah.
Beberapa kali Belle mencoba menarik nafasnya, dia fikir pendidikan mungkin tidak begitu di butuhkan bagi seorang istri dan calon ibu, namun realitanya saat dia harus ikut terjun ke perusahaan, jelas dia membutuhkan nya.
"Sayang"
Tiba-tiba suara Bern mengejutkan lamunan nya.
"Hmm?"
"Kemarilah"
Sejenak Belle menaikkan sebelah alisnya, dia beranjak dari tidurnya, duduk sejenak lantas langsung mendekati Bern.
"Ikut dengan aku sebentar"
Ucap bern lantas menggenggam erat telapak tangan Belle.
"Kita mau kemana?"
Belle bertanya bingung sambil menatap dalam wajah Bern.
__ADS_1
"Malam-malam begini?"
Lanjut Belle lagi.
"Sssttt"
Bern meletakkan jari telunjuknya ke bibir Belle.
"Kita akan lihat setelah ini"
Belle tampak diam, mengikuti langkah kaki Bern yang membawa nya menuju ke arah mobil mereka.
Diantara Dingin nya angin malam dan pekat nya langit malam, sang suami mengajak Belle entah menuju ke arah mana, membelah jalanan Jakarta menuju ke tempat yang Belle tidak pahami sebenarnya kemana.
Belle tampak diam, sebab sedari tadi Bern juga tampak diam saja, tidak bicara sepatah katapun selema disepanjang perjalanan mereka.
"Bee?"
"Hmm?"
Bern menggenggam erat tangan nya beberapa waktu.
"Kita mau kemana? apa masih jauh?"
"Hmmm me satu tempat, tidak begitu jauh, tunggu lah sebentar lagi"
Mendengar jawaban Bern, Belle hanya menganggukkan kepalanya, lantas berusaha menyandarkan punggungnya di kursi mobil itu.
__ADS_1
Cukup lama dalam perjalanan, hingga akhirnya mereka tiba di sebuah tempat yang cukup gelap, entah dimana namun kesan nya membuat Belle merasa sedikit menegang dan merinding.
"Bee?"
Saat Bern membuka pelan pintu mobil dari sisi Belle, mencoba meraih tangan Belle dan membawanya keluar, secepat kilat Belle menggenggam erat telapak tangan Bern.
Laki-laki itu terkekeh melihat ekspresi takut Belle.
"Jangan takut, kita akan menemui seseorang"
Belle menaikkan alisnya.
"Come sayang"
Secara perlahan Belle mencoba meraih tangan Bern, kakinya mulai mengikuti langkah laki-laki itu melewati rerumputan di sepanjang Halaman yang di penuhi rumput gajah itu.
Mereka memasuki tempat yang Belle tidak pahami tempat apa itu sebenarnya, lantas mereka memutar menuju ke belakang, tampak sebuah bangunan tidak berpenghuni berdiri kokoh di hadapan mereka.
Bern secara perlahan menuntun belle masuk kesana, membuka pintu bangunan itu secara perlahan.
Yang awalnya gelap tiba-tiba berubah menjadi terang benderang.
Seketika bola mata Belle membulat, menatap cukup tidak percaya dengan pemandangan yang ada di hadapannya.
Dia menggenggam erat telapak tangan Bern dalam beberapa waktu.
"Ini..."
__ADS_1
Belle sejenak kehilangan kata-kata.