
"Tidak ingin tidur lagi?
Tanya bern pelan sambil menatap dalam bola mata Belle setelah sesi ciuman hangat dan panjang tadi.
Gadis itu mengangguk pelan sambil membenamkan wajah nya di dalam dada bidang Bern, ekspresi belle cukup malu karena ciuman tadi.
"Ada yang ingin aku bicarakan, ini mungkin terdengar terlalu cepat"
ucap bern kemudian.
"Hmm?"
Belle tampak menaikkan ujung alisnya, dia mendongak perlahan.
"Kita akan mengambil kunjungan ke keluarga Al Fattah di uni emirat Arab dalam Minggu ini"
Bern mencoba bicara secara perlahan, tangan Kokok nya secara perlahan menyentuh lembut wajah Belle.
"Mari mempercepat pernikahan nya"
Ucap Bern dengan nada serius, menatap dalam bola mata Belle, menunggu jawaban gadis itu dengan perasaan berdebar-debar.
"Apa kamu keberatan?"
Bern bertanya lagi sambil terus mengelus wajah Belle.
__ADS_1
Belle tampak diam, mencoba menatap balik bola mata Bern.
Seketika Belle mengembangkan senyumannya, dia menggeleng cepat.
"Tentu saja tidak, untie Ayana bilang agar tidak menunda hal baik terlalu lama"
Sepersekian detik kemudian gantian Bern yang mengembangkan senyuman nya.
"Katakan pada ku dengan jujur, Apa kamu merasa tertekan jika kita benar-benar menikah? jika kamu keberatan dan masih ragu, kita masih bisa menghentikan nya"
Belle dengan cepat menggeleng kan kepalanya, lantas dengan perlahan mencoba menyamakan posisi mereka, kedua belah tangan belle langsung menyentuh wajah Bern.
"Aku tidak keberatan, karena aku sudah memikirkan nya dengan begitu matang jauh sebelum hari ini sejak Daddy Fattah berkata jika kita akan menikah"
Ucap Belle cepat.
Tanya Belle cepat.
Bern menggeleng kan kepalanya.
"Karena disini"
Belle menyentuh pelan dada Bern.
"Aku mendapatkan semuanya didalam diri ini, mulai dari sosok ayah, sosok paman, sosok kakak, sosok teman hingga sosok orang yang bergitu spesial di hati ku"
__ADS_1
Sejenak Bern terdiam mendengar ucapan Belle.
"Aku mencari sosok lengkap itu di dalam diri seseorang yang ingin bersama ku, sebab aku tidak pernah mendapat kan nya selama ini, karena itu aku menolak juan saat menyatakan perasaan nya"
"Tapi Hal terpenting adalah Aku menyadari bahwa pasangan ku nanti bukan sosok pengganti orang tua melainkan pendamping hidup,"
Ucap Belle lagi.
"Hanya saja jika memang pernikahan ini berjalan lancar hingga hari H aku ingin kamu ingat soal sesuatu, kita memiliki selisih usia yang cukup jauh"
"Menjalin hubungan bahkan menikah dengan kondisi selisih usia yang terpaut jauh dengan pasangan tentu memerlukan banyak penyesuaian. Bahkan tak menutup kemungkinan timbul konflik yang berbeda dengan mereka yang menikah dengan usia yang terpaut jauh"
"Mungkin akan ada potensi konflik dalam perkawinan dengan jarak umur terlalu jauh. Potensi konflik ini bisa muncul dalam masalah ego, pengambilan keputusan, proses interaksi, pemenuhan kebutuhan lahir batin yang juga bisa berbeda"
“Potensi konflik bisa muncul dalam hal stabilitas emosi antara yang muda dan yang tua. Karena kamu lebih tua umumnya punya tingkat kematangan yang lebih tinggi, sehingga frekuensi emosi pun lebih tenang dan tidak meletup-letup, sedang kan aku pasti nya masih begitu labil, belum cukup matang dalam mengambil keputusan dan bisa jadi gampang meletup-letup ketika mencapai puncak emosinya"
"Bisa jadi aku akan merajuk lama saat segala sesuatu tidak sesuai kemauan ku, bisa jadi aku akan bersikap ke kanak-kanakan, bisa jadi aku akan menuntut kamu agar lebih banyak mengalah pada ku, karena itu.."
Belle kembali menyentuh dada Bern.
"Maka mari sama-sama bersabar melakukan penyesuaian ekstra dan upaya memahami situasi bersama hingga aku mencapai usia paling matang dalam diriku"
Ucap Belle lagi sambil terus menatap dalam bola mata laki-laki itu.
Bern tersenyum lebar lantas mengangguk kan cepat kepalanya.
__ADS_1
"Kita akan melewati masa-masa itu dengan baik bersama"