
Seketika semua keluarga besar Al Jaber dan faith Yildiz tertawa terbahak-bahak, cukup tidak percaya dengan kabar berita yan lirik-liriknyag disampaikan oleh murat dan aishe.
"Jad gadis kecil ini hamil?"
Tanya Aland sambil mengusap lembut rambut Aishe, memeluk sang adik dengan jutaan kebahagiaan, cukup tidak percaya jika sang adik hamil hampir secara bersamaan dengan sang istri Ailee.
Murat tampak mengangguk senang.
"Kenapa baru memberi tahukan nya sekarang?"
Protes Selena.
"Kami baru bisa memberi tahukan nya Sekarang, sebab ada banyak sekali kesedihan yang bergelayut membuat kami berfikir untuk tidak membicarakan nya lebih dulu"
Murat berusaha untuk menjelaskan.
"Benar juga"
Jawab Selena pelan sambil mengangguk-angguk kan kepalanya.
Yah beberapa waktu kemarin benar-benar terasa kacau, tidak ada satu hal pun yang bisa membuat hati menjadi lebih tenang, bahkan semua orang di Landa jutaan ke khawatiran.
"Untungnya kamu baik-baik saja, tidak Heran malam itu kamu Tiba-tiba pingsan sayang"
Aland menepuk-nepuk punggung aishe kemudian melepaskan pelukannya secara perlahan.
Ailee tampak antusias, langsung memeluk untie Aishe nya itu dengan jutaan kebahagiaan. lantas Menyentuh lembut perut sang untie beberapa waktu.
"mereka akan lahir tidak berjauhan waktu, itu berarti keluarga besar kita akan sangat sibuk sekali"
Bahrat bicara cepat sambil mengelus kepala Aishe dan ailee bergantian.
"He em"
Aishe mengangguk cepat.
Di belakang sana bik Sumi dan seorang pelayan tampak sibuk menyiapkan makan malam, menata meja makan dengan sedemikian rupa. Hari ini mereka berkumpul di rumah keluarga Faith Yildiz untuk melangsungkan acara makan malam bersama.
"Kevin dan Bern seperti nya belum datang?"
Selena tampak melirik ke arah depan, meraih handphone nya berusaha untuk menghubungi dua orang itu.
__ADS_1
"Abigail mana?"
Tiba-tiba Murat bertanya sambil menaikkan alisnya.
"Dia tengah merawat luka di bibirnya"
tiba-tiba terdengar sahutan dari arah depan, Bern tampak berjalan masuk sambil menggenggam erat tangan Belle.
"Ya?"
Selena mengerutkan keningnya.
"Ada apa dengan bibirnya?"
Alih-alih menjawab, Bern malah terkekeh. Membiarkan Belle duduk di samping Aishe.
"Kalian tidak akan percaya kekonyolan dirinya"
Bern melirik ke arah Belle.
Gadis itu ikut terkekeh.
"Uncle Abigail sedang berjuang mendapatkan kak deliyah"
"Jadi uncle menggunakan alasan paling logis untuk melakukan pendekatan dengan cara melukai dirinya sendiri"
Lanjut Belle.
"What?"
Jelas saja semua orang tampak terkejut.
"Ok aku baru tahu dia sekonyol itu"
Bahrat tampak ikut terkekeh, membayangkan betapa konyol nya keponakan nya satu itu dalam bertindak demi menarik perhatian seseorang.
"Aku fikir itu kak Kevin"
Tiba-tiba Belle menoleh, saat mendengar suara mobil yang terdengar tidak asing di depan sana.
"Sayang, untie Fikir kamu harus mengubah panggilan mu pada Kevin, dia uncle mu bukan kakak mu"
__ADS_1
Selena bicara cepat sambil mengelus kepala Belle.
Gadis itu tersenyum.
"Aku sering lupa, agak sulit mengubah panggilan dari kakak ke uncle"
Keluh Belle pelan.
"Pelan-pelan saja, lama-lama akan terbiasa"
Ucap Aland cepat.
"Hmm"
Belle tampak mengangguk.
"Apa kalian akan menginap? bukan kah besok libur akhir pekan? aku rasa kalian harus menginap disini"
Aland bicara cepat lantas menoleh ke arah semua orang.
"Bukan ide buruk"
Bern yang tadi nya tengah berbincang dengan Murat langsung menjawab santai lantas meneruskan obrolan nya pada Murat kembali.
"Kita bisa langsung membicarakan soal konsep pernikahan uncle bahrat dan untie Selena besok"
Sahut Aishe cepat.
Semua orang tampak mengangguk.
Dari arah pintu masuk tampak Kevin Burja berjalan masuk bersama Asha, mengembangkan senyuman saat melihat semua orang telah berkumpul didalam.
"Seperti nya kita cukup terlambat"
Ucap Kevin sambil mendekati semua orang.
"Tidak juga"
Aland menjawab dengan cepat, tampak berdiri dan berjalan ke arah belakang memastikan semua menu makan malam telah tersaji dengan sempurna.
"Sudah siap bik?"
__ADS_1
Aland bertanya pada bik Sumi.
Wanita itu mengangguk cepat, tampak raut kebahagiaan di wajah wanita itu saat melihat semua orang yang tadinya bermusuhan kita terlihat begitu akrab dan merasa tidak asing antara satu dengan yang lainnya.