Putri Perawan Milik Daddy Season 2

Putri Perawan Milik Daddy Season 2
Masihlah seorang ibu


__ADS_3

Kembali ke masa Kemarin


Malam setelah aries tertembak


Malika berlarian cepat menuju ke rumah sakit bersama aima, mendapatkan berita soal aries yang sekarat jelas membuat dirinya cukup shok.


Meskipun dia sudah tahu konsekuensi yang bakal dia dapatkan sejak kemarin, tapi realita nya dia masihlah seorang ibu, seorang wanita yang pernah melahirkan anak-anak nya, yang pernah memberikan jutaan cinta, kasih dan sayang nya, yang pernah menggendong anak laki-laki nya penuh dengan cinta, saat mendengar kabar soal putra nya jelas jiwa ke ibuan nya muncul dan dia menangis histeris.


Meskipun tidak tampak di luar tangisan histeris nya tapi dari dalam jelas dia begitu terluka dan hancur.


Malika jelas tahu, dia merupakan orang tua paling gagal dalam mendidik anak-anak nya, seharusnya sejak awal dia sudah bisa menakar mana yang terbaik, mana yang terburuk yang harus dia ambil langkah nya.


Tapi kadang Malika tahu, realita nya mungkin bukan hanya dia, kebanyakan sosok ibu-ibu di dunia ini lebih baik mengalah, tidak memilih bercerai dengan Karl agar anak-anak tidak kehilangan sosok Daddy nya,memilih menahan keadaan meskipun dia acapkali merasa tidak tahan, memilih bertahan padahal sudah lama dia ingin tumbang.


Malika acapkali menutup kedua bola matanya, membiarkan Karl menggapai has..rat nya dan keserakahan nya, awalnya mungkin dia sempat mengingatkan tapi karena Karl jelas sosok yang keras kepala dan suka memukul, Malika hanya bisa diam menggigit bibirnya, menatap nanar wajah laki-laki itu setiap kali laki-laki itu berbuat kecurangan.


Seketika Tubuh Malika jelas bergetar saat menyadari jika beberapa orang dokter Menyeret branker dorong berisi tubuh seorang laki-laki yang dia yakini adalah putra nya Aries.


Kaki nya melangkah cepat setengah berlari, mencoba mengejar langkah mengikuti beberapa perawat yang membawa aries.

__ADS_1


Aima ikut berlarian mengejar langkah Malika dari arah belakang, menatap khawatir Malika yang tidak bersuara sejak tadi, ketakutan besar jelas menghantam nya, dia takut perempuan itu mulai kehilangan kesadaran nya.


"Nyonya keluarga pasien?"


Seorang perawat menghentikan langkah Malika saat wanita itu mencoba memaksa masuk ke ruangan operasi.


"Saya Mommy nya"


Jawab Malika cepat, bola mata nya terus fokus menatap tubuh aries yang diseret masuk ke dalam, pintu secara perlahan mulai di tutup.


"Kondisi pasien kritis, kita akan upayakan penyelamatan ekstra, nyonya bisa menunggu di ruangan tunggu"


Secepat kilat Malika meraih telapak tangan perempuan muda di hadapannya itu.


"Bantu aku menyelamatkan dirinya"


Bola mata Malika tampak berkaca-kaca.


"Kami akan berusaha semaksimal mungkin, nyonya"

__ADS_1


Mendengar kata-kata sang perawat seolah-olah memang tidak ada harapan untuk sang putra selamat dari keadaan.


Ada berapa luka tembakan yang melesat dan tertanam di dalam tubuh aries? dia tidak tahu, tapi beberapa orang yang membawanya berkata cukup banyak, bahkan disepanjang koridor rumah sakit darah aries jelas berceceran dimana-mana.


Malika melepaskan genggaman tangannya dari perempuan muda itu, dia berbalik lantas melangkah gontai ke arah samping menuju ke ruangan tunggu.


Dia duduk secara perlahan di salah satu kursi di sana.


"Realita nya mungkin aries tidak dapat di selamat kan"


Malika menoleh ke arah Aime dengan bola mata berkaca-kaca, kemudian tiba-tiba ekspresi wajahnya berubah, genangan air mulai terlihat di kedua belah pelupuk matanya.


"Bukankah sejak awal aku sudah menguat kan hati untuk melepas kan aries? lalu kenapa rasa nya sakit sekali?"


Seketika air mata Malika tumpah, dia mulai menangis tersedu-sedu sambil memukul dada nya beberapa kali.


"Malika"


Aima langsung meraih tubuh wanita itu, memeluknya erat sambil ikut menangis terisak didalm sana, suara tangis mereka menggema di seluruh ruangan tunggu itu, beberapa orang yang ingin masuk tampak mengurung kan langkah mereka untuk masuk, ikut bersandar di balik tepian dinding atau pintu, merasa hati mereka remuk redam saat mendengar tangisan yang memilukan itu.

__ADS_1


__ADS_2