
Belle langsung masuk ke dalam pelukan Eden seketika setelah dia sampai ke kamar ruang inap sang kakak diikuti oleh kak Asha nya.
Air mata nya jelas tumpah ruah saat tahu Eden baik-baik saja, padahal beberapa malam sebelum nya mereka jelas terhantam ke khawatiran dan tangisan saling bersahutan, belum lagi dirinya yang tiba-tiba jatuh pingsan tanpa alasan.
"Kakak membuat ku khawatir"
Ucap Belle sambil terisak.
"maafkan kakak karena membuat kamu khawatir, Belle"
Ucap Eden sambil mengusap wajahnya ke kepala Belle.
Belle mengangguk pelan, kemudian langsung melepaskan pelukan nya.
"Kami punya kejutan untuk kakak"
Ucap Belle kemudian.
Sejenak Eden mengerutkan keningnya, menatap bingung ke arah Belle dan Asha secara bergantian.
"Ada yang ulang tahun?"
Tanya Eden tiba-tiba.
__ADS_1
Belle dan Asha tampak terkekeh.
"Coba tutup mata mu, sayang"
Bisik Asha pelan.
Eden tampak diam, kemudian secara perlahan mencoba menutup matanya.
"Jangan dibuka sebelum aku memberikan instruksi untuk di buka"
Bisik Asha pelan.
"Baiklah"
Eden tampak terkekeh.
Ucap Eden sambil terus tersenyum penuh penasaran.
Dari arah balik pintu tampak sosok mama Eden berjalan perlahan memasuki ruangan, dibantu oleh Asha terus berjalan mendekati Eden.
Bola mata sang mama tampak berkaca-kaca, tubuh nya kelihatan gemetaran, dia berulang kali menoleh ke arah Asha, seolah-olah berkata jika laki-laki itu memang kevin Burja putra nya, yah itu adalah kevin nya, Kevin yang begitu dia rindukan.
Bola mata Belle dan Asha tampak ikut berkaca-kaca,bahkan Belle berulang kali mengusap air mata diwajah nya.
Secara perlahan mama nya duduk di samping Eden, mengulurkan tangannya dengan gemetaran, mencoba meraih wajah yang dipenuhi bulu-bulu diwajahnya.
__ADS_1
Seingat mama nya, kali terakhir bertemu sang putra, laki-laki itu masih begitu muda, tidak banyak mengeluh bahkan juga begitu ceria. Wajah nya belum sedewasa sekarang, bahkan tubuh nya tidak seberisi ini, jauh lebih kurus dan kecil, tapi meskipun begitu wajah dihadapannya itu sedikit pun tidak berubah.
Kedua belah telapak Tangan tua itu menyentuh hangat wajah eden secara perlahan, seketika air mata sang mama benar-benar tumpah.
"Bukalah mata mu, sayang"
Eden secara perlahan membuka bola matanya, seketika dia terdiam, suara nya tercekat, wajah nya yang awal nya penuh senyuman tiba-tiba berubah seketika, bola mata Eden tampak mulai berkaca-kaca, sepersekian detik kemudian terdengar isakan tangis di balik bibirnya.
"Ma....ma..."
Eden jelas menangis terisak, langsung menyentuh wajah tua itu secara perlahan, kemudian menyentuh bahu sang mama secara bergantian. Mencoba memastikan diri jika dia tidak sedang bermimpi.
Berapa lama dia menunggu? menunggu untuk sang mama bangun dari tidur panjang nya. lama sekali, yah sangat lama sekali, hampir seumuran Belle.
Belasan tahun bukan waktu sebentar, di iringi seringnya nafas sang mama datang dan menghilang, Hingga acapkali Eden merasa kehilangan harapan saat beberapa dokter sering berkata mungkin sudah waktunya mereka melepaskan semua selang-selang di tubuh mama nya.
Tapi Eden berusaha untuk menyakinkan diri, mama nya pasti baik-baik saja, satu hari sang mama pasti akan bangun karena merindukan mereka.
"Ma.."
Secepat kilat Eden meraih tubuh mama nya, memeluk wanita itu dengan perasaan yang bercampur aduk jadi satu diiringi tangisan mereka yang pecah bersamaan, diikuti Belle dan Asha yang terus melepas kan air mata mereka.
******
Tuhan, Aku harap ini bukan mimpi, sebab aku terlalu lama bermimpi hingga acapkali tiap bangun dari tidur ku, aku takut ini semua hanyalah mimpi atau bahkan halusinasi.
__ADS_1
Eden