
Bern menatap dalam wajah Belle sambil tangannya terus mengelus lembut rambut sang istri, sejak tadi malam Belle sama sekali belum terjaga dari tidurnya hingga pagi ini, hanya ada beberapa kali pergerakan atau bahkan beberapa kali belle mengeratkan pelukannya pada Bern.
Se lelah itu kah sang istri.
fikir Bern.
Laki-laki itu terus memperhatikan lekuk wajah Belle, sejenak Bern menyentuh lembut pipi dan bibir Belle untuk beberapa waktu
Beberapa waktu kemudian sang istri kembali menggeliat pelan, menggeser tubuhnya Sejenak kemudian secara perlahan bola mata itu terbuka.
"Ng ."
"Morning sayang"
Sapa Bern sambil mencium lembut bibirnya.
Sejenak Belle terkejut saat Bern tiba-tiba mencium lembut bibirnya, sejenak Belle mencoba membiasakan bola matanya kemudian Belle menatapi wajah Bern untuk beberapa waktu, dia baru ingat laki-laki itu kini adalah suaminya, Dan tiba-tiba Ingatan Belle soal sesi panas serta mendebarkan semalam membuat memerah wajahnya seketika.
Suara manja dirinya, rengekan nya, perlakuan Bern yang begitu lembut dan penuh kasih sayang serta sesuatu yang....
Akhh benar-benar memalukan untuk dirinya.
"Morning my bee"
Ucap Belle lantas berusaha untuk menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal nya, tidak tahu kenapa tapi rasa malu jelas terasa memenuhi dirinya.
Bern tampak tertawa geli melihat ekspresi Belle, secara perlahan laki-laki mencoba mendekati wajahnya ke wajah Belle.
"Kenapa hmm?"
Bisik Bern begitu lembut, seketika suara laki-laki memenuhi pendengaran Belle.
jemari Bern secara perlahan merapikan rambut Belle.
"Tidak ada hal yang mesti membuat kamu malu hmm"
Belle masih menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal lembut milik nya.
__ADS_1
Sejenak Belle tampak menyadari soal sesuatu, buru-buru dia menyembulkan kepalanya.
"Kita ada dimana?"
Belle seketika mulai menyadari keadaan jika mereka tidak berada di kamar merek semalam.
"Didalam pesawat"
Ucap Bern pelan.
"Ah benar kah? Kenapa aku tidak menyadari nya?"
Tanya Belle lagi.
Bern jelas mengulum senyum mendengar kan pertanyaan Belle.
"Itu karena kamu kelelahan, aku tidak tega membangunkan kamu semalam saat kita berangkat"
"?Hmmm"
Belle tampak mengangguk-angguk kan kepalanya.
"Masih sakit"
Tanya Bern tiba.
"Masih terasa nyeri?"
Tanya Bern lagi.
Sejenak Belle tampak diam, lalu dia mengangguk pelan.
"He em"
"Maafkan aku jika menyakiti kamu"
Belle dengan gerakan cepat menggeleng kan kepalanya.
__ADS_1
"Tidak, kamu sekalipun tidak pernah menyakiti aku, Bee"
ucap Belle cepat.
"Bukan kah semalam kewajiban? aku sama sekali tidak pernah merasa tersakiti"
Bern tersenyum ke arah Belle, lantas secara perlahan membenahi posisi kepala Belle agar naik ke atas lengan nya.
"Katakan pada ku sayang, setelah acara nikahan uncle Bahrat dan Selena, aku fikir akan mengajak mu untuk mendapatkan liburan khusus untuk kita berdua, ada tempat yang ingin kamu kunjungi sejauh ini?"
Mendengar pertanyaan Bern, sejenak Belle diam sambil berusaha berfikir.
"Hmmm boleh aku memikirkan nya dulu?"
Tanya Belle sambil menatap dalam bola mata Bern.
Laki-laki itu mengangguk cepat.
"Tentu saja"
Belle langsung mengembangkan senyumannya
Dia fikir memang ada beberapa tempat yang ingin dia kunjungi, tapi sepertinya memang butuh 1 tempat istimewa dan spesial yang harus mereka datangi nanti, untuk dijadikan tempat dan moment paling bersejarah di dalam hidupnya.
Sejenak Belle menatapi wajah Bern, laki-laki itu terlihat tersenyum ke arah nya lantas perlahan memejamkan bola matanya, jemari Belle secara perlahan menyentuh wajah sang suami, lantas sepersekian detik kemudian Belle mencium lembut bibir laki-laki itu.
"Terima kasih Bern"
Seketika Bern membuka bola matanya,dibalik keterkejutan nya terselip rasa senang karena Belle mencoba menghilangkan rasa canggung di antara mereka.
"Untuk?"
Laki-laki itu bertanya sambil mengerutkan keningnya.
"Banyak hal yang telah kamu berikan untuk ku beberapa waktu ini"
Jawab Belle lantas dia memejamkan bola matanya secara perlahan.
__ADS_1
Bern lagi-lagi mengulum Senyuman nya, sepersekian detik kemudian secara lembut dia mulai menautkan bibir mereka untuk waktu yang cukup lama.