
Saat mereka tiba di lokasi kafe ...... Jakarta dimana teman-teman Belle membuat janji pertemuan makan malam, dengan gerakan cepat Bern membuka pintu mobil Belle, dia mencium lembut puncak kepala Bella sambil berkata.
"Aku akan menunggu di sisi kiri bersama beberapa teman, ingat jangan nakal"
Sambil jemari Bern merapikan rambut Belle dengan lembut.
Belle mengangguk cepat sambil melebarkan senyumannya,lantas gadis kecil itu ingin beranjak tapi Bern dengan cepat menarik lengannya.
"Hmmm?"
Belle bertanya sambil mengerutkan dahinya, mencoba mendongak menunggu apa yang ingin dikatakan Bern.
Tapi tidak sesuai yang Belle fikirkan, Bern tiba-tiba menyentuk pipi Belle dan lagi-lagi dengan cepat menyambar bibir Belle untuk beberapa waktu, kali ini tautan nya bahkan begitu lembut dan dalam.
"Om.."
Rengek Belle, dia fikir beberapa hari ini, laki-laki itu selalu saja menyambar bibirnya tanpa izin.
Bern meletakkan jari telunjuknya ke arah bibir nya.
"Ishhh om ah"
Omel Belle dengan wajah memerah lantas dengan gerakan cepat segera pergi dari sana sambil melambaikan tangannya dengan sejuta Senyuman.
Bern tampak mengulum senyumannya, tidak tahu kenapa belakangan Belle terasa seperti candu bagi nya, semakin dekat dengan gadis kecil itu semakin membuat dirinya jadi seperti orang gila.
Sejenak Bern menggelengkan kepalanya, dia memijat lembut ujung kepalanya lantas beranjak dari sana untuk menemui beberapa teman-teman nya.
Beberapa teman Mafia nya tampak berbaur layaknya orang normal, berkumpul bersama, memesan makanan dan minuman, tidak ada sisi sangar atau garang, yang ada hanya sisi hangat dan obrolan Normal seperti manusia pada umumnya.
Bola mata Bern sejenak menangkap segerombolan bocah laki-laki seumuran Belle, tampak heboh dan geru, berjalan dari arah samping hingga berakhir duduk di kursi lain yang ada di hadapan kumpulan mereka.
Bern dan yang lainnya masih sibuk mengobrol dan berseloroh bersama, bercerita soal perempuan milik masing-masing atau gadis yang tengah mereka incar.
"Kami dengar kau tinggal 1 apartemen dengan seorang bocah kecil Bern?"
__ADS_1
Salah satu dari mereka bertanya.
"Bukan kah itu keberuntungan? masih tersegel rapi?"
Seloroh salah satu dari mereka, beberapa waktu kemudian terdengar tawa yang pecah.
"Kau tidak perlu mencarinya di pusat pelelangan"
Salah satu temannya tampak bicara sambil menyesap minumannya.
"Dia bukan gadis yang aku beli"
Bern tampak tidak suka Belle di samakan dengan gadis yang tidak baik.
"Bukankah anak-anak sekarang lebih memilih menjadi sugar baby demi uang?"
Bern menaikkan ujung bibirnya.
"Dia tidak menjual diri"
Ucap bern cepat sambil meraih rokoknya.
"Tidak ada yang harus aku jelaskan dengan detail, yang jelas dia bukan gadis seperti itu"
Ucap bern sambil menyalakan pamatik nya lantas langsung menyulut rokok miliknya.
"Jangan bilang kamu jatuh cinta pada gadis itu"
Tanya seseorang di antara mereka pada Bern.
Alih-alih menjawab, Bern hanya menarik ujung bibirnya, dia menghisap pelan rokoknya.
"Ekspresi nya cukup membuat kita menebak"
Kata seseorang nya lagi.
__ADS_1
Bern hanya terkekeh.
Saat mereka tengah asik mengobrol, tiba-tiba Bern menaikkan ujung alisnya, menyadari sesuatu jika di hadapan mereka terdapat bocah laki-laki yang mendatangi Belle ke apartemen nya.
Juan?
Sekumpulan Bocah-bocah laki-laki itu tampak begitu heboh dan antusia, menyiapkan sesuatu yang entah apa, sebuah kotak berwarna pink dan Boneka harimau.
"Kau yakin akan menembak Belle?"
Salah satu teman Juan bertanya.
Juan tampak mengangguk kan kepalanya.
"Ini waktu yang cukup tepat"
Ucap Juan antusias, tidak menyadari jika ada sosok Bern di belakangnya.
"Aku akan melakukan nya sekarang"
Juan bicara lantas dengan gerakan cepat langsung berjalan Menuju ke arah samping.
Seketika bola mata Bern membulat, rahang nya mengeras.
Tembak? maksudnya cara bocah menyatakan cinta?
Bern bertanya Didalam hati.
Dengan gerakan cepat Bern berdiri dari posisi duduknya.
"Bern?"
"Ada apa?"
Tanpa mempedulikan semua orang laki-laki itu melesat cepat menuju ke arah dalam.
__ADS_1
Kau ingin cari mati dengan ku bocah.
Umpat Bern dalam hati.