Putri Perawan Milik Daddy Season 2

Putri Perawan Milik Daddy Season 2
Sosok hebat di balik anak-anak yang hebat


__ADS_3

Aishe mulai memukul-mukul kaki nya, rasa lelah jelas menerjang nya sejak kemarin. Mondar-mandir ke uni emirat Arab hingga masuk ke pernikahan uncle bahrat dan untie Selena.


Mereka ingin pulang tadi pagi tapi mengingat tamu susulan banyak yang masih berdatangan pada akhirnya mereka kembali di sore hari Minggu ini.


Di ruang bawah Aishe berusaha menyandarkan tubuhnya di atas kursi sofa, menunggu Murat menurunkan barang-barang mereka.


Saat murat selesai meminta para pelayan membawa seluruh barang-barang mereka ke atas, sejenak bola mata nya melihat sang istri terus memukuli kakinya, Murat dengan cepat meraih tubuh Aishe.


"Sayang?"


Aishe cukup terkejut saat Murat mengangkat tubuh nya, Aishe mencoba memegang erat leher Murat.


"Hari ini beristirahat lah dengan cukup, jangan kemana-mana lagi, untuk makan malam biar aku yang minta pelayan untuk mengurusnya"


Ucap Murat sambil membawa Aishe menaiki satu persatu anak tangga menuju ke kamar mereka di atas.


"Tapi.."


Aishe merasa cukup berdosa karena dia terus mengabaikan untuk mengurusi makan sang suami selama beberapa hari ini.


"Sayang, itu bukan perihal yang harus begitu dipermasalahkan, jika dalam kondisi fit dan tidak sibuk kamu boleh menyiapkan semua makanan ku bahkan seluruh kebutuhan ku hmmm, tapi dalam kondisi sibuk dan lelah kamu boleh mengabaikan nya"


Murat berjalan perlahan memasuki kamar, menutup pintu kamar dengan satu kakinya.


"Tapi beberapa..."


Belum pula selesai Aishe bicara, Murat langsung menautkan bibir mereka sejenak, lantas dengan gerakan pelan dia meletakkan tubuh Aishe ke atas kasur mereka.

__ADS_1


"Tidak boleh membantah ucapan suami"


Seketika Aishe mengerutkan bibir nya.


"Ini demi kesehatan mu dan dia"


Ucap Murat sambil mengelus lembut perut Aishe.


"Jangan sampai kita menyesali sesuatu karena memaksakan diri dan mengabaikan diri nya, bagi ku di bandingkan mengurusi makanan ku atau kebutuhan ku, kesehatan kalian jauh lebih penting"


Murat mencoba membuat pengertian pada Aishe.


Seketika sang istri terdiam.


"Maafkan aku, aku hampir lupa dengan kondisi ku sendiri"


Sesal Aishee.


Murat bicara sambil tersenyum kearah Aishe, mencoba membenahi posisi tidur sang istri agar menjadi senyaman mungkin.


Kemudian dengan cepat laki-laki mulai memijat tubuh Aishe.


"Sebaiknya besok kita pergi ke dokter, mungkin kamu butuh sedikit vitamin karena terlalu banyak melakukan aktifitas dalam beberapa hari ini"


Murat bicara sambil memijat kaki Aishe.


"He em"

__ADS_1


Aishe mengangguk kan pelan kepala.


"Sayang"


Ucap Aishe tiba-tiba.


"Hmm Kenapa?"


"Aku fikir jika kondisi tubuh kita sudah cukup fit, sebaiknya kita mengunjungi makan mommy dan Daddy"


Saat Aishe berkata begitu, Seketika Murat terdiam.


"Kita sama-sama belum pernah saling memperkenalkan diri kita pada orang tua kita bukan?"


Tanya Aishe cepat.


"Ada pepatah yang berkata, Apa yang kita tanam itu yang akan kita tuai, bagaimana kita memperlakukan orang tua kita, seperti itu juga anak-anak kita akan memperlakukan diri kita"


Ucap Aishe sambil menatap dalam wajah Murat.


"Meski pun mereka telah tiada, bukankah karena mereka kita bisa menjadi sosok seperti hari ini? tanpa mereka bukankah kita bukan siapa-siapa?"


Seketika Murat menelan salivanya.


Benar juga, selama menikah sekalipun mereka belum pernah mengunjungi makan orang tua mereka, kadang kala karena banyak nya kesibukan, Anak-anak lupa jika dulu sebelum mereka menjadi sedewasa ini dan sehebat sekarang ini, ada sosok penting yang terus menggenggam erat tangan mereka sejak kecil hingga dewasa.


Sosok-sosok hebat yang tidak pernah mengeluh dalam membesarkan anak-anak mereka, sosok-sosok hebat yang terus mendorong putra-putri mereka agar menjadi bagian dari pada orang-orang hebat yang menyandang berbagai macam status dimuka bumi ini.

__ADS_1


"Kita akan mengunjungi mereka di akhir Minggu ini"


"He em"


__ADS_2