
4 jam sebelum nya.
Ketika semua orang selesai didalam persiapan.
Didalam salah satu mobil menuju ke lokasi Club malam dan Casino O'Hara.
"Kau terlambat, Vina"
Winda mengerutkan keningnya, menatap sang teman yang merupakan tim khusus Milik demon Angle's.
"Terjadi sedikit kesulitan sebelum masuk bersama kalian"
"So?"
Winda tampak bingung.
"Tidak ada rompi anti peluru, kita tidak mungkin memutar balik"
"Kau bisa menggunakan milik ku"
Eden tiba-tiba menawarkan miliknya, melepaskan nya dengan gerakan cepat.
"Itu cukup berbahaya untuk mu sayang"
Ucap eve cepat.
"Kau akan masuk ke sarang O'Hara"
lanjut eve lagi.
"Lebih berbahaya ketika perempuan tidak menggunakan nya"
Eden menjawab Santai.
Sejenak Vina menatap rompi anti peluru yang di berikan laki-laki itu.
__ADS_1
"Laki-laki punya seribu nyawa cadangan"
Eden mengembangkan senyumannya.
Aland meninju pelan bahu Eden.
"Kau yakin?"
Eden menatap laki-laki itu sejenak.
"23 tahun bergulat dengan senjata bersama Karl, aku beberapa kali sering terkena tembakan dan masih juga belum mati hingga hari ini"
Eden bicara sambil terkekeh.
Ingatan nya kembali pada Belle, gadis kecil itu selalu terampil mengobati luka nya ketika dia pulang Tiba-tiba membawa hasil tembakan luar biasa di tubuhnya.
Awal nya gadis kecil itu menangis, dengan tangan gemetaran mencoba belajar mengobati dirinya setelah di latih beberapa kali oleh Asha.
Hingga pada akhirnya Belle terbiasa bergulat dengan luka yang Eden dapatkan, gadis kecil itu merawat nya tanpa pernah bertanya dari mana dia mendapat kan luka-luka itu sebelumnya.
Eden tiba-tiba merindukan sosok gadis itu, yang selalu memanggil nya kakak padahal sebenarnya Belle adalah keponakan nya, putri dari kakak perempuan nya.
Kembali ke waktu ini.
Mereka tiba di sebuah tempat Dimana Halaman nya terlihat cukup luas dengan bangunan tua didalamnya, tampak bangunan itu dikelilingi oleh pagar kayu dan tembok serta di jaga ketat oleh beberapa orang bertubuh kekar di sekelilingnya.
Mereka bergerak cepat mencoba masuk kedalam dengan cara mengendap-endap.
"Posisi Rajawali?"
Murat mencoba bertanya dimana posisi Bern saat ini.
"10 menit menuju lokasi"
__ADS_1
Terdengar sahutan Bern dari ujung earphone mereka.
"Kami bergerak lebih dulu"
Ucap Murat cepat.
"Aku benci mengatakan ini, tapi aku ingin Karl benar-benar merasakan siksaan yang tidak berkesudahan"
Eden tertawa kecil, padahal sebenarnya hatinya cukup merasa sedih jika ingat soal ayahnya, ibunya, kakak nya, valentine bahkan Belle, belum lagi penderitaan Ailee yang dia tidak pahami Seperti apa sebelum nya, Eden tahu Aland tidak mungkin langsung jatuh cinta pada gadis kecil itu begitu saja. Pasti ada proses sakit lebih dulu untuk bisa sampai hingga ke jenjang pernikahan.
"Aku berharap dia tidak mati dalam keadaan cepat, dia harus merasakan betapa sakit nya menderita seperti kita"
Murat bicara cepat.
Bahrat Terkekeh.
"Aku harus jadi saudara yang kejam untuk brother ku, menyelesaikan nyawanya tanpa berfikir 2-3 kali"
Seketika mereka kembali bergerak masuk secara perlahan, Eden memberi kode jika dia melesat lebih dulu, membinasakan laki-laki yang ada di sisi kanan bangunan.
Kondisi cukup gelap sehingga sedikit mempermudah untuk mengecoh para penjaga, eden dengan gerakan cepat langsung membekap laki besar itu dengan tangannya lantas dalam sekali gerakan langsung memutar leher Laki-laki itu.
Kraakkkk
Di lain sisi Murat dengan gerakan cepat menghantam salah satu penjaga disisi kiri bangunan.
Kemudian secara perlahan mereka mencoba mengintip kedalam, terlalu banyak orang tanpa bantuan yang seimbang, pada akhirnya mereka mencoba untuk memutar ke arah belakang, mencoba masuk dari jalur yang lebih aman.
Mereka masuk dengan cara memanjat ke atas, turun perlahan mengendap masuk melewati pintu belakang. Lagi-lagi mereka harus menghabisi 2 orang di bagian penjagaan pintu masuk.
Krakkk
2 pengawal itu tumbang seketika.
Saat mereka mencoba masuk ke dalam, seketika mereka membulatkan bola mata mereka.
__ADS_1
"Oh my God"
Ucap Bahrat dengan ekspresi tercekat.