
Karl jelas terbelalak kaget saat tahu siapa yang ada didalam mobil itulah, Bern secepat kilat mengarahkan moncong pistolnya ke kepala Karl, sedangkan Winda dan Aland secepat kilat keluar memberikan bantuan Murat dan lainnya, diikuti anggota Bern yang ada di mobil belakang.
"Kita bertemu lagi, uncle Karl"
Bern bicara sambil berjalan turun dari mobil nya, menarik kasar tubuh laki-laki itu lantas memukul nya hingga tersungkur ke lantai.
Bern jelas tidak ingin langsung menembak Karl, dia fikir terlalu gampang untuk menikmati kematian semacam itu, bern jelas ingin sekali melampiaskan terlebih dahulu kemarahannya.
"24 tahun breng..sek"
Buggggg
Hantaman telak mengenai rahang Karl, laki-laki paruh baya dengan tubuh Kokoh itu lagi-lagi tersungkur ke lantai.
Kemarahan Bern jelas sampai hingga ke ubun-ubun, ingatannya saat dia dibuang di tepian jurang di Manhattan kembali terpatri di kepalanya, bagaimana dia terperosok terjatuh di jurang itu dengan cara yang sangat mengerikan.
"Kau membuat menderita di luaran sana"
Bern sedikit berjongkok menarik kerah baju Karl dengan gerakan kasar lantas menghantam wajah laki-laki itu tanpa ampun.
Bugggggg
Karl kembali tersungkur, mencoba menghapus darah di bibir nya yang bercucuran, laki-laki itu terkekeh, berusaha untuk bangun.
"Kau tahu Ali dan Bahrat merebut semua milik ku, jadi jika aku membuat mereka tersiksa antara satu dengan yang lainnya, itu bukan masalah"
Bugggg Karl dengan cepat memukul wajah kanan Bern.
Tidak seberapa tapi cukup membuat bibir Bern mengeluarkan darah segar meskipun sedikit.
"Pantas kata mu? cihh"
Bern membuang ludah nya.
__ADS_1
Buggggggg
Bern menghantam wajah karl dengan bogem nya.
"Tidak salah kakek menghapus mu dari daftar keluarga Al Jaber, dia tahu se ekor an..Jing yang terbiasa memakan kotoran, akan tetap memakan kotoran meskipun di pakaikan pakaian mahal sekalipun"
Bern tertawa menatap Karl.
"Aku bahkan kasihan pada kehidupan mu, tidak dikelilingi cinta bahkan oleh orang-orang terdekat mu"
"Apa?"
Mendengar ucapan Bern, Karl tampak begitu marah, dia berusaha menghantam wajah Bern tapi...
Kletakkkk
Bern meraih pistol di pinggang nya.
Doorrrr
Sebuah tembakan melesat ke paha kanan Karl,darah segar mengalir dari balik celana yang digunakan Karl.
"Kau....."
Karl jelas terkejut, meringis kesakitan dengan ketidak berdayaan nya.
"Aku ingin sekali menikmati rasa derita mu yang luar biasa, rasa tembakan ini tidak sebanding dengan derita yang aku alami 24 tahun yang lalu"
Bern kembali menarik pelatuk nya.
Dorrrrrrr
"Akhhhhh"
__ADS_1
Karl berteriak histeris.
Tembakan kembali melesat di paha kiri Karl.
"Aku ingin lihat bagaimana rasanya kamu merangkak memohon untuk meminta antara kehidupan dan kematian"
Bern bicara sambil duduk sedikit menjongkok dihadapan Karl.
"Bahkan 2 kaki mu belum sebanding dengan penderitaan semua orang"
ucap bern sambil meletakkan pistolnya di wajah Karl.
Laki-laki tua itu meringis kesakitan, menahan rasa sakit yang luar biasa di antara hidup dan mati.
"Sekarang katakan pada ku, dimana putra kesayangan mu?"
Bern bertanya cepat ke arah Karl.
Tapi belum genap hitungan detik Bern bertanya, tiba-tiba seseorang berteriak dari arah belakang.
"Hello saudara sepupu"
Beberapa orang yang tengah bertarung jelas sontak menoleh secara bersamaan.
Bola mata Bern jelas membulat seketika, Aland dan Eden tampak tercekat, Murat dam bahrat yang baru saja melesatkan pukulan nya pada anak buah O'Hara langsung menghentikan gerakan mereka.
"Ailee, Belle?"
Suara Eden jelas tercekat di tenggorokan nya.
Aries menyeret paksa 2 gadis kecil itu dengan cara yang begitu kasar.
"Baji..ngan"
__ADS_1
umpat Eden kasar.