
Saat semua langkah kaki terdengar memekakkan telinga di area rumah sakit salah satu Jakarta, orang-orang mulai memindahkan tubuh eden ke atas branker stretcher (ranjang dorong rumah sakit), sepersekian detik kemudian suara branker stretcher rumah sakit mulai di dorong dengan langkah ter gesa-gesa hingga gesekan roda dan lantai terdengar cukup memekakkan telinga.
Kepanikan memenuhi wajah Belle, gadis itu berlarian mengejar langkah para perawat yang mulai membawa tubuh sang kakak menuju ke ruang operasi.
Aland, Murat dan Bern ikut lari mengejar langkah, saat Belle ingin masuk ke dalam ruangan operasi namun dihalangi oleh beberapa orang, Bern dengan cepat meraih tubuh Belle yang masih terus menangis terisak.
Asha sejenak tampak tertegun, panggilan darurat untuk mendapatkan jadwal Operasi malam ini berakhir di satu sosok yang begitu dia kenal, Seketika kakinya menjadi lunglai, dia nyaris tidak bisa berdiri dengan Sempurna, mencoba berpegangan pada salah satu dokter di samping nya.
Wajah Asha Seketika memucat, tubuhnya tampak gemetaran.
"Kevin!"
Satu kalimat halus muncul dari balik bibirnya.
"Kamu bisa melakukan nya"
Teman sesama pekerja mencoba terus memegangi tangan Asha, berbisik sambil menepuk punggung gadis itu pelan.
Asha berusaha melangkah masuk kedalam ruang operasi, masih dengan langkah linglung dan bingung dia masuk dan menunggu pintu tertutup.
"Fokus, kau bisa membunuhnya jika tidak fokus dan melakukan sedikit saja kesalahan"
Sang papa bicara sambil menepuk pundak Asha, menunggu gadis itu menggunakan sarung tangan nya dan memintanya untuk segera memulai Operasi.
__ADS_1
Asha langsung tersentak kaget, mencoba menekan kesadaran nya, dengan cepat menggunakan sarung tangan nya dan menggunakan semua perlengkapan nya dibantu oleh seorang perawat.
"Yang sabar"
Perawat itu bicara sambil merapikan Seluruh perlengkapan Asha.
Siapa yang tidak kenal sepak terjang hubungan kedua orang itu, bahkan perjuangan Asha untuk menarik hati laki-laki itu.
Asha telah lama jatuh cinta pada laki-laki dingin yang tidak banyak bicara itu sejak usia remaja nya, hilir mudik kerumah sakit selain demi belajar juga demi bisa melirik laki-laki itu, bahkan belasan tahun berharap bukan waktu sebentar untuk diri gadis itu bertahan menunggu.
Bahkan karena Kevin sama sekali tidak bergeming membalik hati hingga akhirnya Asha rela menerima lamaran dari laki-laki lain beberapa waktu sebelumnya, hingga akhirnya kesempatan baru datang dalam beberapa waktu, tapi sepertinya keberuntungan tidak berpihak pada gadis berwajah oriental itu.
"Siap?"
Para tim lain sudah sibuk memasangkan seluruh peralatan di tubuh Eden hingga ke alat bantu pernafasan nya.
Semua orang telah bersiap melakukan tahap operasi untuk mengeluarkan peluru terlebih dahulu.
Asha menggeleng pelan menatap sang papa, dia sanggup bergerak di meja operasi untuk semua orang, tapi untuk Eden dia jelas tidak mampu melakukan nya.
Sang papa tampak diam, melanjutkan tugas dan kewajiban nya sebagai seorang dokter.
Ketika di meja operasi ada 2 kata yang tertanam di hati mereka.
__ADS_1
BERHASIL ATAU GAGAL.
HIDUP ATAU MATI.
Saat semua terus berlangsung, bola mata Asha terus menatap layar monitor yang ada di samping kanan Eden, ketakutan terbesar nya saat mereka gagal dan menarik garis tidak beraturan itu menjadi garis lurus dengan mengeluarkan suara yang memekakkan telinga.
Sekelebat ingatan Asha di malam itu saat Eden datang berkunjung.
"Aku tidak pandai memilih hadiah"
Eden bicara sambil memberikan Sebuah kota bludru di hadapannya, saat dia membukanya tampak sebuah kalung indah yang bertengger disana.
Sepersekian detik kemudian Eden secara lembut menautkan bibir mereka, begitu hangat dan dalam.
Lalu saat tangan kokoh itu mengikat kan kalung itu ke lehernya, Eden berbisik dengan lembut.
"Tunggulah aku pulang, aku akan menemui papa mu, lalu kita akan kembali ke Itali dan memulai semua nya dari awal disana"
Seketika senyuman Asha mengembang sempurna, dia fikir penantian nya selama ini tidak berakhir sia-sia, tapi....
"Kau membohongi ku sekali lagi"
Ucap Asha sambil memejamkan bola matanya, sebulir kristal kembali tumpah di kedua belah pipinya.
__ADS_1