Putri Perawan Milik Daddy Season 2

Putri Perawan Milik Daddy Season 2
Barakallahu fi umrik


__ADS_3

Sejenak Belle mengintip dari arah lantai atas, menunggu sang suami yang mulai masuk melalui lobby bawah menuju ke apartemen mereka.


Belle mengembangkan senyumannya, secepat kilat dia kembali ke kamar apartemen lantas menutup pintunya.


Dengan cepat Belle mematikan seluruh lampu apartemen kemudian langsung bersembunyi di dapur.


Bern Tampak mulai berjalan menuju ke arah pintu lift, beberapa security dan orang-orang mulai menyapa dirinya, Bern seperti biasa hanya mengangguk pelan tanpa melebarkan senyumannya.


Laki-laki itu jelas selalu bersikap dingin pada siapapun di luaran sana, dia hanya ramah pada teman-teman nya dan begitu hangat pada sang istri.


Saat memasuki lift dia tampak masih sibuk mengobrol dengan seseorang dari balik handphone nya.


"Pernikahan nya insyaAllah di Minggu depan, jadi kami akan Pergi 2 hari setelah pernikahan nya selesai"


Ucap bern melalui handphone.


"Ok aku akan membicarakan nya pada istri ku"


Setelah berkata begitu Eden langsung mematikan handphone, bola mata nya menatap orang-orang di sekitaran lift.


Tringgggg


Seketika pintu lift terbuka, dengan gerakan cepat Bern keluar dari sana, bola matanya terus menatap lurus ke depan berjalan menuju ke apartemen nya.


"Good night sir"


"Night sir"


Beberapa orang terdengar menyapa Bern, laki-laki itu hanya menganggukkan kepalanya untuk menyahut sapaan orang-orang di sekitar nya.


Saat tiba di pintu apartemen nya,Bern Dengan gerakan cepat menekan angka nomor intercom kamar apartemen mereka.


Tittttt


Titttt


Titttt


Titttt


Titttt


Titttt

__ADS_1


Kletek


Seketika pintu apartemen terbuka.


Seluruh ruangan tampak begitu gelap, seketika Bern mencari saklar lampu dan menyalakan lampu depan.


"Sayang?"


Jelas Bern menaikkan ujung alisnya, dia fikir tumben seluruh ruangan menjadi gelap, di mana sang istri Belle berada.


"Sayang? kamu didalam?"


Bern mencoba menelusuri kamar, dia menghidupkan lampu kamar secara perlahan, masuk ke dalam kamar mandi nya namun sama sekali tidak menemukan Belle.


Bern secepat kilat merogoh kantong nya, mendapatkan handphone milik nya dan mencoba menghubungi Belle, namun yang dia dapatkan suara handphone sang istri berada di atas kursi sofa depan.


Lagi-lagi Bern mengerutkan keningnya.


Bern dengan gerakan panik langsung memeriksa seluruh isi ruangan, mengulang nya dari kamar utama, kamar mandi didalam kamar, kamar tamu, kamar mandi tamu, berbelok ke arah kamar mandi utama hingga berakhir ke arah dapur yang gelap.


Dia mencoba mencari saklar lampunya dan....


Klekkkkk


Seketika bola mata Bern membulat saat melihat seluruh area dapur dihias sebegitu rupa mendominasi berwarna merah, Belle tampak berdiri sambil membawakan cake ulang tahun yang lilinnya langsung dia Sulut dengan pamatik.



Bern tampak tidak percaya, dia tertawa saat melihat wajah bee, kepanikan nya yang tadi berubah menjadi sebuah kebahagiaan yang tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata.


"Sayang?"


"Happy birthday to you....."


Ucap Belle lantas mendekati Bern.


"Kamu mengerjai aku sayang"


Belle langsung menyanyikan lagu happy birthday sambil mendekati Bern, sang suami dengan gerakan cepat memeluk Belle dari belakang, berkali-kali Bern mencium pipi Belle.


"Sekarang tiup lilinnya dan buat permohonan"


Ucap Belle sambil menoleh ke arah kanan nya.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan memejamkan bola mata, membuat harapan besar untuk kita"


Ucap Bern lantas memejamkan bola matanya.


Kemudian Bern membuka kembali bola matanya, dia mulai meniupkan lilinnya.


"Barakallahu fi umrik"


"Semoga Allah memberi berkah atas umurmu."


Ucap Belle cepat


"Jazakallahu khairan"


"Semoga Allah membalas dengan kebaikanmu." 


Jawab Bern cepat.


"Terima kasih banyak sayang"


Seketika Belle mengembangkan senyumannya.


"Jadi seharian bilang ada teman yang datang menyiapkan ini semua?"


Bern bertanya lantas menyingkirkan cake ulang tahun yang ada di tangan Belle, laki-laki itu dengan cepat menarik pinggang sang istri.


Bell tekekeh, dia mengangguk cepat.


"Tidak menghubungi aku seharian dan tidak boleh aku pulang ke apartemen karena ini?"


lagi-lagi belle mengangguk.


"Maafkan aku"


Ucap Belle sambil menarik telinganya dengan kedua tangannya.


Bern tersenyum senang, langsung menyingkirkan tangan Belle dari kedua telinga nya, kemudian bern menautkan kening mereka.


"Aku akan memberikan mu hukuman"


Bisik Bern cepat, kemudian dengan gerakan cepat laki-laki itu menggendong Belle dari sana menuju ke kamar mereka.


"Sayang...."

__ADS_1


Belle merengek manja.


 


__ADS_2