
1 1/2 jam sebelum makan malam di keluarga Faith Yildiz
Abigail berjalan dengan cepat menuju ke apartemen Bern, saat dia menekan bell intercom rupanya Belle yang membukakan pintu apartemen.
"Uncle?"
Belle tampak bingung menatapi kedatangan Abigail yang tampak tergesa-gesa.
"Oh sayang, rupanya kamu disini?"
Abigail bicara cepat,memberikan Belle pelukan hangat lantas melepaskan nya dan berjalan masuk ke dalam.
"Dimana suami mu?"
Goda Abigail.
Wajah Belle tampak memerah.
"Uncle, kami belum menikah"
"Tapi kalian tinggal bersama"
Ucap Abigail sambil terkekeh.
Belle memegang pelan belakang tengkuknya.
"Tapi dia tidak pernah macam-macam dengan ku kok"
Abigail langsung menoleh ke arah Belle lantas berbisik.
"Hati-hati, laki-laki itu acapkali terbangun di pagi hari"
"Ya?"
Belle tampak tidak mengerti dengan ucapan uncle Abigail nya itu.
"Bern, apa kalian tidak sebaiknya mendapatkan surat nikah secara agama? aku cukup khawatir jika kalian tinggal bersama?"
Bern yang baru selesai mandi tampak mengerutkan dahinya, agak terkejut karena malam-malam begini ada di apartemen mereka.
Alih-alih menjawab Bern malah balik bertanya.
"Kamu tidak bersiap? bukankah kita akan mendapatkan makan malam di rumah Aland?"
"Setelah ini"
Jawab Abigail cepat.
"Tapi sebelumnya kita bahas soal hubungan kalian, aku bilang sebaiknya kalian mendapatkan surat pernikahan secara ke agamaan, ini membuat ku khawatir saat melihat kalian tinggal bersama"
Abigail jelas menatap Bern dengan pandangan kekhawatiran, dia fikir itu cukup tidak baik untuk mereka, ditambah lagi Bern seorang CASANOVA, Abigail fikir sedikit tidak masuk akal jika dia tidak tergoda untuk menyentuh Belle, meskipun baru lulus SMA, tubuh Belle jelas tumbuh kembang dengan sempurna dari atas hingga ke bawah.
Tubuh imut-imut berisi, ranum, cantik, padat dan polos, catat POLOS, tentu saja akan gampang di manfaatkan oleh Bern.
Bern tampak diam, meraih pakaian yang telah di siapkan Belle untuk dirinya di atas kursi sofa di sisi kasur.
__ADS_1
Sejenak dia menoleh ke arah belle, gadis itu seperti salah tingkah.
"Aku fikir itu bukan ide buruk"
Ucap bern sambil menggunakan baju kaos nya.
"Ya?"
Belle jelas terkejut dengan ucapan Bern.
Bern dengan cepat mendekati Belle, menyentuh wajah gadis itu lantas tersenyum ke arah nya.
"Apa itu ide yang buruk?"
Dia menatap dalam wajah Belle.
Gadis itu tampak mendongak, ikut menatap dalam bola mata Bern, sejenak dia diam kemudian dia mengembangkan senyumannya.
"Aku akan bilang pada daddy mu"
Belle tampak mengangguk pelan, masih agak Bingung dengan keadaan.
Dia fikir apa ini lamaran?
Tapi terkesan aneh dan mendadak sekali.
Seolah-olah tahu apa yang di fikirkan Belle, Bern berbisik pelan.
"Ini bukan lamaran resmi"
Mungkin terdengar gila, tapi karena laki-laki semalam yang menghubungi Belle, tiba-tiba Bern merasa tidak Sudi jika ada laki-laki lain yang memiliki nya, bahkan ide Abigail membuat dia ingin cepat-cepat mengikat Belle, agar tidak ada satu orang pun yang boleh mengganggu Belle hingga kedepannya.
Bern masih mencoba menanyakan hati nya, tapi yang jelas dia tidak ingin orang lain berada disekitar Belle.
Dia tidak berfikir untuk meniduri gadis kecil itu, tapi yang jelas dia menginginkan Belle, dan tidak ingin ada orang lain yang membawa Belle kemanapun tanpa seizin nya, Apalagi laki-laki yang tidak dikenalnya.
"Lalu jelaskan pada ku, ada apa dengan mu saat ini."
Bern menaikkan alisnya, bertanya ada apa dengan Abigail malam ini yang tiba-tiba datang ke apartemen nya.
"Pukul aku"
Tiba-tiba jawaban Abigail yang cukup tidak masuk akal memenuhi pendengaran Bern.
"Ya?"
Bern menaikkan ujung alisnya.
"Apa kamu gila?"
Bern bertanya bingung ke arah Abigail.
"Jangan banyak tanya, pokoknya pukul wajah ku dengan keras, biarkan hingga bibirnya mengeluarkan darah dan sedikit terluka"
Bern dan Belle saling menoleh, masih belum paham me arah mana pembicaraan Abigail.
__ADS_1
"Oh sial, Bern bisakah Jangan bertanya lagi, langsung eksekusi"
Protes Abigail kesal.
"Kau akan menyesali nya"
Bern bicara cepat.
"Tidak akan pernah"
"Baiklah"
Sepersekian detik kemudian dengan gerakan cepat Bern memukul wajah Abigail dengan cukup keras.
Buggggggg
"Akhhhh"
Ringis Abigail.
Dia menyentuh pelan pipi nya, tampak darah segar mengalir di balik bibirnya.
"Uncle"
Belle tampak tercekat.
"Oh shi..t, kau memukul ya begitu keras"
Protes Abigail sambil memegangi pipinya yang terasa pedih.
"Katanya pukul dengan keras?"
Bern bicara seperti tanpa dosa, seolah tahu apa yang sebenarnya akan Abigail lakukan dengan wajahnya.
"Tapi tidak juga sekeras ini, oh God"
Bern tampak terkekeh.
"Sayang, sebaiknya telpon kakak deliyah mu, katakan uncle Abigail butuh perawatan sekarang juga di apartemen kita"
Belle masih merasa bingung, mencoba meraih handphone nya dan melakukan seperti apa yang bern katakan padanya.
"Hmm baik kak"
Setelah berkata begitu, mendengar jawaban kak deliyah nya yang berkata dia akan datang dalam 15 menit, Belle langsung menutup panggilannya.
Bern tampak menggeleng pelan, menepuk bahu Abigail pelan.
"Semoga berhasil"
Ucap bern sambil mengedipkan sebelah matanya, merangkul tubuh belle lantas langsung mengajak Belle untuk segera pergi menuju ke kediaman Faith Yildiz.
Dan realita nya 2 laki-laki itu sebenarnya terlihat sama-sama konyol hanya karena demi cinta.
Beda nya Abigail jelas menyadari perasaan cintanya, tapi Bern masih belum menyadari perasaan nya sendiri pada gadis kecil di samping ya itu.
__ADS_1