
Bern menaikkan alisnya saat melihat seorang laki-laki muncul dari arah balik pintu depan, dia baru saja keluar dari kamar mandi untuk membersihkan diri,
Belle tampak tertawa kecil, mencoba masuk ke dalam Seperti mengambil sesuatu didalam tasnya.
"Siapa?"
Bern bertanya ke arah Belle lantas melotot menatap ke depan.
Dapat Bern tebak jika anak laki-laki seusia Belle dan tampak berusaha untuk tersenyum ke arah nya tapi Bern dengan jengah membuang pandangannya.
"Teman sekolah ku, Ina menitipkan sesuatu untuk nya"
Jawab Belle sampai meraih sesuatu didalam tas nya.
"Juan?"
Tiba-tiba Bern ingat nama yang muncul di layar handphone Belle tempo hari.
Belle tampak mengangguk, tapi sepersekian detik kemudian Belle mengerutkan keningnya.
"Bagaiman Om tahu?"
Belle langsung menoleh ke arah Bern.
Alih-alih menjawab Bern langsung bertanya kembali.
"Dia menyukai mu?"
Sejenak Belle diam, melirik ke arah depan, takut jika Juan mendengar percakapan mereka.
"He em"
Belle mengangguk pelan.
"Tidak usah bertemu dia lagi"
Setelah berkata begitu Bern langsung masuk ke dalam kamarnya, tampak berjalan melewati Belle dengan ekspresi yang sulit di jelaskan.
"Ya?"
Belle jelas saja semakin mengerutkan kening nya, dia fikir Bern tampak aneh pagi ini.
Belle langsung melesat kedepan, bicara pada Juan dengan cepat.
"Mereka bilang malam ini acara kumpul-kumpul makan bersama? aku dapat undangan dari grup WhatsApp"
Belle bertanya sambil menyerahkan kantor paper bag kecil pada Juan.
__ADS_1
"Iya, apa kamu mau aku jemput?"
Laki-laki itu bertanya penuh harap.
"Aku akan mengirimkan kamu pesan jika boleh di jemput, tapi kalau tidak, kita langsung bertemu di tempat"
Tampak segurat kecewa terpatri di balik wajah Juan.
"He em"
Laki-laki itu mengangguk pelan, kemudian dengan cepat pamit pulang.
Belle dengan gerakan cepat menutup pintu apartemen, lantas langsung melesat masuk menuju ke kamar. Didalam tampak Bern baru selesai menggunakan pakaian nya.
"Om?"
Belle bicara cepat, berjalan mendekati kasur lantas berguling dengan posisi tengkurap disana.
"Hm?"
Bern bertanya tanpa menoleh ke arah belle, tangan nya sibuk mencari handphone miliknya.
"Nanti malam aku keluar untuk makan malam bersama teman-teman"
Sejenak Bern menghentikan gerakan tangan nya, menoleh ke arah Belle untuk beberapa waktu.
"Berangkat sendiri atau bersama laki-laki?"
"Dengan teman ku yang barusan datang"
Jawab Belle cepat, lantas langsung membuka handphone yang ada di hadapannya, mencoba mengirim pesan kepada Ina.
Bern dengan gerakan cepat mendekati Belle, duduk disamping gadis kecil itu sambil menarik kesal nafasnya.
"Biar aku yang antar"
Ucap bern cepat.
"Ya?"
Belle langsung menoleh ke arah Bern.
"Tidak boleh dijemput oleh laki-laki manapun"
Protes Bern cepat.
"Hanya jemput kok, nanti juga izin nya langsung sama om"
__ADS_1
Ucap Belle kemudian lanjut mengetik sesuatu di handphone.
"Bisa berhenti memanggil ku, om? itu membuat ku mulai terganggu"
Bern kembali menarik kesal nafasnya.
"Jadi harus aku panggil apa?Paman? Daddy?"
Belle menoleh kembali ke arah Bern.
"Panggil dengan panggilan yang lebih logis"
Ucap bern kesal.
"Om sedang marah?"
Belle mengerutkan dahinya, dapat dia lihatlah wajah Bern tampak kesal menatapnya.
"Apa om marah aku akan keluar bersama teman-teman ku?"
Tanya Belle pelan.
"Kalau nggak boleh juga nggak apa-apa"
lanjut nya lagi pelan, kemudian mencoba membuang wajah nya dari pandangan Bern.
"Aku tidak marah karena itu"
Bern bicara cepat, meraih tubuh Belle agar menghadap ke arah nya.
"Kemarilah"
Ucap bern lagi.
Belle menoleh cepat Tapi sepersekian detik kemudian tiba-tiba Bern berguling disampingnya, menarik wajahnya dengan kedua tangan nya lantas tahu-tahu Bern menautkan bibir mereka.
Belle jelas terbelalak, matanya terbuka begitu lebar, Belle mencoba melepaskan diri, tapi Bern semakin memperdalam ciumannya.
Saat Bern melepaskan ciumannya, Seketika wajah Belle memerah karena malu dan marah yang bercampur aduk jadi satu.
"Om"
Pekik Belle kesal.
Alih-alih peduli dengan ocehan Belle, Bern malah mencium puncak kepalanya lantas berlalu pergi dari hadapan Belle.
"Aku menunggu sarapan ke dua nya"
__ADS_1
Setelah berkata begitu, Bern langsung melesat menuju ke arah dapur.
Belle jelas terpaku, sejenak jemarinya menyentuh bibirnya, lagi-lagi dia merasa wajah nya memerah karena malu.