
"Kenapa tidak mengangkat panggilan ku?"
Tanya Bern cepat sambil terus menyentuh wajah Belle.
Sejenak Belle tampak berfikir
"Aku fikir meletakkan handphone satunya di kamar"
Jawab Belle dengan nada polos.
Sepersekian detik kemudian tiba-tiba Bern menautkan dahi mereka berdua.
"Apa beritanya membuat mu khawatir?"
Tanya Bern pelan.
Sejenak Belle diam, lantas dia mengangguk pelan.
"Maafkan aku"
Ucap bern lagi sambil menghela pelan nafasnya.
Belle tampak tersenyum, kemudian dia melepaskan tautan dahi mereka.
"Aku fikir mereka tidak akan menemukan ku jika bersembunyi di apartemen om"
Jawa Belle cepat.
"Aku lama-lama akan terbiasa bukan dengan berita nya?"
Lanjutnya lagi.
"Hmm"
Bern hanya mampu ber hmm ria.
"Jadi jangan khawatir soal aku, seperti kata Daddy Fattah dan untie ayana semua akan baik-baik saja setelah ini, masuk ke ruang lingkup keluarga al Fattah dan Al Jaber harus bisa membiasakan diri, harus lapang hati mendengar berbagai macam yang mungkin-mungkin bisa membuat bahagia atau bahkan membuat leher kita tercekik nanti nya"
__ADS_1
Belle bicara sambil tertawa senang.
"Aku hanya sedikit khawatir"
Belle tampak menaikkan jari telunjuk dan jempolnya, menyatu bersama ke arah Bern.
Bern tampak mengerut kan dahinya.
"Apa?"
"Aku tidak bisa belanja ke Indomaret lagi seperti biasa nya"
Ucap Belle Sambil terkekeh.
Sepersekian detik kemudian Bern ikut terkekeh, kemudian malah memeluk Belle dengan hangat.
"Ini hanya akan berlangsung beberapa waktu, bersabarlah"
Belle mengangguk kan pelan kepalanya didada bidang laki-laki itu.
"Hmmm apa om tidak lapar? aku cukup lapar, aku fikir akan menghubungi om setelah masakan nya siap,tapi ternyata om malah datang lebih dulu sebelum aku hubungi"
"Hmm"
Bern sama sekali enggan menjawab,hanya berusaha menikmati pelukan nya.
"Om?"
"Sebentar saja"
Ucap bern pelan lantas mencium lembut kening Belle.
Gadis itu mengulum senyum, secara perlahan kedua tangannya mencoba meraih pinggang Bern.
Hmmmm hangat.
Ucap Belle dalam hati.
__ADS_1
********
Setelah melewati sesi makan malam, pada akhirnya Bern menghubungi semua orang, memberi kabar jika Belle ada bersama dirinya, agar semua orang tidak mengkhawatirkan Belle dan dirinya.
Mereka pada akhirnya membicarakan soal banyak hal sambil menghabiskan waktu didepan televisi, sesekali bercanda bersama, saling membicarakan soal beberapa hal kemudian hingga akhirnya Belle mulai terlelap di samping Bern.
"Sudah mengantuk hmm?"
Bern bertanya sambil menyentuh lembut wajah belle.
Tidak ada jawaban sama sekali, gadis itu seperti nya memang benar-benar telah terlelap dalam tidurnya.
Bern tampak mengulas senyum, menoleh secara perlahan ke arah Belle.
Dia memperhatikan secara detail wajah Belle, dari kening, hidung, pipi dan bibirnya.
Beberapa waktu Bern mengulum senyum, Lantas dia menggeleng-geleng kan kepalanya.
Apa yang aku fikirkan?
Ucap bern dalam hati.
Sepersekian detik kemudian Bern dengan cepat mengangkat tubuh gadis itu menuju ke kamarnya, meletakkan tubuh Belle di atas kasurnya. Sejenak dia menghela nafas nya panjang sambil mengelus lembut wajah Belle diiringi kecupan lembut di keningnya.
Bern baru saja akan melangkah ke depan, tapi tiba-tiba handphone Belle terus mengeluarkan suara berisik nya.
Awalnya laki-laki itu tidak begitu mempedulikan nya, hingga akhirnya dia mencoba mengintip ke layar nya.
Juan
Tidak tahu itu laki-laki atau perempuan, Bern langsung mengangkat panggilan nya.
"Apa sesuatu yang buruk terjadi? kau membuat ku khawatir Belle? benarkan berita yang ada di televisi?"
Terdengar suara laki-laki dari seberang sana.
"Jika tidak benar itu cukup membuat aku lega, tapi jika benar itu cukup membuat ku kecewa"
__ADS_1
Seketika Bern mengeratkan rahangnya, dia fikir siapa laki-laki yang menghubungi Belle.
Teman nya kah? atau seseorang yang cukup special di hati Belle?