Putri Perawan Milik Daddy Season 2

Putri Perawan Milik Daddy Season 2
Dinner dan kencan pertama


__ADS_3

Malam kemarin


Sebelum makan malam


di keluarga Faith Yildiz.


Apartemen Bern


Saat mendapatkan telepon dari Belle secepat kilat deliya meluncur dengan mobil kesayangan nya menuju ke arah apartemen yang dihuni oleh belle dan Bern, Saat tiba di depan pintu apartemen Bern Deliya dengan cepat memencet bel interkom dari arah depan, menunggu seseorang membuka kan pintu kamar apartemen itu.


Seketika Abigail melesat dengan cepat menuju ke arah depan, membukakan pintu apartemen dan menatapi wajah Deliya yang tahu-tahu sudah ada di hadapannya itu.


"Oh God"


Deliya tampak terpekik pelan menatap tidak percaya ke arah wajah Abigail dimana pipinya tampak memerah dan terdapat luka di ujung bibirnya.


Abigail tidak menjawab, hanya langsung menutup pintu apartemen itu dengan perlahan.l


"Apa terjadi sesuatu yang buruk pada mu?"


Deliya bertanya sambil langsung melepaskan Hells nya, mengganti nya dengan sandal rumahan lantas berjalan ke dalam mengikuti Abigail.


"Ada sedikit kesalahpahaman, tapi ini baik-baik saja"


Abigail bicara sambil mengulum senyum, merasa sangat senang gadis di hadapannya itu tampak begitu mengkhawatirkan diri nya.


Deliya langsung meminta Abigail duduk di kursi sofa, lantas gadis itu dengan gerakan cepat mengeluarkan semua peralatan nya kemudian secara perlahan mulai mengobati Abigail.


"Aku fikir ini begitu merepotkan diri mu, meminta kamu untuk datang dan mengobati luka-luka ku"


Ucap Abigail pelan sambil menatap dalam bola mata deliya.


Gadis itu tersenyum, menggeleng kan pelan kepalanya.


"Bukan masalah, ini waktu libur ku"


Sejenak Abigail membulatkan bola matanya.


"Benarkah?"

__ADS_1


Deliya mengangguk pelan sambil jemarinya tampak dengan lincah terus mengobati bibir Abigail.


"Sudah mendapatkan makan malam?"


Tanya Abigail cepat.


Deliya tampak berfikir, ingin menjawab sudah tapi tiba-tiba Perut nya bersuara.


Deliya Tampak salah Tingkah, sepersekian detik kemudian mereka tertawa bersama.


"Kadang suara perut memang tidak suka berbohong"


Goda Abigail.


"Mau menikmati makan malam bersama?"


Tawarnya tiba-tiba.


Deliya Tampak menaikkan ujung alisnya.


"Bergabung bersama keluarga besar kami, ada Kevin dan kakak mu juga Asha disana"


Abigail mencoba untuk membujuk, bicara sambil mengembangkan senyuman nya.


Ucap deliya pelan lantas menyelesaikan polesan obat di bibir Abigail.


"Tentu saja tidak, ada Belle juga disana, kita bisa berkumpul dan melewati malam Minggu bersama"


Seloroh Abigail.


Sejenak deliya mengulum senyuman nya.


"Ini jadi seperti kencan massal"


Deliya bicara sambil bercanda, langsung membereskan semua peralatan medisnya.


"Bisa jadi, anggap saja aku sedang mengajak mu untuk kencan pertama dengan ku"


Abigail bicara cepat sambil menatap dalam wajah deliya.

__ADS_1


"Ya?"


Seketika Dliya menghentikan gerakan tangannya, menatap Abigail dengan perasaan terkejut.


"Aku cukup serius dengan ucapan ku"


Sejenak Deliya membeku, menatap dalam bola mata laki-laki itu.


"Aku seperti sedang di tembak oleh seseorang persis seperti saat masih di bangku sekolah"


Deliya bicara Masih terus menatap dalam wajah Abigail.


"Aku type orang yang seperti itu, tidak suka mengajak seorang gadis menjalani hubungan tanpa kejelasan, tidak memperjelas status tapi bebas membawanya kemanapun aku mau"


"Aku tidak suka membuat seorang gadis terombang-ambing dengan hubungan yang tidak pasti"


"Sekalinya aku bilang maukah kamu berkencan dengan ku, maka aku bisa jadi sedang berfikir untuk membawa hubungan ini menjadi lebih jauh lagi"


Ucap Abigail cepat tanpa perasaan ragu.


"Aku mungkin bukan gadis yang cukup tepat untuk mu"


Ucap Deliya pelan.


"Dalam sebuah hubungan tidak ada pasangan yang tepat ataupun tidak tepat, yang benar adalah dalam sebuah hubungan itu bagaimana cara pasangan itu untuk saling menutupi kekurangan dan saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya"


Seketika Deliya tampak terdiam, Abigail tampak menatap dalam bola mata Deliya, menunggu jawaban gadis dihadapan nya itu dengan perasaan tidak menentu.


Terdengar konyol, bodoh dan terburu-buru tapi sesungguhnya tidak, Abigail dalam beberapa hari terus menggali informasi soal deliya, mencari tahu bibit bebet bobot nya, bagaimana pribadi nya dan bagaimana kehidupan yang gadis itu jalani selama ini.


Dan seluruh informasi yang dia kumpulkan cukup membuat dia puas dan memutuskan untuk maju jalan menggenggam erat tangan gadis itu. Dibalik berhasil atau tidak usaha nya, yang penting bagi Abigail dia sudah dengan gentleman berkata dia menyukai gadis itu.


Abigail jelas bukan type laki-laki yang suka menggantung kan perasaan orang lain, dan dia jelas tidak suka membuat gadis terlalu berharap pada hubungan yang tidak pasti.


Sepersekian detik kemudian Deliya mengembangkan senyuman nya, lantas dia tertawa pelan sambil berkata.


"Aku bukan type gadis yang suka di gantung seperti jemuran, juga bukan type gadis yang habis manis sepah di buang, aku fikir makan malam kali ini sebagai pengenalan karakter, sisa nya jika sama-sama merasa nyaman kita bisa terus berjalan tapi tidak terlalu keluar dari batasan"


"No sek..s, no one night stand, jika merasa nyaman kamu bisa langsung membicarakan tentang semua nya pada orang tua ku"

__ADS_1


Dan Abigail jelas tersenyum senang, dengan gerakan cepat mengulurkan tangannya ke arah Deliya.


"Aku suka type gadis seperti kamu"


__ADS_2