RaKhania

RaKhania
RaKhania ~ 010


__ADS_3

Khay berjalan gontai menuju asrama tempatnya tinggal. ia pulang sendiri kali ini. Karena Ray telah meninggalkannya. Khay merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang sederhana.


Lalu Khay memijat pelipisnya pelan. Banyak hal yang ia pikirkan tentang rencananya mencari pembunuh kakaknya. Ia yakin jika kakaknya tewas di aniaya oleh seseorang.


Nalurinya sebagai seorang detektif tak bisa dibohongi. Namun nalurinya sebagai seorang wanita tulen, juga tak bisa berbohong jika pesona Rakha sangatlah memikat.


"Haduh! Kenapa jadi memikirkan dia?" rutuk Khay pada dirinya sendiri.


"Aku tidak boleh lemah. Rakha bisa saja jadi salah satu tersangka pelaku penganiayaan Kak Khania. Tapi... Apa aku harus membicarakan ini dengan ibu? Jika ibu tahu aku bermain api begini... Dia akan lebih membenciku. Ah, kenapa jadi ribet begini sih?"


Khay memutuskan untuk membersihkan diri lalu menuju alam mimpi. Besok akan ia pikirkan rencananya lebih matang lagi.


Khay berkunjung ke rumah ibunya dengan memakai gaun milik Khania. Amara sangat terkejut melihat perubahan penampilan putrinya itu.


"Kau sangat cantik, Nak. Seharusnya kau menjadi wanita yang lemah lembut seperti kakakmu saja..."


Pujian itu serasa terdengar miris di telinga Khay. Ibunya masih mengingat tentang kakaknya. Dan akan selalu begitu. Ibunya tidak akan mau menerima Khay dengan jati dirinya sendiri.


"Iya, bu. Aku akan belajar menjadi Kak Khania..."


"Heh? Apa maksudmu?"


"Bu..." Khay berlutut di depan ibunya.


"Aku akan mencari siapa pelaku yang sudah melakukan ini pada kakak."


"Apa maksudmu?"


"Aku yakin terjadi sesuatu dengan kakak di sana. Pasti ada alasan kenapa kakak pulang dengan penuh luka seperti itu."


"Lalu?"


"Aku akan menyamar menjadi Kak Khania. Dan aku akan menyelidiki misteri kematian kakak."


"Apa?!"


"Ibu... Ibu sangat menyayangi kakak bukan? Apa ibu bisa terima jika kakak meninggal dengan cara seperti itu?"


Amara nampak berpikir.


"Nak, tapi bagaimana jika terjadi sesuatu denganmu? Ibu sudah kehilangan Khania, ibu tidak mau kehilangan kau juga."


"Ibu tenang saja. Aku pemegang sabuk hitam, aku bisa menjaga diriku. Dan aku juga akan dibantu oleh Ray dan Lusi. Jadi, ibu jangan mencemaskanku..." Khay berusaha meyakinkan ibunya yang terlihat rapuh.

__ADS_1


Sebenarnya alasan kenapa Khay mau melakukan ini adalah agar ibunya tak terus-terusan bersedih. Sudah satu tahun berlalu dan ibunya masih nampak meratapi kepergian Khania.


"Ibu..."


"Baiklah, nak. Tapi... kau harus berjanji, kau akan baik-baik saja."


"Iya, ibu jangan khawatir."


Khay memeluk ibunya. "Ibu, sekarang bantu aku untuk mengenal Kak Khania lebih dalam."


"Eh? Apa maksudmu?"


"Katakan apa-apa saja yang disukai Kak Khania, dan apa yang tidak disukainya."


"Bukankah kau juga mengenal kakakmu?"


"Aku tak mengenalnya sebaik ibu mengenalnya. Ayo bantu aku, bu!"


Amara membingkai wajah putrinya. "Kau sudah mulai manja seperti kakakmu..."


Khay tersenyum manis membalas perlakuan ibunya.


Khay mendatangi rumah Ray. Seorang asisten rumah tangga membukakan pintu untuk Khay.


"Halo, Bi Surti. Ray ada?"


"Eh, Neng Khayla. Den Ray ada, Neng dikamarnya. Sepertinya masih tidur."


"Masih tidur? Jam segini dia masih tidur? Yang benar saja!" Khay berlarian menuju kamar Ray di lantai dua.


Ray hanya tinggal bersama ayahnya. Ibunya telah lama meninggal. Makanya saat ia berteman dengan Khay, ia merasa memiliki ibu kembali karena Amara sangat menyayangi Ray, meski ia tak suka dengan hobi pria itu di bidang misteri.


"Ray!!!" pekik Khay yang langsung menubruk Ray di atas ranjang.


Ray menggeliat kala merasakan tubuhnya di tindih oleh seseorang.


"Ray! Bangun! Ya ampun, apa yang kau lakukan semalam hingga jam segini kau belum bangun?"


"Berisik! Pergi sana! Aku sedang tak ingin di ganggu." Ray makin menyelimuti tubuhnya.


"Ray, ayo bangun! Kita harus bekerja."


"Aku sedang malas. Kau saja yang pergi bekerja sana!"

__ADS_1


"Tidak mau. Aku ingin pergi bersamamu saja."


"Bukankah kau sekarang punya supir pribadi, huh!"


"Supir pribadi? Siapa?"


Ray tak mau terus berdebat dengan Khay. Ia turun dari tempat tidur dan segera menuju kamar mandi.


Khay mendengus sebal melihat tingkah sahabatnya yang seperti tak biasa.


Khay memutuskan menunggu Ray bersiap dengan menikmati sinar matahari yang mulai naik dari balkon kamar Ray. Sudah hampir pukul sepuluh pagi namun udara masih terasa sejuk dan dingin.


Khay membiarkan angin bertiup menerpa wajah dan rambut panjangnya yang tergerai hitam dan indah. Ia menghirup dalam-dalam udara pagi ini. Rumah Ray memang berada di sekitar perbukitan. Entah kenapa ayahnya memutuskan pindah ke tempat ini setelah ibunya meninggal. Ray pernah bercerita pada Khay, jika ayahnya tak ingin berlarut dalam kesedihan, maka mereka berdua pindah dari rumah lama mereka ke tempat yang lebih sejuk.


Khay segera membuka matanya kala merasakan kulit dingin yang melingkar di pinggangnya.


Apa ini?


Khay membulatkan mata sempurna. Ia tahu jika tangan dingin yang melilit tubuhnya adalah tangan milik Ray. sahabatnya.


"Ray... A-apa yang kau lakukan?" tanya Khay gugup dengan menelan salivanya.


"Kenapa? Sebentar saja. Hanya sebentar." ucap Ray dengan menopangkan dagunya di bahu Khay.


Aroma shampoo dan sabun mandi khas pria menyeruak ke hidung Khay. Dan bisa Khay duga jika saat ini Ray hanya memakai handuk yang dililitkan di pinggangnya.


Selama ini mereka tak pernah sedekat ini. Meski kadang mereka saling berpelukan, namun bukan dengan cara memeluk dari belakang seperti yang Ray lakukan saat ini.


"Ray... Hen-hentikan!" pinta Khay kala Ray mulai menyibak rambut panjang Khay, sama seperti yang dilakukan Rakha kemarin.


Khay mengepalkan tangannya. "Ray..." Suara Khay mulai melemah. Ia mulai terbawa suasana.


Tangan Ray mulai berpindah memeluk bahu hingga melingkari leher Khay.


"Khay... Aku akan membantumu, tapi... Jangan pernah melakukan hal seperti ini lagi dengan pria itu!" bisik Ray ke telinga Khay.


Khay meremang mendengar bisikan yang terdengar mesra di telinganya. Namun ia tak mau terbawa suasana. Ia segera melepaskan tangan Ray dan bersiap menghajar pria itu. Tapi belum sempat Khay memberinya bogem mentah, pria itu sudah lebih dulu masuk ke dalam kamarnya dan menuju kamar mandi untuk berganti baju.


"Ray!!! Awas kau ya!!!" Teriak Khay dengan kesal.


#Bersambung...


thank you 😚😚

__ADS_1


__ADS_2