RaKhania

RaKhania
RaKhania ~ 088


__ADS_3

Rakha membuka mata dan mengerjapkannya pelan setelah tak sengaja ia tertidur selama beberapa jam. Ia melirik kearah jam dinding yang menunjukkan pukul satu dini hari. Dilihatnya Disha meringkuk tertidur di sofa ditemani Dika.


Rakha tidak tahu jam berapa Dika tiba dikamarnya. Melihat mereka berdua tertidur dengan lelap, ia pun tersenyum.


Namun setelahnya senyuman itu sirna kala mengingat keberadaan Istrinya. Dimana Khania-nya seharian ini? Bahkan ia tak menghubungi Rakha sama sekali.


Rakha meraih ponselnya dan melihat apakah ada pesan atau panggilan dari Khay. Tapi ternyata tidak ada.


Pikiran-pikiran buruk mulai menggelayuti otak Rakha. Bayangan saat istrinya mengarahkan senjata api lurus kearah Niya kembali mengusik hatinya.


Dari mana Khania mempelajari memegang senjata seperti itu?


Kini Rakha merasa yakin jika istrinya memanglah berbeda dengan sosok yang ia kenal dulu.


Apa mungkin dia memang bukan Khania? Tapi bagaimana bisa? Atau dia sudah berubah?


Rakha mengusap wajahnya. Ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana menghadapi istrinya saat bertemu besok.


Di tempat lain, tak jauh berbeda dengan Rakha, Khay juga masih terjaga. Matanya enggan terpejam meski tubuhnya amat lelah.


Sudah berbalik ke kanan dan ke kiri, masih saja matanya enggan terpejam. Khay duduk bersandar pada sandaran ranjang dan memeluk kedua lututnya.


Hatinya begemuruh hebat mengatakan jika semua ini tidak bisa ia lanjutkan.


Tidak! Aku tidak bisa melakukan yang lebih jauh dari ini. Aku sudah menyakitinya. Dan aku tidak bisa makin menyakitinya. Biarlah dia membenciku sekarang.


Khay menenggelamkan wajahnya dan menangis. Hatinya sakit saat mengingat betapa ia sudah jatuh cinta pada Rakha. Ini adalah pertama kalinya bagi Khay bisa memberikan hatinya pada seorang pria.


Kenapa jatuh cinta begitu rumit? Jika saja aku tidak mengambil jalan ini, pasti aku tidak akan terjebak dengan cinta Rakha.


Khay makin terisak dan tubuhnya bergetar hebat. Hingga akhirnya ia lelah menangis lalu ia pun terlelap dengan sendirinya.


Esok paginya, Khay membersihkan diri dan menatap wajahnya di cermin. Wajahnya sembab karena menangis semalaman. Baru pertama kali Khay menangis karena cinta. Dan rasanya sedikit memalukan.


Khay tersenyum getir menatap dirinya di cermin.


"Kau bodoh, Khayla. Kau memang bodoh!" gumamnya pada diri sendiri.


Usai merapikan penampilannya, Khay keluar dari kamar dan berpapasan dengan Ray yang juga baru keluar dari kamarnya.


"Lho, Khay? Kau ada disini?" Ray tampak gugup bertemu dengan Khay.

__ADS_1


Benar, Ray selalu merasa canggung jika ada hal yang ia sembunyikan dari Khay.


"Eh, Ray. Iya, semalam aku menginap disini. Aku merasa rindu dengan tempat ini." balas Khay seadanya.


"Kau mau pergi ke rumah sakit?" tanya Ray.


"Iya, aku akan kesana."


"Baiklah. Akan kuantar, ayo!"


"Hmm, terima kasih, Ray."


Mereka berdua pun berjalan bersama menuju parkiran apartemen. Khay masuk kedalam mobil dan duduk di sebelah Ray.


"Kau sudah makan, Khay?"


"Belum. Aku masih belum lapar. Mungkin aku akan sarapan di rumah sakit saja."


"Oh, Baiklah." Ray mulai melajukan mobilnya keluar dari apartemen.


Niat hati ingin mengajak Khay sarapan bersama telah gagal. Ray hanya merasa jika beban Khay makin bertambah setelah Niya tertangkap.


"Kak, aku harus pergi. Ada pekerjaan yang harus aku lakukan. Dokter bilang hari ini kakak sudah diperbolehkan pulang. Kakak tunggu saja disini. Khania sedang menuju kemari." ucap Disha.


"Hmm, baiklah."


"Bos, aku juga pergi ya! Aku harus mengurus beberapa meeting untuk menggantikanmu." sahut Dika.


"Iya. Terima kasih. Beruntung aku memilikimu di sisiku."


"Haish! Jangan bicara sembarangan. Kita akan segera menjadi keluarga. Benar 'kan sayang?"


Disha melotot kearah Dika tajam. Sepertinya Disha masih malu mengakui kedekatannya dengan Dika.


"Perlahan saja, Dik. Aku yakin adikku ini pasti bisa menerimamu." balas Rakha.


Sepeninggal Dika dan Disha, Rakha mengingat kembali misinya. Ya, semalam ia sudah mengatur sebuah misi. Ia harus membuktikan kecurigaannya.


Tanpa diketahui oleh siapapun, Rakha menghubungi orang kepercayaannya dan memintanya menyelidiki sesuatu. Rumah sakit tempat Khania-nya di rawat setelah insiden penculikan yang terjadi padanya.


Rakha ingat jika saat itu Khania-nya bersikap agak aneh saat Rakha akan membayar tagihan rumah sakit. Khania-nya menghalangi dan bersikap manja agar Rakha tidak perlu membayar tagihan karena sudah diurus oleh temannya bernama Ray. (see chapter 52)

__ADS_1


Sebenarnya saat itu Rakha curiga karena Khania-nya tidak mengijinkannya untuk membayar biaya rumah sakit. Namun lagi-lagi Rakha menepis segala keraguannya dan tetap mempercayai Khania-nya.


Dan kecurigaan Rakha makin besar ketika akhirnya mereka bermesraan hampir melewati batas yang membuat tubuh mereka polos tanpa benang yang melekat. (see chapter 53)


Rakha melihat luka seperti bekas sayatan di bagian perut kiri milik Khania-nya. Ia tidak tahu apa yang membuat Khania-nya memiliki luka seperti itu. Ditambah lagi, tenaganya yang begitu besar saat menendangnya. Membuat Rakha makin kalut namun lagi-lagi ia menepis semua itu.


Rakha mengusap wajahnya kasar ketika melihat layar ponselnya yang tertera nama orang suruhannya tengah memanggil. Dengan ragu Rakha mengangkatnya.


"Halo..."


"Halo, Bos..."


"Bagaimana? Apa kau sudah mendapatkan informasi?"


"Sudah, Bos. Dan menurut petugas rumah sakit, tidak ada pasien yang pernah dirawat disana bernama Khania Anjani di tanggal yang Bos sebutkan."


DUARRR!!!


Bagaikan mendengar suara bom yang meledak, Rakha memelototkan matanya.


"A-apa?!?"


"Itu benar, Bos. Yang ada di daftar di hari dan ruangan yang sama seperti yang bos sebutkan adalah pasien bernama Khayla. Khayla Anjani."


Rakha masih mematung tidak percaya dengan kabar yang baru saja ia dengar. Ponselnya masih berada ditelinganya, namun pikirannya sudah berkelana entah kemana.


Sedetik kemudian seseorang membuka handel pintu kamarnya dan menampakkan sosok wanita cantik yang tersenyum kearah Rakha.


"Khayla..." gumam Rakha lirih bahkan tak ada yang bisa mendengarnya.


...***...


...***...


#bersambung dulu ya shay...


Yuks mumpung hari senin, monggo yang mau kasih VOTE dan Bunga juga boleh banget... heheheh


Dukungan dari kalian amat berarti bagi mamak ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


...terima kasih ...

__ADS_1


__ADS_2