
Rakha sedang membahas proyek penting bersama kliennya. Ia tampak
bicara serius dan bersemangat. Tentu saja semangat yang ia tunjukkan adalah
karena dia seorang pengantin baru.
Sedangkan Dika hanya memperhatikan sahabatnya itu sambil
sesekali menjawab pertanyaan dari kliennya. Jujur saat ini pikiran Dika sedang
tidak bisa fokus. Ia masih terus memikirkan tentang nasib Disha. Dan juga
keanehan pada sikap Khay terhadapnya.
“Apa Rakha sama sekali tidak curiga dengan sikap Khania yang memang sudah berubah? Kenapa cinta seakan
menutup mata hatinya? Meski aku tidak mengenalnya dengan dekat, tapi aku bisa
tahu jika dia seperti orang yang berbeda. Apa aku harus menyelidikinya tanpa sepengetahuan
Rakha? Benar! Jika memang benar kecurigaanku tentang Khania. Maka aku tidak
bisa membiarkan wanita itu menyakiti Rakha. Sudah cukup dia menderita karena
kepergian Khania yang dulu.” Batin Dika sambil menerawang jauh.
.
.
Ken menemui James di tempat rahasia mereka. James menatap
wajah Ken yang membiru seperti bekas pukulan.
“Apa yang terjadi denganmu, nak? Kau berkelahi?” Tanya James.
“Tidak, Paman. Hanya sedikit insiden saja.”
“Apa karena gadis itu?”
“Siapa yang paman maksud? Khayla?”
“Siapa lagi.”
“Iya. Dia baru saja menikah dengan putra Ibu Liana.”
“Hmm, paman sudah mendengarnya. Lalu, ada apa kau datang kesini?”
“Aku ingin melihatnya.” Jawab Ken menatap datar pada James.
“Dia ada di rumah sakit.”
“Paman memindahkannya? Bagaimana jika ada yang mengetahuinya?”
“Kau tidak percaya padaku?”
Ken tidak menjawab dan malah membuang muka.
“Akan kuantar kau menemuinya. Kondisinya tidak stabil, jadi
dia harus mendapatkan perawatan secara intensif.”
Ken mengangguk paham.
.
.
__ADS_1
Sementara itu, di rumah besar itu Khay sedang menyiapkan
makan siang untuk dirinya sendiri. Karena sedari pagi keadaan rumah sudah sepi.
Khay memasak sambil sesekali saling bercerita dengan asisten rumah tangga di
rumah itu. ia menanyakan tentang seperti apa ibu kandung Rakha.
Dan seperti dugaan Ken jika ada sesuatu yang janggal dengan
keluarga suaminya. Khay berjalan mengendap-endap menuju kamar seseorang yang
dicurigai Ken.
“Aku memang tidak percaya jika gadis manja itu ada kaitannya
dengan komplotan hitam. Tapi, tidak ada salahnya jika aku waspada. Apalagi jika
ternyata dia sudah tahu jika aku bukanlah Khania yang asli. Maka… Tidak, tidak.
Aku tidak boleh pesimis. Aku akan mencari bukti yang valid.” Batin Khay.
Khay masuk kedalam kamar Niya dan memperhatikan seluruh
bagian kamar itu.
“Memang kamar seorang gadis.” Gumam Khay sambil
mengerucutkan bibirnya memperhatikan kamar bernuansa merah muda itu.
Khay menuju meja rias milik Niya. Termpampang berbagai jenis
kosmetik disana. Juga beberapa parfum. Khay mengambil satu parfum dan mencium
baunya.
parfum yang lainnya.
DEG
“Apa ini?” Khay membulatkan mata. Ia pernah mencium bau yang
sama dengan parfum milik Niya itu.
“Tidak mungkin!” Khay menggeleng pelan.
“Jadi, benar jika Niya memang berhubungan dengan komplotan
hitam.” Khay memegangi dadanya. “Bagaimana bisa?” Khay masih tidak bisa
menemukan jawaban dari semua keganjilan ini.
Khay melihat beberapa helai rambut Niya yang tertinggal di
sisir rambut miliknya. Khay mengambil plastic bening dan memasukkannya kesana.
Kemudian Khay menuju ke kamar Rich. Beruntung kamar di rumah
ini tidak dikunci. Ia bisa leluasa masuk dan menyelidiki semuanya.
Khay kembali ke kamarnya usai menuntaskan tugas dari Ken. Ia
segera menghubungi Ken dan meminta waktu untuk bertemu.
Di sebuah private room kafe XYZ, Khay menemui Ken. Khay mengernyit
ketika melihat memar di wajah Ken.
__ADS_1
“Ada apa dengan wajahmu? Apa kau dipukuli oleh seseorang?” Tanya Khay.
Ken berdecih. “Sudahlah, jangan membahas diriku. Mana hasil dari temuanmu?”
Khay menggeleng pelan. “Ini adalah sampel rambut milik Niya dan Rich, juga milik Rakha.”
“Aku harus memastikan lebih dulu jika pekerjaanmu
benar-benar sempurna.” Ken membuka notebooknya dan mengetik sesuatu disana.
“Lihat ini!” Ken menunjukkan layar notebooknya.
“Astaga!” Khay menutup mulutnya. Dia melihat gambar dirinya
yang sedang mengendap-endap di rumah Rakha dan masuk kedalam kamar Niya.
“Maaf, aku lupa jika di rumah itu banyak terpasang kamera
pengawas.” Khay menangkupkan kedua tangannya.
“Tidak apa. Kamera pengawas ini adalah rahasia.”
“Heh?”
“Ini adalah kamera yang dipasang oleh Ibu Liana. Tidak ada
yang mengetahui soal kamera pengawas itu.”
“Kau yakin?” Tanya Khay memastikan.
“Tidak.” Jawab Ken santai.
Khay mengerucutkan bibirnya.
“Makanya aku akan menghapus rekaman ini dan menggantinya dengan rekaman kosong.”
“Terima kasih.”
“Tidak perlu. Kita adalah tim. Jadi sudah seharusnya aku melindungimu. Lagipula, aku yang memintamu untuk melakukan pekerjaan ini. Aku yang harusnya berterimakasih padamu.”
“Ken…” panggil Khay.
“Iya.”
“Bisakah kau membantuku?”
“Apa?”
“Tolong temukan Disha!”
Ken menatap Khay lalu menghela nafasnya.
“Semua orang sedang mencarinya. Kau tenang saja. Dia pasti bisa kita temukan!”
Ken bisa melihat ada raut kekhawatiran di wajah Khay.
“Entah kenapa firasatku mengatakan jika terjadi sesuatu
dengan Disha. Aku merasa bersalah padanya. Tolong temukan dia!” pinta Khay
dengan menggenggam kedua tangan Ken.
DEG
Seketika Ken mematung. “Tatapan itu … Tatapan yang kurindukan selama satu tahun ini … “ batin Ken.
#bersambung…
__ADS_1