RaKhania

RaKhania
RaKhania ~ 015


__ADS_3

...Halo readers kesayangan mamak๐Ÿ‘‹๐Ÿ‘‹๐Ÿ‘‹ Rakhania is back! Dont forget to leave Like ๐Ÿ‘ and comments ๐Ÿ˜˜...


...*happy reading*...


Pagi itu Khay sudah bersiap untuk berangkat ke kantor Rakha. Ray memperhatikan Khay yang nampak anggun dengan setelan kantornya.


"Eciyeee, anak gadisku mau berangkat ke kantor ya?"


"Ssttt!!! Berisik! Bagaimana penampilanku?"


"Ya lumayanlah!"


"Kok cuma lumayan sih?"


"Khay, sebaiknya kau cari setelan kantor yang memakai celana panjang."


"Kenapa?"


"Siapa tahu ada orang yang ingin menyerangmu, kau bisa langsung melumpuhkannya."


"Hmm, benar juga. Mungkin setelah pulang bekerja aku akan berbelanja. Lalu hari ini apa yang akan kau lakukan?"


"Aku akan keluar setelah kau pergi beberapa menit."


"Oke!"


Ting!


Sebuah pesan masuk di ponsel Khay. Pesan dari Rakha.


"Aku berangkat dulu ya. Rakha sudah menjemputku."


"Hu'um, hati-hati ya!"


Entah kenapa melepas Khay pergi rasanya tak rela. Tapi itu harus Ray lakukan agar orang yang memata-matai Khay tidak curiga.


Di lantai bawah apartemen, Rakha sudah menunggu di luar mobil.


"Pagi, sayang..." sapa Rakha.


"Pagi juga..." sapa Khay kikuk karena Rakha selalu memanggilnya 'sayang'.


Rakha membukakan pintu mobil untuk Khay. Kemudian mobil melaju dengan kecepatan sedang.


Tak lama mereka sampai di perusahaan milik Rakha, PT. Anak Bangsa. Khay tercengang melihat betapa megahnya kantor Rakha.


Khay bertemu dengan Dika dan saling berjabat tangan.


Oke! Kak Khania menulis jika Dika adalah sahabat Rakha sekaligus asisten Rakha. Dan kakak menghormatinya.

__ADS_1


"Hai, Khania. Senang bisa bekerja bersamamu disini..."


"Ah iya, sama-sama. Mohon bantuannya."


"Sayang, hari ini kau akan mendapat pelatihan dari Rani tentang apa-apa saja yang harus dilakukan oleh seorang sekretaris."


"Ah, iya. Aku mengerti."


"Hei, bos. Ini di kantor, sebaiknya jangan memanggilnya dengan panggilan..." Dika sedikit melerai Rakha.


"Hahaha, maaf. Aku kelepasan."


Khay tertawa kecil. Sedangkan Dika hanya menggeleng pelan dengan tingkah sahabatnya yang bucin.


*


*


*


*


Seharian ini Khay berkutat dengan belajar menjadi sekretaris yang baik bersama Rani. Ia mencatat dan mendengarkan setiap hal yang diajarkan Rani.


Khay menghela nafas panjang ketika semua itu telah berakhir. Sudah pukul empat sore dan sudah saatnya ia untuk pulang. Ia meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku karena seharian hanya duduk di kursi kerja. Entah apakah ia bisa tahan bekerja di kantor atau tidak. Ia terbiasa dengan kerja lapangan dan harus berpanas-panasan dengan matahari.


Khay baru saja akan ke ruangan Rakha untuk berpamitan. Ia akan pulang sendiri saja hari ini. Ada yang harus dia lakukan dan Rakha tak boleh mengetahuinya.


Khay mengetuk pintu ruangan Rakha. Terdengar suara Rakha mempersilahkannya masuk. Khay membuka pintu dan melihat Rakha masih sibuk dengan berkas-berkas di atas mejanya.


"Maaf, Pak. Pekerjaan saya hari ini sudah selesai. Apakah saya boleh pulang?" tanya Khay dengan sopan.


Rakha langsung menengadahkan kepala menatap Khay lalu menghampirinya.


"Sayang, pekerjaanku belum selesai." Rakha menarik pinggang Khay sehingga tubuh mereka menjadi sangat dekat.


"Pak... Ini di kantor... Bagaimana jika ada yang melihat kita?" Khay merasa tidak nyaman dengan posisi mereka yang terlalu dekat.


"Ini adalah kantorku, aku bebas melakukan apa saja!"


Benar juga! Ini adalah kantornya. Ya Tuhan! Bagaimana cara menolaknya? Apa Kak Khania memang suka diperlakukan sedekat ini dengan Rakha? Batin Khay mulai meronta.


Rakha mulai membelai wajah Khay. Dengan jarak sedekat ini seakan Rakha bisa mendengar jika jantung Khay berdetak lebih cepat.


"Pak... Apa yang bapak lakukan...?"


Khay mulai panik ketika wajah Rakha makin mendekat ke wajahnya. Khay sontak menutup matanya meski tak tahu apa yang akan dilakukan oleh Rakha.


"Bos!!!"

__ADS_1


Suara Dika membuat Khay segera mendorong tubuh Rakha menjauh.


"Astaga! Apa yang sedang kalian lakukan?"


Rakha mendelik ke arah Dika yang mengganggu aktifitas romansanya dengan Khay.


"Ma-maaf. Kalau begitu saya permisi dulu, Pak. Mari Pak Dika..."


Khay lalu pergi dari ruangan Rakha dan segera berjalan keluar kantor pula. Ia akan pulang naik ojek saja.


Tak butuh waktu lama untuk sampai kembali ke apartemen. Khay sengaja turun agak jauh dari area apartemen. Ia berencana akan menyelidiki pria yang memata-matainya. Ia harus mendapat petunjuk secepat mungkin.


Khay mengendap-endap di belakang pria yang sedang mengintai apartemennya.


"Apa yang sedang kau lihat, Bung?" ucap Khay yang membuat pria itu terkejut.


"Hah?! Kau!!"


"Iya, ini aku! Ada apa? Kaget? Sekarang katakan siapa orang yang menyuruhmu?"


khay melangkah maju mendekati pria itu tanpa rasa takut sedikitpun.


Pria itu makin mundur, dan....


"HEI!!! Jangan lari kau!!!"


Khay segera melepas sepatu berhak tinggi yang di pakainya dan mengejar orang itu. Ray yang melihat Khay berlari, akhirnya ikut berlari mengejar mereka berdua.


"Dasar, Khay! Kenapa dia malah bekerja sendiri sih? Harusnya dia menghubungiku lebih dulu jika akan melakukan ini. Sepertinya ini akan melelahkan!" rutuk Ray sambil terus berlari.


Khay mendapatkan pria itu dan menarik kerah belakang kaus pria tersebut. Terjadi perkelahian diantara mereka. Namun karena Khay memakai rok selutut, akan sulit baginya menang melawan pria itu.


Akhirnya pria itu berhasil lolos dari Khay dan berlari sekencang mungkin.


Khay mengepalkan tinjunya ke udara dan mengumpat kesal. Ia mengatur nafasnya usai berlarian mengejar pria itu.


"Khay!!! Kau tidak apa-apa?" tanya Ray yang juga ikut terengah.


"Aku baik."


"Apa kau sudah tidak waras? Kenapa melakukan ini sendiri?" Ray amat kesal dengan Khay yang bertindak sesuka hatinya.


"Maaf..." hanya kata itu yang mampu Khay ucapkan.


Dan akhirnya kini mereka malah kehilangan orang yang mungkin saja bisa menjadi saksi dari misteri kematian Khania.


#bersambung...


"Hidup itu penuh misteri. Begitu pula dengan cinta..."

__ADS_1


27.06.21


__ADS_2