
Rakha tidak bisa fokus dalam bekerja hari ini. Akhirnya tugas yang harusnya menjadi tanggung jawabnya, dilemparkan pada Dika untuk memberi sambutan kepada karyawan baru.
Selama Dika menggantikannya pun, Rakha tidak mendengarkan apa yang Dika ucapkan. Dika sesekali melirik ke arah Rakha yang masih termenung.
Hingga sambutan dari Dika selesai, Rakha masih bergeming dan menatap menerawang entah kemana.
"Bos?! Sambutannya sudah selesai. Bos masih diam saja."
"Dika... Aku yakin tadi adalah Khania. Sosok yang kulihat tadi memang benar Khania. Aku tidak mungkin salah."
Dika memutar bola matanya malas. "Dari mana bos sangat yakin jika itu adalah Khania?"
"Gaun yang dia pakai... Itu adalah pemberianku, dan itu edisi terbatas. Hanya dia saja yang memilikinya."
Dika melototkan matanya. Ia tak menyangka jika bosnya sebegitu dalamnya mencintai Khania. Ia pun menepuk bahu sahabatnya itu pelan.
"Tenanglah! Aku yakin bos bisa menemukan Khania. Bersabarlah, bos."
"Terima kasih, Dika. Kau memang sahabat terbaikku."
"Nah, kalau begitu sekarang bos harus fokus pada perusahaan. Jika ibu bos tahu disini bos hanya bermain-main saja, beliau bisa marah besar."
"Iya, iya, jangan khawatir." jawab Rakha lalu meninggalkan ruang rapat.
.
.
.
Sementara itu, Khay dan Ray sedang nongkrong di warung langganan mereka sambil membahas tentang rencana mereka selanjutnya.
"Jadi, apa rencana kita besok? Kau sudah siap mempertemukan Rakha dengan Khania?" tanya Ray.
"Hmmm, sepertinya belum. Kita akan menggunakan cara slow motion saja."
"Ubahlah cara bicaramu dulu, Khay. Kau benar-benar berbeda dengan Khania yang asli." Ray memutar bola matanya jengah.
"Iya, Ray sahabatku yang baik hati, tampan, tidak sombong, dan rajin menabung..." Ucap Khay dengan gaya sok lemah lembut ala Khania.
"Beuh, itu terlalu di buat-buat, Khay. Lakukanlah yang lebih natural."
"Hmm, baiklah. Aku rasa aku bisa melakukan itu secara otodidak, tidak perlu harus berlatih."
"Terserah kau saja. Aku hanya memberikan saran padamu." Ray melenggang pergi meninggalkan Khay.
"Ray! Kau mau kemana? Ray!!!"
Ray tak menggubris Khay dan terus berjalan. Hatinya merasa panas menantikan pertemuan Khay dan Rakha esok hari.
__ADS_1
*
*
*
Khay masih memilih gaun mana yang akan ia pakai hari ini. Semua modelnya terlalu feminim. Ya karena Khania memang seperti itu. Selalu anggun dan elegan dalam berbusana.
Ray menghampiri Khay yang masih bingung memilih kostumnya.
"Kenapa kau tidak tanya pada Lusi saja? Aku rasa dia lumayan dalam hal ini."
"Hmm, benar juga. Cepat kau panggil dia."
Ray memutar bola matanya malas. Ia melangkah keluar dari kamar Khay menuju ruang kerja Lusi.
Hanya beberapa menit kemudian, Lusi tiba di kamar Khay.
"Coba kau pilihkan gaun mana yang harus kupakai, Lusi?" tanya Khay dengan menggaruk kepalanya.
"Hmmm, sebentar." Lusi mengamati gaun-gaun yang tergantung rapi di etalase.
"Kak Khay sungguh beruntung. Semua gaun ini adalah edisi terbatas." ujar Lusi.
"Apa?!" Ray dan Khay memekik bersama.
"Benar. Semua gaun ini sengaja di rancang sesuai pesanan si pemesan."
"Tentu saja. Lihatlah tanda ini. Ini adalah bukti jika baju ini di desain khusus." Lusi menunjuk bagian yang terdapat tanda merk di gaun itu.
Khay dan Ray saling pandang.
"Lalu, hari ini kau pilih yang mana? Akan kupakai."
"Ummm, yang ini saja." Lusi menunjuk ke gaun berwarna soft pink berlengan panjang.
"Hmm, baiklah. Ray! Silahkan keluar dari kamarku!" titah Khay dengan menunjuk pintu kamarnya.
"Iya, iya. Aku tidak akan mengintipmu ganti baju. Mana mungkin aku tertarik dengan badan kurus begitu." sungut Ray sambil berlalu dari kamar Khay.
"Huh! Dasar kau!"
.
.
.
Ray terpana melihat penampilan Khay yang nampak berbeda dari kemarin. Memang ya, uang bisa mengubah segalanya. Hanya dengan memakai baju edisi terbatas bisa membuat seseorang berubah drastis.
__ADS_1
"Woi!!! Itu mata kondisikan dong! Mulut juga di tutup! Nanti kemasukan lalat baru tahu rasa kau!" ucap Khay saat mendapati Ray terpesona dengan mulut terbuka.
Buru-buru Ray memalingkan wajahnya.
"Ayo berangkat!" balas Ray sembari berjalan ke arah mobilnya.
Mereka berdua menuju ke sebuah rumah toko yang sudah sengaja di sewa oleh mereka yang dijadikan sebagai alibi jika nanti Rakha bertanya.
Khay menunggu mobil Rakha melintas di jalanan itu seperti biasa. Khay masih berjalan santai seolah menyusuri jalanan tersebut.
Sudah lewat dari waktu yang Khay perkirakan. Ia masih tak melihat mobil Rakha melintas.
Rambut hitam panjangnya sengaja ia kibaskan untuk menambah kesan anggun pada diri Khay. Ia menyusuri jalanan trotoar itu dengan langkah gemulai dan tak henti mengembangkan senyum.
GREB!!!
Sebuah tangan tiba-tiba melingkar di pinggang Khay. Khay yang tidak tahu siapa orang yang memeluknya dari belakang tak bisa menolak dan hanya diam.
"Khania...."
DEG
Khay membulatkan matanya. Ia tahu jika yang memeluknya adalah Rakha.
Kenapa secepat ini? Bukan hari ini seharusnya kami bertemu. Haduh, bagaimana ini?
"Khania... Aku sangat merindukanmu..."
DEG
DEG
DEG
Degup jantung Khay terasa memburu. Entah kenapa dirinya meremang saat hembusan nafas Rakha terasa jelas di lehernya. Rakha makin mengeratkan pelukannya.
"Akhirnya aku menemukanmu, Khania. Aku mencarimu selama ini. Kenapa kau menghilang tanpa kabar?"
Khay memejamkan mata. Tak tahu apa yang harus ia katakan. Khay benar-benar ikut terbawa suasana.
Rakha menyibak rambut panjang Khay yang menutupi tengkuknya. Ia mulai menciumi tengkuk Khay dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh Khay.
Khay masih memejamkan mata dan merasakan sentuhan lembut bibir Rakha yang menyentuh kulitnya. Khay mengepalkan tangan berusaha menahan hasratnya. Baru kali ini ia seintim ini dengan seorang lelaki.
#Bersambung...
π¨π¨π¨Yang nulis panas dingin, yang baca...??? π¬π¬π¬
Jangan lupa tinggalkan jejak jempol kalian π£π£
__ADS_1
thank you ππ