
...Halo readers kesayangan mamak๐๐๐ Rakhania is back! Dont forget to leave Like ๐ and comments ๐...
...*happy reading*...
Setelah Rakha berpamitan untuk pergi ke kantor, Khay buru-buru menutup rumah tokonya dan bermaksud ingin menemui Ray yang menunggunya di warung sekitar ruko. Namun saat akan melangkahkan kakinya menemui Ray, Khay malah bertemu orang yang akan ditemuinya.
"Sudah selesai?" tanya Ray.
"Hmmm," Khay hanya menjawab dengan berdehem.
"Aku pikir kau akan memanfaatkan waktu untuk sekalian berjualan." Ray terkekeh.
Khay menatap sinis ke arah Ray.
"Maaf, maaf. Aku tidak bermaksud menyinggungmu."
"Ayo pergi!" Ajak Khay dengan merangkul bahu Ray.
"Hei, kau memakai gaun, nona. Bersikaplah sedikit anggun." Ray melepas tangan Khay dan malah menawarkan tangan kirinya untuk digamit oleh Khay.
Khay terkekeh. "Kau benar, tuan. Aku adalah nona muda yang sangat anggun." Khay mengalungkan tangan kanannya ke lengan kiri Ray. Lalu mereka berjalan menuju mobil Ray.
.
.
.
.
"Jadi, besok bos akan kembali ke kota M?" tanya Andika.
"Mau bagaimana lagi, Dik. Ibu menyuruhku agar segera kembali. Dia akan curiga jika aku terlalu lama disini."
"Lalu bagaimana dengan Khania?"
"Dengar, kau carikan posisi yang bagus untuk Khania. Aku ingin dia bekerja di perusahaan, bukan di yayasan lagi."
"Hah?! Bos yakin akan membawa Khania kesana?"
"Tentu saja. Aku tidak akan menutupi hubungan kami lagi."
"Bos yakin Khania setuju? Bukankah dia juga disini bekerja?"
"Hanya menjual barang-barang seni. Akan kubeli semuanya saja, jadi dia bisa ikut denganku."
"Astaga, bos! Kau memang bucin!" Dika menepuk keningnya pelan.
__ADS_1
"Aku sangat mencintainya, Dik. Tidak ada wanita yang bisa membuatku jatuh cinta seperti dia."
"Lalu, Disha? Jika terjadi sesuatu dengan hubunganmu dan Disha, bisa-bisa Tuan Alan menarik semua sahamnya dari perusahaan kita."
Rakha nampak berpikir. Yang dikatakan Dika ada benarnya juga.
"Hmm, akan kupikirkan. Aku yakin Disha adalah wanita yang baik. Dia pasti bisa mengerti jika aku tidak mencintainya." ucap Rakha sedikit ragu.
Sebenarnya banyak sekali ketakutan dirinya tentang hubungannya dan Khania. Mereka baru saja bertemu kembali. Dan ia takut jika Khania akan menghilang lagi seperti dulu.
Rakha mengusap wajahnya. Dika tahu jika sahabatnya ini tengah banyak pikiran.
"Bos, tenanglah! Kali ini bos harus bisa melindungi Khania. Jangan sampai terjadi sesuatu padanya."
Rakha hanya mengangguk.
.
.
.
.
"Aaahhh, segarnya!!!" ucap Khay dengan mata berbinar setelah meneguk habis es teh dalam gelasnya.
"Kak Khay sangat cocok memakai gaun itu." sahut Lusi yang memberi dua jempol pada Khay.
"Hmm, terima kasih, Lusi." Khay meminta satu gelas es teh lagi pada Ibu Anah, pemilik warung.
"Jadi, bagaimana? Sudah hampir seminggu pria itu ada disini, apa kau belum mendapatkan apapun?"
GLEK!
Khay menelan salivanya. Apakah ia harus menceritakan tentang apa yang ia lakukan tadi bersama Rakha pada Ray?
"Hmmm, dia akan kembali ke Kota M besok."
"Oh ya? Lalu rencana kita?"
"Aku tidak bisa tiba-tiba pindah kesana, bukan?"
"Lalu?" Ray tak sabar mendengar cerita Khay. Dan membuat Khay mendelik ke arah Ray.
"Dia ingin aku bekerja di perusahaannya."
"Wow! Apa itu ide bagus?" Ray mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Entahlah. Aku juga tidak tahu akan bekerja sebagai apa."
"Itu artinya kakak akan bekerja kantoran dong!" timpal Lusi.
Ray tersenyum sumringah. "Kau benar, Lus. Teman kita ini yang sangat anti untuk bekerja kantoran akhirnya akan jadi wanita kantoran juga." Ray tertawa keras.
"Kalian!!!" Khay mulai marah.
Ray makin mengencangkan tawanya. Sedang Lusi hanya terdiam, karena tahu Khay sudah mulai marah.
"Hentikan, Ray! Ini sama sekali tidak lucu!" Khay menaikkan suaranya.
Dan Ray pun berhenti tertawa. "Maaf... Lalu, apa jawabanmu?"
"Aku belum menjawabnya. Dia hanya bilang akan mencari posisi yang bagus untukku." Khay nampak menarik nafas dan menghembuskannya kasar.
"Khay, kau sudah separuh jalan. Apa kau akan berhenti hanya karena harus bekerja kantoran?" suara Ray mulai melembut.
Khay menatap Ray tajam. Tatapan Khay penuh dengan kekhawatiran. Ray bisa melihat itu. Lebih tepatnya, bukan karena khawatir harus bekerja sebagai wanita kantoran, tapi khawatir jika hatinya mulai terbawa suasana, lalu jatuh cinta pada Rakha.
.
.
.
.
Ray mengantarkan Khay pulang ke asrama. Untuk sementara mereka tak mengambil pekerjaan sebagai detektif, karena masalah yang sedang di hadapi Khay saat ini.
Namun Khay mulai cemas, karena pemasukan mereka juga mulai berkurang. Khay memutuskan bicara dengan Ray.
"Ray, aku lihat ada beberapa kasus yang masuk ke kantor kita. Kau tanganilah kasus itu. Aku akan mengurus kasusku sendiri."
"Tapi, Khay..."
"Jika ayahmu tahu kau hanya mengurus masalahku saja, pasti beliau akan kecewa. Kumohon!"
"Hmmm, baiklah. Aku akan membahasnya dengan Lusi."
"Karena besok Rakha juga sudah kembali ke Kota M, aku jadi bisa menjadi diriku lagi besok." Khay tersenyum gembira.
"Oke! Kita tangani kasus bersama." ucap Ray dengan bersemangat.
"Hu'um. Kita akan berantas kejahatan di kota tercinta ini."
Ray dan Khay saling beradu 'tos' kemudian tertawa bersama.
__ADS_1
#bersambung