
Sudah hampir satu jam Rakha berada di kamar mandi. Ia benar-benar berjuang agar tidak mengkhianati cintanya terhadap istrinya. Tubuhnya mulai menggigil karena terus di terpa air dingin dari shower. Namun ternyata usahanya tidaklah sia-sia. Perlahan pengaruh obat perangsang itu mulai hilang.
Tubuh Rakha mulai tak kuat menahan dinginnya air. Wajahnya pucat, dan bibirnya mulai membiru. Namun sedikitpun ia tidak ingin beranjak dari bawah shower.
"Khania... Khania..." gumam Rakha di sela kesakitannya.
Sementara itu, diluar kamar mandi. Niya masih berusaha untuk mendobrak pintu kamar mandi. Ia tahu jika Rakha terus mengguyur tubuhnya di bawah shower. Jika dibiarkan lebih lama lagi maka Rakha benar-benar bisa celaka. Dan itu bukanlah hal yang Niya inginkan.
Niya terus mendobrak menggunakan benda-benda berat yang ada disana. Hingga akhirnya,
BRAAAKKK!!!!
Niya berhasil membuka pintu. Ia berteriak melihat Rakha yang sudah pucat pasi dibawah air shower.
"Kakak!!!" Niya segera menarik tubuh Rakha yang mulai melemah.
Niya memakaikan handuk di tubuh Rakha. Mengusap semua air yang basah di tubuhnya.
Rakha menepis tangan Niya karena tak mau adik palsunya itu terus menyentuhnya.
"Berhentilah untuk menolak, Kak! Kau akan mati jika kau terus bersikap begini. Ayo, sekarang ikut aku!"
Niya memapah tubuh Rakha keluar dari studio dan menuju mobilnya. Niya mendudukkan Rakha di kursi belakang. Tubuh Rakha yang tak berdaya hanya bisa pasrah menuruti kemana Niya membawanya pergi.
"Kau mau bawa aku kemana?" tanya Rakha dengan suara lirih.
"Sudahlah, jangan banyak tanya. Kau akan segera bertemu istrimu." jawab Niya dengan menginjak pedal gas mobilnya.
.
.
.
Sepeninggal Khay, Ken dan Liana masih berdiskusi. Ken merasa tak tenang membiarkan Khay pergi sendiri. Ia pun menghubungi Ray dan juga Rein untuk melacak keberadaan Khay. Ia sempat tahu jika Khay memakai kalung yang bisa dilacak.
Pihak Ray dan Rein awalnya tidak terima dan menyalahkan pihak ISS karena sudah membuat Khay bekerja sendiri. Kini nyawa Khay bisa saja dalam bahaya. Rein segera melacak keberadaan Khay melalui Andre.
Sebelum Rein menyusul posisi Khay, Danial menelepon Rein dan mengabarkan jika kematian Rich bukan kasus bunuh diri biasa. Rein tersenyum puas dengan hasil penyelidikan yang dilakukan kepolisian Kota M.
Rein dan Ken menyiapkan beberapa anak buah terbaik mereka untuk ikut dalam penyerbuan kali ini. Ken yakin jika Niya tidak bekerja sendiri.
"Bibi, sebaiknya bibi kembali ke rumah." titah Ken.
"Tapi, Nak..."
Belum sempat Liana melanjutkan kalimatnya, ponselnya berdering. Sebuah panggilan dari Dika. Ken meminta Liana untuk mengangkat panggilan dari Dika.
"Halo, Dika..."
"............."
__ADS_1
"Apa katamu?!"
"............."
"Baiklah. Kau jangan khawatir. Aku akan mengurusnya."
Panggilan berakhir.
"Ada apa, Bi?"
"Rakha menghilang."
"Heh?! Bagaimana bisa?"
"Dika bilang, Rakha pergi untuk menemui Niya."
"A-apa?!? Bibi tenang saja. Rakha pasti baik-baik saja. Aku pergi dulu ya, Bi..." Ken berpamitan pada Liana.
Liana memegangi dadanya yang mulai sesak.
.
.
.
Khay tiba di sebuah area pergudangan yang cukup luas. Ia mengedarkan pandangan untuk mencari siapa tahu ada anak buah Jonas yang sedang mengintainya.
Sunyi...
Tidak ada siapapun disana.
"Apa Niya bekerja sendiri?" gumam Khay dengan terus melangkah maju.
Khay menemukan satu pintu yang ia yakini adalah tempat persembunyian Niya. Khay membuka pintu itu perlahan.
"Selamat datang, Khania..." sapa Niya dengan sedikit berteriak dan membuat suaranya menggema di seluruh ruangan itu.
"Niya, Lepaskan Rakha!"
Khay melihat Rakha di dudukkan di sebuah kursi dengan kaki dan tangan yang di ikat. Matanya terpejam seolah tak sadarkan diri.
"Tidak semudah itu aku melepaskan apa yang kuinginkan selama 10 tahun ini..." ucap Niya diiringi tawa renyah.
"Meski kalian bukanlah kakak adik kandung, tapi kalian sudah bersama selama puluhan tahun. Tega sekali kau melenyapkan Rich!!" ungkap Khay.
"Hahaha, soal itu hanya aku saja yang tahu. Kau tidak perlu tahu, khania... Kak Rich terlalu berisik dan... Dia terlalu ikut campur urusanku. Aku tidak suka dengan sikapnya yang ingin memberitahukan pada Kak Rakha jika kami bukanlah saudara kandung."
"Lalu sekarang apa maumu?" tanya Khay yang sudah geram ingin menghajar gadis didepannya itu.
"Kita akan bermain, Khania..." ucap Niya dengan senyum seringainya.
__ADS_1
Khay bisa melihat sorot mata penuh kelicikan dari Niya. Khay mengikuti langkah kaki Niya yang menuju ke sebuah meja yang tertutup kain.
Khay mengerutkan dahi dan menyiapkan mental untuk menerima tantangan Niya. Ia melirik kearah Rakha yang tak jauh dari pandangannya.
Bertahanlah sebentar lagi, Rakha. Aku akan menolongmu...
SREEEKK!!!
Niya membuka kain penutup meja itu.
"HAH?!" Khay tertegun melihat benda di depannya.
"Khania, mari kita mainkan kecepatan tangan." ucap Niya dengan menatap tajam.
Di depan mereka ada bagian-bagian dari senjata api atau pistol yang tercecer dan belum di rakit.
"Hanya ada satu peluru saja, Khania. Siapa yang lebih dulu merakit senjata api ini dan memasangkan pelurunya, maka dialah pemenangnya. Dan pemenangnya berhak menembak sasaran sesuka hatinya."
Khay menelan salivanya. Ia berusaha tetap tenang dengan semua tantangan ini.
"Jika kau yang menang, maka kau berhak menembakku. Tapi jika aku yang menang, kau harus memilih, siapa yang akan aku lenyapkan lebih dulu. Kau atau... Rakha..." ucap Niya lagi.
Khay menggeram kesal dengan semua kata-kata gadis yang berhadapan dengannya ini.
"Bukankah kau mencintai Rakha, kenapa kau malah ingin melenyapkannya?" tanya Khay dengan suara bergetar.
"Hmm, mudah saja. Karena aku tidak suka jika yang menjadi milikku dimiliki oleh orang lain. Tapi karena Rakha tidak bisa kumiliki jadi... Lebih baik orang lain juga tidak bisa memilikinya. Apa kau sudah mengerti?"
Khay tidak menjawab dan lebih memilih fokus agar bisa menang. Ia tak menyangka jika gadis manja seperti Niya memiliki kemampuan untuk merakit senjata.
Gadis ini tidak bisa di remehkan! Dia begitu berbahaya!
"Baiklah, kalau begitu, mari kita mulai..." ucap Niya.
Huuuufffttt!!!
Khay menarik nafas dan menghembuskannya kasar.
"Satu... Dua... Tiga...."
.
.
#bersambung dulu ya shay...
*Siapa yg akan menang? We'll see it soon...
*Deg-deg an aku tuuuuuu π΅π΅π΅
Jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan π Like, Vote and Comments, Sangat berarti untukkuh ππ
__ADS_1
terima kasih...π