
“Ada apa ini?” suara Rakha membuat kedua orang yang sedang berdebat seketika menoleh kearahnya.
Khay menghampiri Rakha dan bergelayut manja di lengan Rakha.
"Tidak, sayang. Aku hanya sedikit protes pada Dika karena kau harus bekerja setelah menikah." ucap Khay dengan suara lembutnya.
"Aku minta maaf, sayang. Ini adalah meeting penting. Aku tidak bisa meninggalkannya." balas Rakha dengan membelai wajah Khay.
"Iya, aku mengerti. Sekarang pergilah. Dika sudah menunggumu sedari tadi."
Dika memperhatikan sikap Khay yang berubah 180 derajat dengan saat tadi berhadapan dengannya. Dika memalingkan wajahnya tak ingin melihat kemesraan pengantin baru itu.
Khay melambaikan tangan pada Rakha hingga mobil melaju meninggalkan halaman rumah. Senyum yang sedari tadi mengembang berubah sinis dan masuk kedalam rumah untuk menemui Liana.
Liana sedang menyiram tanaman kesayangannya di teras belakang. Khay menghampirinya.
"Ibu!"
"Iya, sayang. Ada apa?" balas Liana dengan masih menyiram bunga-bunganya.
"Apa tidak ada yang ingin ibu katakan padaku?"
Liana meletakkan alat penyiram tanaman dan menatap Khay. Liana sudah tahu kemana arah pembicaraan Khay tertuju.
"Kita bicara di kamar." ucap Liana kemudian mereka berdua pergi ke kamar Liana.
"Disha menghilang. Dan ibu tidak mengatakan apapun padaku?" Khay langsung mencecar Liana.
Liana menghela nafas.
"Jadi kau sudah tahu?"
"Dika yang mengatakannya padaku. Apa itu benar, bu? Bagaimana bisa?"
"Dika menemui Ibu dan Rein beberapa hari lalu. Dia bercerita jika Disha tidak bisa ditemukan dimanapun."
"Sudah berapa lama?" Khay terlihat cemas.
"Sudah hampir satu minggu."
"Apa?! Dan kalian diam saja? Aku tidak bisa membiarkan ini. Aku harus ikut mencarinya."
Liana mencekal lengan Khay.
"Paman Rein mu sedang menyelidiki ini. Kau jangan bertindak gegabah. Kita tunggu saja kabar dari pamanmu."
Khay tetap tidak bisa tenang. "Aku akan menghubungi Paman Rein." Khay membuka ponselnya dan menekan nama Rein.
"Halo, Paman."
"Halo, Nak. Apa kabarmu, nak?"
__ADS_1
"Baik, paman. Bagaimana perkembangan kasus menghilangnya Disha? Apa paman sudah menemukan titik terang?"
"Jadi kau sudah tahu? Omong-omong, selamat atas pernikahanmu."
"Terima kasih, paman. Bagaimana Disha, Paman?"
Rein terdengar menghela nafasnya. "Andre masih terus melacak nomor ponsel yang menghubungi Dika. Tapi kami belum menemukan apapun."
"Apa ini ada hubungannya dengan Jonas?"
"Kami belum bisa menyimpulkan. Kau tenang saja. Paman akan menghubungimu jika menemukan petunjuk lain."
"Baiklah, paman. Terima kasih."
Panggilan berakhir.
"Ibu... Bagaimana jika Jonas ada di balik ini semua? Nyawa Disha dalam bahaya." Khay sangat sedih dan merasa bersalah.
Liana memegangi kedua bahu Khay.
"Ibu tahu kau khawatir dengan Disha. Sebaiknya kau istirahat. Ibu harus pergi ke butik. Ibu harus menjadi *NOC agar semua orang tidak curiga dengan pekerjaan ibu."
"NOC?" Khay megernyitkan dahi.
"Non Official Cover disingkat NOC. Itu adalah istilah untuk para agen yang menyamar menjadi warga sipil biasa dan membaur dengan mereka. Kau pun harus begitu. Kau juga seorang agen, Khayla."
Khay mengangguk paham kemudian keluar dari kamar Liana.
.
.
Beruntung Ray tidak melakukan hal nekat dan hanya menuju ke kamar yang ada di kantor detektifnya. Andre terasadar jika Ray sudah tak ada di kamar itu. Ia pun segera beranjak dan keluar dari kamar.
"Lusi? Apa kau melihat Ray?"
"Oh, ada Kak Andre juga? Jadi, kalian semalam menginap disini?"
"Mana Ray?"
"Kak Ray sudah pergi sekitar satu jam yang lalu."
"Apa?! Kenapa tidak membangunkanku?"
"Memangnya aku tahu jika Kak Andre juga ada disini. Sebenarnya ada apa?"
Andre mengusap wajahnya. "Ray marah setelah mengetahui Khay sudah menikah."
"Apa?! Kak Khay menikah?" pekik Lusi yang membuat Andre menutup telinganya.
"Kau tidak perlu berteriak!"
__ADS_1
"Maaf. Habisnya aku sangat terkejut. Jadi, Kak Khayla sudah menikah? Dengan pria itu?"
Andre mengangguk.
"Kenapa kakak tidak memberitahuku? Dan kenapa juga Kak Khay tidak mengundang kita?" Lusi terlihat sedih karena tak diberitahu soal pernikahan Khayla.
Andre tak menjawab pertanyaan Lusi lalu merogoh sakunya dan mengecek ponselnya yang ternyata mati. "Lusi, berikan tabletmu!" titah Andre.
"Eh?"Lusi masih tidak paham dengan apa yang terjadi.
"Cepat berikan tabletmu!" Andre mengulangi kalimatnya.
Dengan takut, Lusi memberikan tablet pintarnya. Dengan cepat Andre meraihnya dan jarinya menari-nari cepat di atas tablet.
"Untung saja aku memasang alat pelacak di mobil Ray, jadi aku tahu dimana ia berada." gumam Andre.
"Memangnya Kak Ray pergi kemana?"
"Dia kembali ke Kota M." gumam Andre lagi. "Syukurlah dia hanya pergi kesana. Aku sudah takut dia akan melakukan hal nekat."
.
.
Ken sedang mengotak atik notebooknya sambil duduk bersantai di atas sofa kamar apartemennya. Ia sedang berbicara di sambungan telepon bersama Rein.
"Tidak, Paman. Aku yakin gadis itu tidak berhubungan dengan organisasi. Paman tolong cari dia. Semoga saja dia tidak mengalami hal buruk."
Ketika panggilan berakhir, sebuah suara mengejutkan Ken.
BRAAAKK!!!
"Brengsek kau!" seseorang mendobrak pintu kamar Ken dan langsung masuk lalu menarik kerah baju Ken.
"Brengsek kau!" orang yang tak lain adalah Ray tidak mampu lagi menahan emosinya.
BUGH!
Satu pukulan mendarat di wajah Ken. Ken jatuh tersungkur. Ia memegangi wajahnya yang terkena tinju Ray.
"Kenapa kau tidak menolong Khania? Bukankah kau sangat hapal tentang komplotan hitam? Kenapa kau tidak bisa menyelamatkannya?!" teriak Ray dengan kembali mencengkeram kerah baju Ken.
"Jika saja kau menyelamatkan Khania, pasti saat ini Khay tidak akan menikah dengan Rakha. Dan kau! Kau masih bisa melihat Khania dan bersama dengannya."
Setelah menumpahkan segala kekesalannya, Ray terduduk lesu. Otaknya tak bisa ia gunakan saat ini. Ia menangis terisak sambil meremas rambutnya.
Ken hanya terdiam melihat Ray yang kacau. Dalam hati ia merasa iba.
"Maafkan aku, Ray. Maaf aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya..."
.
__ADS_1
.
#bersambung...