
Sudah satu jam berlalu setelah Khania keluar dari ruang operasi. Khania kembali di tempatkan di kamar perawatan berbeda. Kamar lamanya sedang dibersihkan karena penuh bercak darah dan pecahan kaca yang berantakan.
Ken duduk di samping tempat tidur Khania. Tatapannya amat sendu dan sedih. Sedari tadi Ken hanya diam dan menatap wajah Khania yang matanya masih terpejam.
Dokter segera memberinya obat bius lebih banyak agar Khania tak segera sadar. Ken menyetujuinya karena tak mau Khania kembali berbuat nekat.
James mendorong kursi rodanya mendekati Ken. Ia menepuk pelan bahu Ken.
"Pulanglah, Nak. Kau pasti lelah. Istirahatlah dulu." ucap James.
Bahkan baju Ken masih berlumuran darah Khania. Penampilannya kacau dengan masih memakai kacamatanya.
Ken tidak menyahuti James dan terus menatap Khania.
"Nak! Paman tahu kau sangat mencintainya. Tapi kau juga harus menjaga kondisimu. Sekarang pulanglah! Liana akan curiga jika kau tidak pulang seharian ini."
Sesaat kemudian, Ken menganggukkan kepala. Ia beranjak pergi dari kursinya dan meninggalkan James.
James hanya bisa menghela nafas kasar melihat kepergian Ken.
"Kau lihat itu, Khania. Kau sudah membuat pria cerdas menjadi bodoh hanya karena cinta. Kuharap setelah kau sadar, kau akan bisa menyadari perasaan anak muda tadi. Dia sangat mencintaimu." gumam James kemudian menekan tombol kursi rodanya keluar dari kamar Khania.
Pukul sepuluh malam, Ken tiba di kediaman Rakha. Langkah kakinya masih gontai mengingat kejadian yang baru saja terjadi.
Ken tak sengaja bertemu Khay yang keluar dari kamarnya.
"Ken! Dari mana saja kau seharian ini? Kau bahkan tidak mengangkat panggilan dariku."
"Kau belum tidur, Khay. Ini sudah malam. Istirahatlah!"
Ken melewati tubuh Khay dan kembali berjalan menuju kamarnya.
Ada apa dengannya?
Batin Khay bertanya-tanya. Ia akan mencari tahu besok pagi saja. Setelah Khay mengambil air minum di dapur, ia kembali menuju kamarnya.
Sudah hampir tengah malam namun Rakha belum juga pulang. Khay tahu jika Rakha masih sangat sibuk mengurus masalah yang timbul setelah kematian Richie.
Entah kenapa Khay juga masih belum ingin memejamkan matanya. Ia menuju balkon kamar dan menghirup udara malam yang syahdu.
Tanpa Khay sadari, Rakha tiba-tiba masuk ke kamar dan menuju balkon. Sebelumnya Rakha melepas jas dan menggulung kemejanya hingga ke siku.
Rasa lelahnya hilang setelah melihat keindahan yang terpancar di tubuh istrinya yang sedang menikmati angin malam.
__ADS_1
Rakha memeluk Khay dari belakang.
"Hah?! Rakha? Kau sudah pulang?"
"Hmm. Kau sedang melamunkan apa sampai tak sadar jika aku sudah pulang?"
"Tidak ada. Aku hanya belum mengantuk sambil menunggu kedatanganmu."
Rakha menciumi leher jenjang Khay.
"Rakha... Kau pasti lelah. Apa kau ingin mandi air hangat?"
Rakha membalikkan tubuh Khay.
"Iya. Apa kau bisa siapkan?"
"Tentu saja."
"Maafkan aku karena aku sangat sibuk akhir-akhir ini."
"Tidak apa. Aku mengerti."
Khay akan berlalu dari balkon namun langkahnya terhenti karena cekalan tangan Rakha. Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir Khay.
Khay tersenyum lalu mengangguk.
Beberapa saat kemudian, Rakha keluar dari kamar mandi sudah memakai piyama tidurnya. Ia masih tak melihat Khay di tempat tidur.
Rakha kembali menuju balkon dan ternyata benar Khay kembali kesana.
"Sayang... Kau masih disini?" Rakha memeluk Khay lagi dari belakang.
"Iya. Entah kenapa perasaanku tidak enak."
"Ada apa?"
"Entahlah..."
Dada Khay bergemuruh sesak entah apa penyebabnya. Kondisi ini biasa terjadi saat salah satu saudara kembar juga sedang merasa sakit.
Ada apa ini? Kenapa perasaanku tak tenang begini? Perasaan yang dulu kurasakan saat terjadi sesuatu pada Kak Khania. Tapi... Kak Khania sudah tiada. Kenapa aku masih merasakan rasa ini? Rasanya sesak...
Rakha memeluk makin erat tubuh Khay. Ia terus menciumi tengkuk Khay yang terasa meremang.
__ADS_1
"Rakha... Bukankah kau lelah? Sebaiknya kita beristirahat saja..." ucap Khay menghadap kearah Rakha.
"Tidak, sayang. Tidak akan pernah lelah jika aku bersamamu..."
Rakha berhasil membuat wajah Khay memerah. Pertama kalinya Khay dekat dengan seorang pria yang adalah mantan kekasih kakaknya.
Rakha meraih tubuh Khay lebih dekat dan mendaratkan kecupan-kecupan hangat di malam yang dingin. Tubuh Khay mulai bereaksi dengan sentuhan Rakha.
Sungguh ia juga menginginkan lebih. Rakha menuntun Khay menuju tempat tidur. Khay merebahkan diri dan disusul oleh Rakha.
Rakha kembali meraih benda kenyal kesukaannya dan menyesapnya pelan. Khay menggelinjang hebat saat merasakan sensasi luar biasa dari penyatuan mereka kali ini.
Rakha merebahkan tubuhnya disamping Khay setelah menuntaskan tugas dan hasratnya pada Khay. Khay pun sedikit melupakan kegundahannya yang sempat mendera. Setelah berhenti sejenak, mereka kembali mengulangi penyatuan yang rasanya tak puas jika hanya satu kali saja melakukannya.
Keesokan paginya, Khay kembali terlambat bangun karena kelelahan bermain bersama Rakha semalam. Khay keluar dari kamar dan kembali bertemu dengan Ken.
Wajah Ken sudah kembali berseri-seri. Ia tak mau jika Khay sampai curiga kepadanya.
Mereka berdua menuruni tangga dan menuju meja makan. Lagi-lagi Khay melihat pemandangan tak biasa dari Rakha dan Niya.
Liana yang melihat kemesraan kakak dan adik yang terlihat aneh itupun tak berani menginterupsi. Perannya disini sebagai ibu yang baik harus diperlihatkan meski hatinya juga sakit melihat sorot kesedihan di mata Khay.
"Kakak, aku mau liburanku di percepat. Bagaimana kalau besok? Bukankah pekerjaan kakak juga sudah tidak banyak?" ucap Niya masih dengan gaya manjanya dengan merangkul tubuh Rakha posesif.
Khay yang datang bersama Ken sengaja tidak menyapa Rakha karena tak mau kegiatan adik kakak itu terganggu. Sementara Ken menatap tak suka kearah Niya yang seolah semuanya dibuat-buat.
"Baiklah. Kakak akan urus semuanya. Kau tinggal berkemas saja."
"Asyik!!!" Niya bersorak gembira. "Terima kasih kakakku sayang..."
Niya mengecup sudut bibir Rakha sekilas yang membuat Rakha membulatkan mata. Pasalnya bibir Niya hampir saja menyentuh bibirnya.
Khay mengepalkan tangannya dan ingin sekali menghajar gadis manja ini. Namun ia berusaha menahan semua amarahnya saat Ken dan Liana seolah memberi isyarat jika Khay harus bisa menahan emosinya.
.
.
#bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan...👣👣👣
__ADS_1
tunjuk tangan yang sudah mampir, hehehe.