
Perhatian: Akan ada adegan kekerasan (menyakiti diri sendiri). Harap bijak menyikapi dan jangan di tiru ya genks. Terima kasih.
.
.
Khania tahu jika dari luar kamarnya ada dua orang yang sedang memperhatikannya. Namun ia tak melihat siapa orang-orang itu, karena ia hanya menerawang ke depan.
Tubuhnya sudah mulai pulih pasca koma selama satu tahun lebih. Ia menoleh ke jendela kamar dan dilihatnya jika orang-orang itu sudah pergi.
Khania tidak peduli siapa orang-orang itu dan apa mau mereka. Hatinya kini telah mati. Ia bukan lagi Khania yang dulu manis dan ramah sejak ia memasuki organisasi hitam.
Karena sudah tak terpasang alat-alat yang berbunyi bersahutan di tubuhnya, ia kini bisa bergerak bebas. Hanya ada selang infus saja yang terpasang.
Khania dengan kasar melepas selang infus yang terpasang. Ia sedikit merintih kesakitan namun setelahnya rasa sakit itu tak dihiraukannya.
Khania masuk kedalam kamar mandi. Ia memandangi dirinya di cermin kamar mandi.
"Inilah wajah aslimu, Khania. Kau bukan lagi wanita lemah lembut yang orang-orang kenal." gumam Khania dengan senyum aneh.
PRAAANGGG!!!
Khania memukul kaca dengan tangannya hingga kaca itu pecah. Tangannya pun terluka. Tapi ia lagi-lagi mengabaikan rasa sakitnya.
Khania mengambil pecahan kaca yang berbentuk agak panjang. Ia menatap dirinya kembali di sisa-sisa kaca yang masih terpasang.
"Kau adalah anggota organisasi hitam, Khania. Dan anggota komplotan hitam tidak takut akan apapun termasuk mati..." cicit Khania lagi-lagi dengan senyum anehnya.
Khania mengarahkan pecahan kaca yang dipegangnya ke pergelangan tangannya. Perlahan tapi pasti, ia mengiris bagian urat nadinya dengan pecahan kaca itu.
SREEEETTT!!!
"Aaakkhh!!!"
Pekik Khania kala merasakan sakit di pergelangan tangan kirinya.
TES TES TES
Tetesan darah mulai mengalir dari pergelangan tangan itu. Tubuh Khania mulai lemas. Wajahnya pucat karena kehilangan banyak darah.
Seorang perawat yang hendak memeriksa kondisi Khania mendadak terbelalak karena tak mendapati Khania di brankar tidurnya.
__ADS_1
BRUUKKK!!!
Perawat itu mendengar bunyi benda terjatuh dari arah kamar mandi. Perawat itu membuka pintu kemudian berteriak karena melihat tubuh Khania ambruk dengan berlumuran darah.
Perawat itu berlari keluar dan memanggil temannya yang lain untuk membantunya.
Ken yang baru saja mengantar James dan Rein melihat beberapa perawat memasuki kamar rawat Khania. Ia berjalan cepat menuju kamar Khania. Bahkan ia berlari kecil agar cepat menuju kamar Khania.
BRAAAKKK!!!!
"Khania!!!"
Ken masuk kamar Khania dan ia melihat beberapa perawat justru memekik histeris melihat pemandangan di dalam kamar mandi. Ken segera masuk ke kamar mandi dan meraih tubuh Khania.
Ken membawa keluar tubuh Khania dari dalam kamar mandi. Ia rebahkan tubuh Khania yang bersimbah darah di ranjang rumah sakit. Ia memerintahkan perawat itu segera memanggil dokter.
"Cepat panggil dokter!!! Kenapa kalian hanya diam saja!!"
Suara Ken menggelegar di kamar rumah sakit itu. Para perawat yang akhirnya tersadar segera keluar kamar dan memanggil dokter.
Ken menggoyangkan tubuh Khania yang sudah tak sadarkan diri. Ia merangkum wajah pucat itu. Ken memeluk tubuh Khania dengan suara tangis isakan yang pilu.
Tak lama seorang dokter datang dan meminta agar Khania dibawa ke ruang operasi. Luka sayatan di beberapa bagian tangan Khania membuatnya kehilangan banyak darah.
Ken menunggu dengan gusar di depan ruang operasi. Berkali-kali ia mengusap wajahnya agar matanya tak mengeluarkan air mata.
"Sebegitu inginkah kau untuk mati, Khania? Aku bahkan sudah menyelamatkanmu dari kematianmu yang dulu. Kenapa kau masih ingin mati? Apa kau pikir setelah mati semua masalah akan selesai?"
Ken menatap pintu ruang operasi dengan tatapan sendu. Ingatannya tak lepas dari kejadian setahun lalu ketika dia bersikukuh untuk menyelamatkan Khania.
.
.
.
.
"Paman, tolong aku!"
"Ada apa Ken? Kenapa wajahmu panik begitu?"
__ADS_1
"Organisasi hitam sudah mengetahui jika Khania masih hidup."
"Lalu, apa yang ingin kau lakukan?"
"Aku harus menyelamatkannya, Paman. Tolong aku!"
"Nak, kau sudah terlibat terlalu jauh. Bahkan organisasi sudah tahu jika kau agen ISS. Jika kau melangkah lebih jauh lagi maka kau dalam bahaya, Nak. Sudahlah, lupakan gadis itu. Dia bahkan tidak peduli padamu."
"Tidak, Paman. Aku tidak bisa membiarkan mereka membunuh Khania."
"Itu adalah resikonya karena dia telah melanggar aturan organisasi."
"Tidak, Paman. Aku mencintainya, Paman. Aku tidak bisa melihatnya mati ditangan mereka."
James menghela nafasnya. Melihat tekad yang begitu besar dari anak temannya ini, ia pun tak tega tidak membantunya.
"Baiklah, Paman akan membantumu. Tapi berjanjilah, kau akan segera pergi dari negara ini dan menerima tugas baru dari ISS."
"Iya, Paman. Aku berjanji."
Dan setelah berunding dengan beberapa dokter dan orang-orang kepercayaan James, tubuh Khania di buat seperti telah meninggal dunia. Jantungnya dibuat tak berdetak selama beberapa jam.
Pihak rumah sakit memberitahu keluarga jika Khania telah meninggal dunia. Isak tangis terdengar jelas dari kedua wanita yang menunggui tubuh Khania yang telah terbujur kaku. Di hari itu juga, jenazah Khania dimakamkan.
Tak lama setelah para pelayat meninggalkan area pemakaman, beberapa orang kembali membongkar makam Khania dan membawa tubuh Khania ke sebuah tempat rahasia milik James.
Dan di hari kembalinya Khania hidup, Ken sudah terbang ke luar negeri memenuhi janjinya pada James jika ia akan menerima tugas baru dari ISS dan menghilang selama satu tahun.
.
#bersambung...
Is there anything that you wanna say?
sedikit nyesek pas bikin part ini. Karena merasakan betapa Ken mencintai Khania dgn begitu besarnya. Akankah Khania luluh pada Ken? Atau dia masih ngarepin Jonas? Atau bahkan Rakha yg sudah menikahi adiknya? Hmmm tunggu yak next partnya.
Terimakasih kesayangan ๐๐๐
Yuk yg belum singgah di karya receh mamak, monggo mampir. Nanti tak seduhin kopi atau teh deh ya untuk menemani waktu membaca, hehehe. sekalian sama tahu goreng nya juga boleh, hahaha.
__ADS_1