
Pagi itu, Ray sudah bersiap untuk kembali ke Kota D bersama ayahnya. Sebenarnya ada rasa berat di hati Ray untuk meninggalkan Khay sendiri di kota ini. Tapi Rein meyakinkan jika Khay akan baik-baik saja bersama Liana dan juga Ken.
Sebelum pergi, Ray menemui Ken terlebih dahulu. Ia meminta Ken untuk menjaga Khay. Ken paham dengan perasaan Ray. Karena sejatinya, perasaan Ken pada kembaran Khay pun tak pernah terbalas. Tapi bedanya, Ken berani mengungkapkan perasaannya pada Khania, meski pil pahit harus ditelannya.
Sedangkan Ray, bahkan Khay pun tak tahu soal perasaannya. Ray hanya tidak mau hubungannya dengan Khay menjadi buruk karena perasaannya yang entah sejak kapan mulai tumbuh. Padahal sebelumnya, hanya Zevanya saja yang mampu mengisi relung hatinya.
"Ayo, nak!" ucap Rein ketika Ray terus melihat kearah pintu kamar Khay yang masih tertutup.
"Apa kau ingin berpamitan dengannya?" tanya Ken menunjuk dengan dagunya ke arah pintu kamar Khay.
"Tidak. Aku akan mengiriminya pesan saja. Tolong jaga dia!" ucap Ray kemudian berjalan pergi.
Ken mengangguk. "Jangan khawatir, bung!"
Sementara di dalam kamar, Khay sedang membenahi baju-baju yang akan dipindahkan ke rumah Rakha. Ia bingung memilih baju mana saja yang harus ia bawa.
"Umm, sebaiknya jangan memakai celana. Akan ketahuan jika aku membawa celana jeansku. Tapi... Tidak apa 'kan jika membawa beberapa potong? Tapi... Ah tidak tidak! Nanti ada yang curiga bagaimana?"
Khay mengacak rambutnya. "Ya ampun! Hanya begini saja membuatku pusing!!!"
Tok
Tok
Tok
Suara pintu kamar Khay di ketuk. Khay membuka pintu dan menampakkan sosok Rakha di depan kamarnya.
"Kau sudah datang?" Khay langsung memeluk tubuh Rakha. Sifat manja Khania mulai merasuk dalam dirinya. Semalam ia membaca buku harian palsu kakaknya. Dan disana tertulis jika Rakha menyukai sifat manja kekasihnya.
"Sayang, apa kau sangat merindukanku?"
Khay mengangguk dalam pelukan Rakha.
"Aku juga merindukanmu." Rakha masuk kedalam kamar Khay dan melihat betapa berantakan kamar itu.
"Astaga, Khania. Apa yang sedang kau lakukan?"
__ADS_1
"Aku sedang membenahi pakaian yang akan kubawa ke rumahmu."
"Kau ini!" Rakha mencubit pipi Khay. "Bawalah seperlunya saja. Nanti aku akan membelikan baju yang baru. Baju-bajumu itu sudah edisi lama."
"Hah?!" Khay tercengang. "Apa kakakku juga perempuan materialistis? Beli baju saja harus yang edisi khusus." batin Khay.
"Baju-baju ini masih layak untuk dipakai, tidak perlu membeli yang baru." ucap Khay dengan suara lembut.
"Baiklah, terserah kau saja." balas Rakha dengan mengulas senyumnya.
Usai membenahi barang-barang Khay, Rakha membawa Khay menuju rumahnya. Khay sudah tidak segugup waktu pertama kali dia datang ke mansion mewah itu. Karena kini ada Liana berada di pihaknya.
Liana menyambut kedatangan mereka dengan senang. Liana memeluk Khay dan memberinya kecupan di kening.
"Selamat datang di rumah kami, sayang. Semoga kau suka tinggal disini." Ucap Liana yang dibalas anggukan oleh Khay.
Rakha menunjukkan kamar Khay yang berada di lantai dua. Ia meminta pelayan merapikan barang-barang milik Khay di kamar itu. Namun Khay menolaknya dan meminta agar dirinya saja yang membereskan barang-barangnya sendiri.
Masih pukul tujuh pagi ketika Khay tiba di rumah itu. Liana sudah menyiapkan sarapan untuk mereka. Khay pun ikut duduk dan menyantap sarapan bersama.
Mata Khay mengawasi sekeliling rumah. Mereka hanya makan bertiga di meja makan yang besar itu.
"Rich sudah pergi pagi-pagi sekali. Niya tidak pulang karena dia harus menyelesaikan desain baju-bajunya di kantor." terang Liana.
Khay hanya mendengarkan obrolan ibu dan anak tersebut.
"Oh ya, Rakha, apa Khania akan tetap bekerja sebagai sekretarismu? Dia 'kan calon istrimu..." tanya Liana.
"Uhuuuukk uhuuuukkk." Khay tersedak nasi goreng yang sedang dikunyahnya.
"Sayang, kau tidak apa?" Rakha meraih gelas dan menyerahkannya pada Khay.
"Terima kasih." Khay meneguk air sambil melirik kearah Liana.
Liana hanya tersenyum melihat tingkah Khay yang menurutnya lucu.
"Aku akan tetap bekerja, Bu. Boleh 'kan Rakha?" balas Khay.
__ADS_1
"Hmm, boleh saja. Tapi kau harus bisa membagi waktumu."
Khay mengangguk paham dengan mengulas senyum di bibirnya.
Usai menyantap sarapan, Rakha dan Khay berpamitan pada Liana kemudian mereka berangkat ke kantor. Selama perjalanan, hanya kesunyian yang menyelimuti.
Khay benar-benar tidak siap jika harus menikah secepat ini dengan Rakha. Tapi kode dari Liana tadi, seakan menyiratkan jika Khay harus segera menikah dengan Rakha.
Saat asyik berkelana dengan pikirannya sendiri, ternyata mobil Rakha telah tiba di parkiran basement kantor. Rakha memegang tangan Khay.
"Sudah sampai, sayang."
"Eh?"
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Rakha lalu mengecup punggung tangan Khay.
"Hmm, tidak ada." jawab Khay sedikit gugup karena Rakha memandangnya dengan intens.
"Sayang, menikahlah denganku..."
"Heh?!" Khay membulatkan matanya. Ini bukan kali pertama Rakha mengatakan hal ini.
"Hiduplah bersamaku..." imbuhnya.
Sungguh Rakha, aku sangat ingin menjawab 'iya'. Tapi... Entah kenapa banyak ketakutan jika kau mengetahui semua kebohongan ini. Meski hatiku tidak berbohong, jika aku memang menyukaimu. Aku mencintaimu...
Dengan pelan Khay menganggukkan kepalanya. Rakha tersenyum gembira. Sebuah ciuman hangat dipagi hari ia daratkan ke bibir Khay. Khay membalasnya dengan sapuan lembut.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata menatap miris kearah dua insan yang dimabuk asmara itu.
"Benar. Berbahagialah kalian diatas penderitaan seorang gadis yang entah berada dimana dia sekarang. Kalian tega sekali melakukan ini padanya." batin orang itu dengan tangan terkepal.
.
.
#bersambung...
__ADS_1
*Get married or Not? 😊😬😬😬