
"Selamat atas pembukaan cabang barunya. Semoga PT. Anak Bangsa semakin sukses. Om bangga padamu, Rakha. Kau masih muda namun semangatmu tak kalah dari mendiang ayahmu." ucap Alan Thariq, rekan bisnis Rakha sambil menjabat tangan Rakha.
"Terima kasih, Om. Ini juga berkat dukungan Om." balas Rakha diiringi senyumnya.
Seorang gadis cantik yang sedari tadi melingkarkan tangannya di lengan kiri Rakha, juga ikut menimpali. "Ayah benar. Kau memang luar biasa, Rakha." ucap si gadis bernama Disha Thariq, putri tunggal Alan Thariq sekaligus tunangan Rakha.
Hari ini adalah perayaan pembukaan cabang baru PT. Anak Bangsa milik keluarga Rakha di kota D. Bukan tanpa alasan Rakha membuka cabang di kota D. Ia ingin mencari tahu keberadaan seseorang yang telah menghilang selama setahun ini.
Rakha memberi sedikit sambutan di depan para karyawan dan rekan bisnisnya. Disha selalu mendampingi Rakha dengan setia. Mereka mendapatkan tatapan kekaguman dari para tamu undangan yang hadir.
"Kapan kalian akan menikah? Kalian sudah bertunangan selama satu tahun dan kalian terlihat sangat serasi sekali." ucap salah seorang wartawan.
"Ah, kami belum memikirkan sampai sejauh itu. Lagi pula, Rakha masih sangat sibuk dengan pekerjaannya." jawab Disha yang memang terbiasa dengan sorot kamera karena ia seorang model papan atas.
Rakha hanya tersenyum menanggapi pertanyaan para pencari berita. Rasanya ia ingin cepat-cepat pergi dari tempat itu.
Andika, asisten sekaligus sahabat Rakha tahu jika bosnya tidak nyaman dengan sorot kamera yang mengarah padanya. Yah, tapi itu juga bagian dari pekerjaan. Mendengar bahwa tunangan Disha Thariq membuka cabang di Kota D, para wartawan berebut datang untuk meliput acara tersebut.
Setelah selesai dengan wawancara bersama wartawan, Rakha memutuskan kembali ke apartemen yang sudah ia beli untuk singgah di Kota D.
Andika menghampiri Rakha yang sedang merebahkan tubuhnya di sofa sambil memijat pelipisnya pelan.
"Bos butuh sesuatu?"
"Tidak. Aku hanya ingin istirahat. Kau boleh keluar."
"Baiklah. Lagipula kamar apartemen kita bersebelahan. Jika butuh sesuatu kau bisa menghubungiku. Santai saja bro, kau sudah bekerja keras selama ini." pamit Dika dengan menepuk bahu sahabatnya pelan.
Rakha mengingat kembali bagaimana bisa ia berakhir bersama Disha dan harus bertunangan dengannya.
.
.
.
*Flashback*
Sekitar satu tahun yang lalu,
Hari ini adalah hari jadi yayasan Anak Bangsa. Seperti tahun-tahun sebelumnya, aku meminta orang-orangku untuk menyiapkan pesta yang meriah di aula yayasan. Dan tahun ini rencananya aku ingin mengenalkan Khania pada semua orang jika dia adalah calon istriku.
Hubungan kami sudah berjalan selama dua tahun, menurutku sudah cukup untuk melangkah ke jenjang selanjutnya. Aku akan memberi kejutan padanya malam ini.
Aku sudah bersiap untuk menghadiri acara besar itu dan juga menyiapkan hatiku untuk mengutarakan niatku meminta Khania menikah denganku didepan semua orang.
Hingga acara berjalan, aku masih belum melihat sosok Khania, pujaan hatiku. Aku meminta Andika mencari keberadaan Khania, namun nihil. Tetangga apartemennya pun mengatakan jika Khania telah pergi dengan pakaian rapi untuk menghadiri pesta perayaan yayasan tempatnya bekerja.
Lalu kemana Khania pergi? Aku masih tak punya jawabannya.
__ADS_1
Hingga tiba di acara puncak, aku pun tak bisa melanjutkan acara yang rencananya akan aku gunakan untuk melamar Khania.
Namun secara tak terduga, Disha datang bersama ayahnya sebagai tamu istimewa, dan ibuku mengenalkan Disha sebagai calon istriku.
Aku pun sangat syok, namun tak bisa menolak. Citra yayasan ada ditanganku. Dan aku tak bisa mencoreng hal itu.
Aku pun menerima untuk bertunangan dengan Disha karena di hari-hari berikutnya, Khania tak pernah muncul dan seakan menghilang begitu saja dari muka bumi.
.
.
.
Sudah satu tahun, Khania. Tapi aku masih tak bisa melupakanmu. Aku tidak akan menyerah untuk menemukanmu...
Karena rasa lelah yang teramat sangat, akhirnya Rakha memejamkan matanya di atas sofa.
.
.
.
"Khay, kau sudah dengar beritanya?"
"Iya, lalu apa rencana kita? Apa kita ubah saja rencananya?"
"Hei, Ray, tidak bisa begitu. Kita akan tetap menjalankan rencana kita seperti semula. Aku akan menyamar menjadi Khania."
"Kau yakin?"
"Kita sudah membicarakan ini dari setahun yang lalu sejak kematian kakakku. Aku tidak bisa menyerah begitu saja."
Ray melihat ada tekad yang kuat dari mata Khay. Sudah satu tahun ini mereka mencari informasi tentang Rakha dan semua yang berhubungan dengannya. Tapi masih belum menemukan titik terang penyebab kematian Khania.
.
.
.
*Flashback*
Kondisi Khania yang di rawat di rumah sakit semakin memburuk. Khay sangat cemas akan keadaan kakaknya itu.
Namun ia masih belum bisa berbuat apa-apa. Hingga akhirnya Khania memghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit.
Amara di liputi kesedihan selama satu bulan. Khay masih belum bisa bicara dengan ibunya. Hingga di hari ke 40 setelah kematian Khania, Amara mulai membuka kehidupan Khania selama tinggal di Kota M.
__ADS_1
Mendengar cerita dari ibunya, Khay menyusun rencana bersama Ray untuk menuju ke Kota M.
Saat itu Khay terpaksa menyamar menjadi Khania agar bisa masuk kedalam kamar apartemen Khania.
Khay dan Ray memeriksa barang-barang Khania. Mereka menyusuri kamar apartemen yang cukup sederhana itu dengan teliti.
"Khay, lihat ini!" ucap Ray.
Ray menemukan sebuah buku harian milik Khania.
"Kerja bagus, Ray." Khay menepuk bahu Ray agak kasar.
"Ah, dasar kau, Khay!" Ray kembali menjelajah dan melihat sebuah foto. Itu adalah foto Khania bersama dengan seorang pria yang diyakini sebagai Rakha.
Ray membalik foto itu dan melihat ada tulisan disana.
"Rakhania...?" Ray membaca tulisan dibalik foto.
"Ada apa, Ray?"
"Lihat ini! Mereka sangat cocok bukan? Rakhania. Nama mereka ketika disatukan pun terasa amat serasi. Coba bila denganmu? Rakhayla? Ah, sama sekali tidak cocok!"
Khay menoyor kepala Ray. "Jangan terus bicara! Cari barang-barang yang bisa di jadikan bukti! Kau malah melakukan hal yang tidak perlu!" sungut Khay.
Ray menuju lemari pakaian Khania. Dilihatnya semua gaun-gaun yang tergantung rapi. Ray tersenyum seringai.
"Khay... Aku sudah tidak sabar melihatmu memakai semua gaun-gaun ini!" seru Ray gembira.
Khay memelototi Ray dengan sangat tajam.
Mereka membawa barang-barang yang dirasa perlu kemudian keluar dari apartemen Khania.
Meski apartemen itu sudah sekitar dua bulanan kosong, tapi ternyata ada seseorang misterius yang membayar sewanya.
Khay akan mencari tahu siapa orang dibalik semua itu. Ia yakin jika yang membayar sewa apartemen ada hubungannya dengan kematian Khania.
Berbulan-bulan Khay dan Ray menyelidiki tentang Rakha dan juga keluarganya. Mereka mengamati kegiatan semua orang yang tinggal di mansion mewah itu.
Hingga akhirnya satu tahun sudah mereka mengawasi dan mencari bukti, Khay telah siap untuk menjalankan rencananya bersama Ray. Khay akan menyamar menjadi Khania.
Namun rencana Khay terkendala kala mereka mendengar berita tentang Rakha yang membangun cabang di Kota D.
Rencana yang semula Khay akan pindah ke Kota M untuk menyamar, kini berubah dan harus Khay susun ulang lagi kerangka rencananya agar terlihat lebih natural ketika ia bertemu dengan Rakha sebagai Khania.
#bersambung...
Yang mampir jangan lupa tinggalkan jejak yaa👣👣
Terima kasih 🙏🙏
__ADS_1