
Halo readers kesayangan mamak, RaKhania is back! Don’t forget to leave
Like and Comments. Thank You.
*Happy Reading*
Andre yang mendapat perintah dari Khay segera melaksanakan
apa yang Khay inginkan. Ia merasa heran kenapa Khay harus bekerja sendiri untuk
menemukan misteri ini. Andre memutuskan untuk menghubungi Ray menjadi partner Khay
dalam kasus ini.
Lama panggilan dari Andre tidak diangkat oleh Ray, hingga
akhirnya….
“Halo, Ray, kemana saja kau? Kenapa tidak mengangkat
panggilan dariku?”
“Maaf, aku sedikit sibuk, hehe.” Jawab Ray santai.
“Bukankah seharusnya kesibukanmu adalah menemani Khay? Kenapa
kau malah bertindak sendiri, huh?”
“Ndre, aku juga punya kesibukan sendiri disini. Lagipula Khay
juga sedang bekerja di kantor, kami biasa bertemu saat makan malam.”
“Apa kau tahu jika Khay sudah menemukan sesuatu?”
“Heh? Sesuatu apa?”
“Khay memintaku untuk meretas kamera pengawas toko kelontong
yang ada didekat apartemen kalian.”
“Lalu?”
“Aku sedang mengirimkannya pada Khay. Sebaiknya kau segera
temui Khay. Dengar Ray, sebagai temanmu, aku tahu kau sangat ingin menemukan
mereka dan membalaskan dendammu. Tapi, saat ini yang terpenting adalah kau
mendampingi Khay. Karena dia yang akan menuntunmu pada mereka.”
“………………” Ray terdiam.
“Ya sudah, kalau begitu aku tutup dulu teleponnya. Ingat Ray,
kau harus bisa menjaga Khay. Jangan sampai kejadian sepuluh tahun lalu terulang
kembali.”
TUT. Panggilan berakhir.
Ray menghela nafasnya mendengar penuturan Andre. Kemudian ingatannya
kembali ke masa sepuluh tahun lalu. Masa dimana dia merasa sangat bahagia
karena seseorang.
__ADS_1
*Flashback*
Sepuluh tahun lalu, disebuah sekolah menengah atas.
BRUUUUUKKK!!!
“Ouch!!” pekik Ray saat ada seseorang yang menabraknya.
“Ma-Maaf… Aku tidak sengaja. Kamu tidak apa-apa?” Tanya seorang
gadis yang menabrak Ray.
Sejenak Ray terhipnotis oleh pesona gadis didepannya. Tapi ia
segera menyadarkan dirinya kealam nyata.
“Ah, tidak apa-apa. Oh ya, aku baru pertama kali melihatmu
disini. Apa kau murid baru disini?” Tanya Ray.
“Iya, aku baru pindah kesini. Apa kau bisa tunjukkan padaku
dimana ruang administrasinya?”
“Oh, tentu. Mari ikut denganku!”
Dengan senang hati, Ray mengantarkan si anak baru ke ruang
administrasi. Setelah sampai, ternyata Ray masih menunggu gadis itu keluar dari
ruang admin.
“Lho? Kau masih disini?”
sekolah barumu ini.” Jawab Ray asal dengan menggaruk tengkuknya.
Gadis itu tersenyum pada Ray. “Perkenalkan, namaku Zevanya. Nama
kamu?”
“Aku Rayshard, panggil saja Ray.” Ray menerima uluran tangan
gadis itu.
“Senang akhirnya aku memiliki seorang teman.” Ucapnya lagi.
“Iya, aku juga. Oh hei, apa ini? Apa kau memiliki tato?” Tanya
Ray yang melihat sebuah gambar mirip naga di tangan kanan Zevanya.
“Ah, bukan kok. Ini seperti tanda lahir saja. Banyak yang
mengira ini tato, tapi bukan.” Jawab Zavanya dengan masih mengulas senyumnya.
“Ah, begitu. Karena jika itu tato, di sekolah tidak
diperbolehkan untuk menggambar tato di tubuh kita.”
“He’em, aku mengerti.”
“Kau masuk di kelas mana?”
“Kelas C.”
“Oh ya? Kebetulan sekali, itu adalah kelasku.”
__ADS_1
“Wah, sebuah takdir yang indah ya.”
“Hehehe.” Ray hanya bisa nyengir kuda.
.
.
.
Perkenalan singkat itu nyatanya berhasil membekas di hati
Ray hingga saat ini. Ray tiba di apartemen dan langsung menuju ke kamar Khay. Ia
mengetuk pintu terlebih dahulu. Khay membukakan pintu dan mempersilahkan Ray
masuk.
“Khay, kudengar kau sudah menemukan sesuatu?” Tanya Ray to
the point karena melihat Khay sedang sibuk didepan laptopnya.
“He’em. Lihat ini!”
Ray langsung mengambil alih laptop ke tangannya.
“Itu adalah rekaman video kamera pengawas dari toko
kelontong beberapa waktu lalu saat kita baru pertama kali pindah kemari. Coba kau
perhatikan orang yang mengintai kita. Lihat baik-baik saat dia sedang menelepon seseorang. Kita hanya
melihatnya dari atas sini jadi tidak begitu jelas.”
“Iya, dan orang itu juga memakai masker dan juga topi. Sangat
sulit untuk mengenali orang itu.”
“Tidak, Ray. Bukan itu maksudku. Coba perhatikan dengan baik
penampilan orang itu. Tangan kanannya yang memegang ponsel. Bila kita perbesar
gambarnya, akan terlihat sebuah tanda ditangan kanannya. Itu adalah tato yang
sama yang kulihat pada pria yang kuhajar waktu itu.”
Ray Nampak memperhatikan penjelasan Khay.
“Lalu, perhatikan dengan rekaman video lainnya. Ini adalah
gambar pria yang waktu itu kukejar. Jelas jika di tangan kanannya tidak ada
tato seperti orang yang barusan. Itu berarti mereka memang bukan dari kelompok
yang sama. Maka dapat kusimpulkan, jika ada dua pihak yang sedang mengawasi
gerak gerik kakakku. Benar begitu kan, Ray?”
Ray tidak menjawab dan hanya menatap Khay dengan tatapan
yang sulit diartikan.
#bersambung…
What’s happen next? Stay tuned!
__ADS_1