RaKhania

RaKhania
RaKhania ~ 043


__ADS_3

...Halo readers kesayangan mamak, RaKhania is back! Don’t forget to leave Like and Comments. Thank You....


...*Happy Reading*...


Liana nampak tahu apa yang sedang dirasakan oleh Ken. Ia tak mau Ken melanjutkan kalimatnya.


Liana menatap Khay yang sedang menunduk dan berpikir. "Apa kau tahu apa tujuan kakakmu datang ke kota ini?" Tanya Liana yang membuat Khay mendongakkan kepala menatap padanya.


"Iya. Tujuannya adalah Rakha, putramu." jawab Khay datar.


"Liana, Khay sudah tahu semuanya. Lalu, apa yang akan dilakukan oleh ISS? Memancing mereka keluar atau dengan memasukkan penyusup kedalam organisasi lagi?" tanya Rein.


"Menyamar lagi? Tidak! Aku tidak akan membiarkan hal semacam itu lagi. Aku sudah kehilangan James, dan Ken juga hampir celaka. Aku tidak bisa melakukan hal itu lagi." tegas Liana.


Khay merasa jika Liana adalah tipe keibuan yang amat baik. "Tapi kenapa dia terlihat galak padaku saat pertama bertemu? Apa karena dia tahu jika aku bukanlah Khania yang asli?" batin Khay lagi.


"Lalu apa yang akan kau lakukan?" tanya Rein lagi.


"Kau sendiri? Apa yang akan polisi lakukan untuk menangkap mereka?" Tanya Liana sambil melipat tangannya.


"Aku yakin jika mereka mengincar Khay." ucap Rein.


"Eh?!" semua orang yang ada disana cukup terkejut.


"Nak... Berhati-hatilah. Paman yakin mereka menyelidikimu. Karena kau menyamar sebagai Khania."


Khay melirik kearah Ray.


"Kau tenang saja, aku akan menjagamu..." ucap Ray.


Khay tersenyum mendengar kalimat Ray. Ken hanya memperhatikan interaksi mereka berdua dengan tatapan aneh.


Khay kembali ke apartemen dan merebahkan tubuhnya. Ia memijat pelipisnya pelan. Kini beberapa orang sudah tahu jika dirinya bukanlah Khania yang asli.


Meski Liana tidak akan membocorkan rahasianya pada Rakha, tapi tetap saja Khay khawatir jika Rakha akan menyadari jika Khay bukanlah Khania.


"Haduh, Ya Tuhan! Apa yang harus kulakukan? Kenapa jadi serumit ini sih? Organisasi hitam? ISS? Kenapa aku jadi masuk kedalam lingkaran ini?"


Tok


tok


tok


"Khay!!! Ini aku, Ray. Buka pintunya!"


Khay menuju pintu dan membukanya.


"Ada apa, Ray?"


"Ini..." Ray memberikan sebuah kotak.

__ADS_1


"Apa ini?" tanya Khay mengerutkan dahi.


"Sebuah kalung. Ayahku yang memberikannya. Kau pakailah!"


"Kalung? Untuk apa?"


"Ayah bilang ada alat pelacak didalamnya. Ini hanya untuk berjaga-jaga saja."


Khay tertawa kecil. "Hei, Ray, tidak perlu begini. Aku...."


"Sudahlah, jangan membantah. Kita harus mengantisipasi apapun yang bisa terjadi. Kau tidak tahu seperti apa kejamnya mereka. Aku... tidak mau terjadi sesuatu denganmu..."


"Ray..."


Khay pun memeluk Ray. "Tenang saja! Aku pasti baik-baik saja."


"Iya. Aku ingin kau selalu baik-baik saja." ucap Ray membelai rambut Khay dalam pelukannya.


Keesokan harinya, Khay bersiap untuk berangkat ke kantor. Ia sedang memesan ojek online melalui ponselnya.


Tiba-tiba...


Tiiiiin


Tiiiinnn


Sebuah mobil berhenti di depan Khay. Khay memicingkan mata melihat siapa yang mengklakson dirinya. Mobil itu tidak Khay kenal.


Khay memutar bola matanya malas.


"Tidak. Aku sudah memesan ojek." Jawab Khay ketus.


"Ayolah, nona! Jangan menolakku!" ucap orang itu lagi.


"Huft! Iya, baiklah." Khay pun setuju untuk naik kedalam mobil orang itu.


"Dari mana kau tahu aku tinggal disini?" tanya Khay masih dengan nada juteknya.


"Dari Ibu Liana. Calon ibu mertuamu." jawab pria yang tak lain adalah Ken.


"Cih. Mau apa kau datang menemuiku?"


"Ada hal yang harus kukatakan padamu."


"Soal apa?"


"Soal kakakmu..."


Khay menatap Ken dengan tajam.


"Kau sangat mengenal kakakku?" tanya Khay.

__ADS_1


"Iya, tentu saja. Kami bersama di organisasi."


"Seberapa dekat kau dengannya?"


Ken memegang erat kemudinya. Ada rasa tak biasa saat Khay menanyakan hal itu.


"Kau menyukainya?" tebak Khay.


"Hmm, begitulah."


Khay mengangguk paham. "Tapi kau patah hati karenanya..."


"Hahaha, dari mana kau tahu?"


"Dia memang tidak bisa kupahami. Entah dia mencintai Rakha atau tidak. Tapi dia... Malah berhubungan dengan Jonas."


"Kau sudah tahu?"


"Dia menulis semuanya di buku hariannya..."


"Eh? Buku harian? Apa dia menulis tentangku juga?"


"Entahlah. Aku tidak membacanya lagi. Hatiku sesak. Aku kecewa padanya..." Khay memalingkan wajah dan menatap keluar mobil.


"Jangan membencinya. Apa kau tahu dia juga begitu menderita?"


"Itu semua salahnya!!!" teriak Khay emosi. Matanya hampir saja mengeluarkan buliran bening. Namun ia berusaha menahannya.


"Baiklah... Aku tidak akan membahas tentangnya lagi..." ucap Ken menutup pembicaraan mereka.


Di kantor, Khay tidak bisa fokus bekerja. Ia merasa malu menghadapi dunia karena ulah kakaknya.


Sudah lama juga ia tidak menghubungi ibunya. Ia ingin sekali menemui ibunya. Ia merindukan ibunya.


Di sela lamunannya, ponsel Khay berdering.


"Disha?" kening Khay berkerut.


Khay mengangkat panggilan dari Disha. Seperti biasa Disha mengajak Khay makan siang bersama. Khay tahu jika gadis itu kesepian. Meski harta dan popularitas mengelilinginya, namun ia tidak memiliki teman yang bisa diajak berbagi. Disha merasa jika Khay sangat tulus dalam bersikap.


Khay melambaikan tangan saat mobil Disha tiba di lobi kantor. Baru saja Khay masuk kedalam mobil, seseorang membekap dirinya dengan sebuah kain yang sudah diolesi obat bius.


Khay meronta. Namun obat bius itu bekerja sangat cepat. Khay pun tak sadarkan diri.


Disha dengan cepat memacu mobilnya. Ia menuju ke sebuah tempat yang sudah disepakati.


Namun saat tiba di tempat yang dituju, Disha pun dibekap oleh seorang pria yang tidak ia kenal. Tubuh Disha dibawa terpisah dari Khay.


#bersambung....


*Siapa yg sudah menculik Khay dan Disha? Ayo beri pendapat kalian 😬😬

__ADS_1


thank you.


__ADS_2