
Ken membuka pintu kamarnya dan berjalan dengan bersiul gembira. Semalam ia tak sempat bertemu dengan Khay karena ia pulang larut malam.
Pagi ini ia berencana menemui Khay. Namun tiba-tiba, Ken melihat pintu kamar Khay terbuka dan sayup-sayup terdengar pembicaraan dua orang.
Ken menguping dari luar pintu dan mendengar suara Liana.
"Dia bukan Khania, Bu..."
Ken membulatkan mata mendengar kalimat itu dari mulut Rakha.
"Kalian bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik-baik. Jangan menggunakan egomu, nak..." nasihat Liana.
"Seharusnya sejak awal dia berkata jujur. Dia menyamar hanya untuk mencari tahu fakta tentang Khania. Khania terluka, Bu. Dia terbaring koma di rumah sakit."
HAH?!
Ken tak percaya jika Khay akan mengatakan kebenaran tentang Khania pada Rakha. Ken segera pergi dari rumah Rakha dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Yang ada dipikirannya saat ini adalah ia harus segera bertemu dengan Khay.
Ken berlarian begitu tiba di apartemen dan segera menekan tombol lift menuju kamar Khay. Ken kembali berlari dengan tergesa agar lekas sampai di kamar Khay.
Ken menggedor pintu kamar Khay.
"Khay!!! Khay buka pintunya!!!" teriak Ken di depan kamar Khay.
Seorang petugas kebersihan apartemen menghampiri Ken.
"Maaf tuan, kamar ini milik Nona Khania, bukan Khay." ucap pria itu.
"Eh? Ah iya. Saya mencari Nona Khania. Kira-kira apa dia ada di kamarnya?" Ken menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Semalam Nona Khania memang pulang kesini, tapi kemudian pergi lagi, Tuan. Saya tidak tahu kemana perginya." jelas petugas kebersihan itu.
"Oh, begitu ya. Terima kasih." Ucap Ken.
Ken segera meraih ponselnya dan menghubungi ponsel Ray. Ken mengumpat kesal karena ponsel Ray tidak aktif.
"Ray!!! Kenapa di saat penting begini ponselmu malah tak aktif." Ken mendengus sebal kemudian pergi dari apartemen Khay. Ken memutuskan untuk pergi ke rumah sakit.
Sementara itu di rumah sakit, Ray masih terlelap dengan nyenyak. Rasanya baru kali ini ia tidur dengan tenang tanpa gangguan siapapun.
"Hoaaamm!!!" Ray mulai menggeliat dan mengerjapkan matanya.
"Aaahh, rasanya nyaman sekali..." Ray meregangkan otot-ototnya yang kaku dan kembali melirik ke arah Khania.
Hmm, mungkin hanya perasaanku saja.
Ray menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Beberapa menit kemudian, Ray keluar dari kamar mandi dan mendapati Ken sudah duduk di sofa.
"Astaga!!! Ken!! Kau mengejutkanku!" Ray mengelus dadanya untuk menetralkan kekagetannya.
"Kau yang mengejutkanku. Kenapa ponselmu tidak aktif?" Sungut Ken.
"Ups, maaf. Semalam sengaja kumatikan karena ayahku terus saja menelepon. Ada apa?"
"Khay menghilang?"
"Hah?! Menghilang? Bagaimana bisa?" Ray terperanjat.
"Khay sudah mengakui semuanya di depan Rakha."
"Apa?! Lalu bagaimana dengan hubungan mereka?" Ray mulai antusias.
"Hei, bung. Apa kau senang jika Rakha dan Khay berpisah?"
"Hahaha, tidak begitu juga, bung." Ray menggaruk tengkuknya.
"Sekarang sebaiknya kau cari dimana Khay."
"Kenapa tidak hubungi saja ponselnya?"
"Tidak di jawab."
"Mungkin Khay ingin menenangkan diri. Kita jangan mengganggunya dulu."
Ken menghela nafas lalu melirik kearah Khania.
"Kau pergilah, aku yang akan menjaga Khania sekarang. Jika ada hal yang mencurigakan, segera laporkan."
__ADS_1
"Ck, iya, iya. Aku ini bukan anggota ISS, kenapa kau suka sekali menyuruhku?"
"Ray, apa kau mau bergabung dengan ISS?"
"Hah?! Aku?"
Ray memalingkan wajah. "Tidak! Aku lebih suka bekerja bebas seperti ini." jawab Ray lalu keluar dari kamar itu.
Ken duduk di samping brankar Khania. Ken menggenggam erat tangan Khania.
"Bangunlah, Khania... Kumohon bangunlah!!!" lirih Ken dengan memejamkan mata.
Betapa Ken menginginkan wanita yang dicintainya segera pulih dan kembali ceria seperti dulu.
Buliran bening menetes dari sudut mata Khania. Ia tak menyangka jika pria ini sangat mencintainya. Meski sejak dulu selalu ia buktikan, namun Khania tak pernah tersentuh oleh ketulusan cinta Ken.
"Ken..."
"Hah?!" Ken segera mendongakkan kepalanya. Ia melihat Khania sudah membuka matanya.
"Khania..."
.
.
.
.
Rakha bergegas akan berangkat ke kantor, namun di cegat oleh Liana.
"Nak..."
"Ibu?"
"Apa sebaiknya kau tidak perlu pergi ke kantor? Suasana hatimu sedang kacau, Nak. Jangan memaksakan diri."
"Tidak, Bu. Ada banyak hal yang harus kukerjakan. Aku tidak bisa meninggalkan perusahaan begitu saja. Ribuan orang bergantung padaku."
Liana hanya bisa menghela nafas dan melepas kepergian Rakha.
"Bos, kau baik-baik saja?"
"Iya, aku tidak apa." Rakha memasuki mobil.
Tak lama Dika mengemudikan mobil keluar halaman rumah yang mewah itu.
"Sebenarnya kau ingin kemana? Kulihat suasana hatimu sedang tidak bagus." ucap Dika.
"Antarkan aku ke persidangan Om Alan."
"Hah?!"
"Kudengar dari Daniel jika hari ini kasus Om Alan akan disidangkan secara tertutup. Tidak semua orang bisa menghadiri sidang ini."
Dika hanya mengangguk dan segera melaju menuju ke pengadilan.
.
.
.
Tiba di pengadilan, Rakha bertemu dengan Disha yang secara tak terduga menghadiri sidang Alan Thariq.
"Kak Rakha?"
"Jadi, kau juga datang?"
Disha mengangguk. Disha melirik ke arah Dika.
"Aku minta maaf karena aku tidak memberitahu kakak ataupun Dika. Aku pikir kakak tidak akan setuju jika aku datang ke persidangan ay... maksudku Om Alan..."
Rakha merangkul bahu adiknya itu.
"Tidak apa. Kau sudah menjadi putri Om Alan selama bertahun-tahun. Jadi, pasti sulit untuk mengubah panggilan ayah padanya."
__ADS_1
"Terima kasih karena kakak mau mengerti."
Rakha, Disha dan Dika mulai memasuki ruang sidang yang memang tidak di hadiri oleh siapapun. Daniel menolong Rakha agar bisa mengikuti jalannya persidangan.
Banyak hal yang ingin Rakha tanyakan pada Alan. Terutama tentang meninggalnya ayah kandungnya.
Dua jam persidangan, akhirnya Alan Thariq akan dikembalikan ke rumah tahanan pria. Sebelum itu, Rakha meminta waktu agar bisa bertemu dengan Alan secara pribadi.
Dengan tangan terborgol, Alan menemui Rakha dan Disha yang sudah menunggunya di satu ruangan tertutup.
"Untuk apa kalian ingin menemuiku?" tanya Alan dingin.
Disha terlihat sedih dengan kondisi pria paruh baya yang sudah merawatnya sejak kecil.
"Ayah..." Disha menghampiri Alan.
"Hentikan! Aku bukanlah ayahmu!" seru Alan.
"Om, aku tahu kejahatan Om tidak akan bisa aku maafkan. Tapi, aku hanya ingin tahu satu hal dari Om. Apa alasannya? Kenapa Om tega melakukan ini pada kami? Apa salah kami pada Om?" ujar Rakha.
Alan tampak memalingkan wajahnya.
"Kalian tidak bersalah." ujar Alan.
"Hah?!" Rakha terkejut.
"Ayah kalianlah yang bersalah. Dia sudah merebut semuanya dari Om."
"Tidak mungkin! Ayahku bukan orang yang seperti itu!" seru Rakha. Sebelumnya ia memang sudah tahu tentang alasan Alan. Tapi Rakha masih belum yakin sebelum mendengar langsung dari mulut Alan.
"Karena kau putranya, kau pasti tidak akan percaya. Tapi itulah kenyataannya. Dia sudah menghancurkan hidupku. Merebut bisnisku dan juga wanita yang kucintai."
Rakha mendengarkan dengan seksama.
"Ibumu dan aku sudah lebih dulu saling mengenal. Tapi Ardi datang dan merebutnya. Dia sengaja menghamili Arsinta agar bisa mengikat wanita itu dengan obsesinya. Lalu kau lahir ke dunia, Rakha. Kau masih polos dan tidak tahu apapun. Tapi aku bertekad untuk membalaskan semuanya dengan meminta bantuan organisasi hitam."
DEG
"A-apa? Organisasi hitam?" Rakha dan Disha saling pandang.
"Tanyakan saja pada Ibumu. Dia akan menjelaskan semuanya tentang itu."
"Lalu, apa setelah membalas dendam, Om merasa bahagia? Om bahagia melihat Niya membusuk di penjara?"
Alan tersenyum getir.
"Sejak kapan Niya tahu jika dirinya ditukar denganku?" Kini Disha berani bertanya.
"Sepuluh tahun lalu. Sebelum aku melenyapkan ayah kalian."
Disha menahan air matanya agar tidak jatuh. Sungguh kenyataan ini amat berat baginya.
"Aku memberitahu semua padanya. Awalnya dia memang tidak percaya. Tapi dengan melakukan tes DNA, akhirnya Niya percaya. Tolong kalian maafkan Niya. Dia sama sekali tidak tahu apapun soal ini."
Setelah Rakha memberi kode jika semua dirasa sudah cukup, penjaga rumah tahanan dan beberapa orang polisi, membawa Alan keluar dari ruangan itu.
Rakha dan Disha saling berpelukan dan merasakan lega dalam hatinya.
"Sekarang, berbahagialah!" ucap Rakha mengusap air mata Disha.
"Iya. Kakak juga. Selesaikan masalah kakak dengan Khania dan Khayla. Ikuti kata hati kakak, mana yang lebih kakak cintai. Khania atau Khayla?"
...***...
#bersambung...
*wuih, spesial pake telor nih episod panjangan dikit πππ
Jangan lupa dukungannya untuk karya receh mamak yg satu ini. Kuharap kalian tetap setia menemani sampai cerita ini selesai yaak ππ
Give me Like, Vote, Comments, and Gifts, Becoz U are my everything πππ
...TERIMA KASIH...
Mampir juga di....
__ADS_1