
Halo readers kesayangan mamak, RaKhania is back! Don’t forget to leave
Like and Comments. Thank You.
*Happy Reading*
TAP
TAP
TAP
Terdengar derap langkah kaki sepatu pria mendekat masuk ke
ruang kerja Andre. Saat ini Andre tengah sibuk mengutak-atik laptop dengan
tangannya yang cekatan.
“Bagaimana? Apa sudah ada petunjuk?” suara berat pria paruh
baya itu menghentikan aktifitas Andre sejenak.
“Iya, Paman Rein. Sepertinya Khayla berhasil menemukan
sesuatu. Ia memintaku untuk meretas kamera pengawas milik toko dekat apartemennya.
Tapi, untuk rekaman setahun yang lalu belum bisa kudapatkan. Karena jangka
waktunya yang terlalu lama, jadi agak sulit untuk mengambil datanya. Tapi,
sekecil apapun kemungkinannya, aku akan tetap mencarinya, paman.”
“Baguslah. Semoga Khay cepat menemukan jawabannya sendiri.”
“Tapi, paman. Khay sepertinya tahu jika orang-orang itu
memiliki sebuah tato di tangan kanan yang sama dengan milik Khania, kakaknya. Jika
dia mencari tahu soal tato itu, maka dia akan mengetahui yang sebenarnya.”
“Apa dia bertanya padamu?”
“Sejauh ini belum. Lalu bagaimana jika Khay bertanya padaku,
apakah aku harus mengatakan kebenarannya pada Khay?”
“Tidak. Aku tahu sifat Khay. Dia akan mencari tahu sendiri
jawabannya. Jadi, biarkan saja dia. Kita akan menunggu hingga waktu itu tiba. Lagipula,
aku mendapat kabar jika ISS juga terlibat disini.”
“ISS?”
“Kau pernah dengar kelompok agen rahasia yang dibentuk
pemerintah untuk menyelidiki kasus-kasus tersembunyi dan tidak terlacak oleh publik?”
__ADS_1
“Hu’um, sepertinya pernah dengar. Tapi aku pikir, itu
hanyalah rumor biasa dan bukan nyata.”
“Itu bukan rumor, Ndre. Mereka nyata. Dan ada kemungkinan
jika mereka berada di dekat Khay saat ini.”
“Heh?” Andre makin mengerutkan kening.
“Sepertinya kali ini, bukan hanya Khay yang akan menghadapi peristiwa
besar. Tapi juga kita. Bersiaplah, Ndre. Kita pasti akan segera menemukan
mereka.” Ucap Rein penuh penekanan dengan mengepalkan tangannya.
,
,
,
,
,
Malam itu, rakha mengantarkan Khay kembali ke apartemen usai
acara makan malam bersama di rumah Rakha. Selama perjalanan, Khay hanya terdiam
dan tidak berniat untuk membuka suaranya. Pikirannya di isi berbagai spekulasi
Rakha bilang kakak dan
ibunya sangat dekat. Tapi apa tadi? Dia sangat dingin padaku. Atau dia tahu
jika aku memang bukan Khania yang asli. Lalu, kenapa dia diam saja dan tidak
sekalian saja mencecarku dengan berbagai pertanyaan? Dia hanya bertanya satu
pertanyaan. Apa itu adalah sebuah kode untuk mengetahui jika aku Khania yang
asli atau bukan? Benar juga! Kenapa tidak terpikir olehku? Dia hanya mengujiku.
Dan jika dia mengira jika aku bukan yang asli, maka…. Dia pasti tahu sesuatu
tentang menghilangnya kakakku. Atau jangan-jangan….
“Sayang… sedari tadi kau hanya diam. Apa terjadi sesuatu
antara kau dan ibuku?” akhirnya Rakha mengeluarkan suaranya.
“Ti-tidak. Tidak ada. Aku hanya sedang menatap jalanan saja.”
Khay berusaha bersikap senormal mungkin dan tetap tersenyum.
Untuk sementara aku
__ADS_1
akan mengenyampingkan soal ibu Rakha, aku akan fokus mencari tahu soal gambar
naga itu dulu saja. Aku sangat penasaran. Apa mungkin Ray tahu sesuatu? Tapi kenapa
dia tidak mengatakan apapun padaku? Apa ada yang dia sembunyikan? Aah, semua
ini terlalu rumit. Kak, sebenarnya apa yang terjadi denganmu? Kenapa aku merasa
kehidupanmu sangatlah penuh dengan misteri. Dan kenapa aku tidak pernah
mengetahuinya? Aku adalah adikmu dan kau tidak menceritakan apapun padaku. Aku sungguh kecewa, kak…
Khay berjalan dengan tegap masuk kedalam apartemennya. Ia menuju
ke kamar Ray. Entah kenapa firasatnya berkata jika Ray mengetahui sesuatu dan
menyembunyikannya dari Khay. Khay mengetuk pintu kamar Ray.
“Hai, Khay. Kau sudah pulang? Ya ampun, ini sudah malam
kenapa tidak mengganti bajumu lalu pergi tidur.”
“Tidak. Aku tidak akan bisa tidur sebelum aku bicara
denganmu.”
“Heh?! Bicara apa? Kalau begitu, masuklah!”
Ray mempersilahkan Khay masuk dan duduk di sofa sederhana
kamar Ray. Yah memang apartemen mereka memang amat sangat sederhana dan jauh
dari kesan mewah. Bahkan tidak terpasang kamera pengawas di seluruh bagian
apartemen.
“Ray, aku rasa aku mulai menemukan titik terang dari masalah
ini. Aku… mulai bisa mengendus apa yang sebenarnya terjadi pada kakakku.”
Ray membelalakkan mata mendengar pernyataan Khay. “Lalu?”
“Tolong katakan yang sebenarnya padaku, Ray. Kau tahu
sesuatu tentang misteri ini, bukan?” ucap Khay dengan mata berkaca-kaca.
Ray hanya bisa menghela nafas.
“Kita adalah partner. Jadi, aku mohon jangan sembunyikan
apapun dariku…” pinta Khay dengan wajah memelasnya. “Aku tidak bisa menghadapi
semua ini sendirian, Ray. Aku lelah…” lanjut Khay.
“Kau tidak sendirian, Khay. Jangan takut! Kita akan
menghadapinya bersama…”
__ADS_1
#bersambung…