RaKhania

RaKhania
RaKhania ~ 026


__ADS_3

Halo readers kesayangan mamak, RaKhania is back! Don’t forget to leave


Like and Comments. Thank You.


*Happy Reading*


TAP


TAP


TAP


Terdengar derap langkah kaki sepatu pria mendekat masuk ke


ruang kerja Andre. Saat ini Andre tengah sibuk mengutak-atik laptop dengan


tangannya yang cekatan.


“Bagaimana? Apa sudah ada petunjuk?” suara berat pria paruh


baya itu menghentikan aktifitas Andre sejenak.


“Iya, Paman Rein. Sepertinya Khayla berhasil menemukan


sesuatu. Ia memintaku untuk meretas kamera pengawas milik toko dekat apartemennya.


Tapi, untuk rekaman setahun yang lalu belum bisa kudapatkan. Karena jangka


waktunya yang terlalu lama, jadi agak sulit untuk mengambil datanya. Tapi,


sekecil apapun kemungkinannya, aku akan tetap mencarinya, paman.”


“Baguslah. Semoga Khay cepat menemukan jawabannya sendiri.”


“Tapi, paman. Khay sepertinya tahu jika orang-orang itu


memiliki sebuah tato di tangan kanan yang sama dengan milik Khania, kakaknya. Jika


dia mencari tahu soal tato itu, maka dia akan mengetahui yang sebenarnya.”


“Apa dia bertanya padamu?”


“Sejauh ini belum. Lalu bagaimana jika Khay bertanya padaku,


apakah aku harus mengatakan kebenarannya pada Khay?”


“Tidak. Aku tahu sifat Khay. Dia akan mencari tahu sendiri


jawabannya. Jadi, biarkan saja dia. Kita akan menunggu hingga waktu itu tiba. Lagipula,


aku mendapat kabar jika ISS juga terlibat disini.”


“ISS?”


“Kau pernah dengar kelompok agen rahasia yang dibentuk


pemerintah untuk menyelidiki kasus-kasus tersembunyi dan tidak terlacak oleh publik?”

__ADS_1


“Hu’um, sepertinya pernah dengar. Tapi aku pikir, itu


hanyalah rumor biasa dan bukan nyata.”


“Itu bukan rumor, Ndre. Mereka nyata. Dan ada kemungkinan


jika mereka berada di dekat Khay saat ini.”


“Heh?” Andre makin mengerutkan kening.


“Sepertinya kali ini, bukan hanya Khay yang akan menghadapi peristiwa


besar. Tapi juga kita. Bersiaplah, Ndre. Kita pasti akan segera menemukan


mereka.” Ucap Rein penuh penekanan dengan mengepalkan tangannya.


,


,


,


,


,


Malam itu, rakha mengantarkan Khay kembali ke apartemen usai


acara makan malam bersama di rumah Rakha. Selama perjalanan, Khay hanya terdiam


dan tidak berniat untuk membuka suaranya. Pikirannya di isi berbagai spekulasi


Rakha bilang kakak dan


ibunya sangat dekat. Tapi apa tadi? Dia sangat dingin padaku. Atau dia tahu


jika aku memang bukan Khania yang asli. Lalu, kenapa dia diam saja dan tidak


sekalian saja mencecarku dengan berbagai pertanyaan? Dia hanya bertanya satu


pertanyaan. Apa itu adalah sebuah kode untuk mengetahui jika aku Khania yang


asli atau bukan? Benar juga! Kenapa tidak terpikir olehku? Dia hanya mengujiku.


Dan jika dia mengira jika aku bukan yang asli, maka…. Dia pasti tahu sesuatu


tentang menghilangnya kakakku. Atau jangan-jangan….


“Sayang… sedari tadi kau hanya diam. Apa terjadi sesuatu


antara kau dan ibuku?” akhirnya Rakha mengeluarkan suaranya.


“Ti-tidak. Tidak ada. Aku hanya sedang menatap jalanan saja.”


Khay berusaha bersikap senormal mungkin dan tetap tersenyum.


Untuk sementara aku

__ADS_1


akan mengenyampingkan soal ibu Rakha, aku akan fokus mencari tahu soal gambar


naga itu dulu saja. Aku sangat penasaran. Apa mungkin Ray tahu sesuatu? Tapi kenapa


dia tidak mengatakan apapun padaku? Apa ada yang dia sembunyikan? Aah, semua


ini terlalu rumit. Kak, sebenarnya apa yang terjadi denganmu? Kenapa aku merasa


kehidupanmu sangatlah penuh dengan misteri. Dan kenapa aku tidak pernah


mengetahuinya? Aku adalah adikmu dan kau tidak menceritakan apapun padaku. Aku sungguh  kecewa, kak…


Khay berjalan dengan tegap masuk kedalam apartemennya. Ia menuju


ke kamar Ray. Entah kenapa firasatnya berkata jika Ray mengetahui sesuatu dan


menyembunyikannya dari Khay. Khay mengetuk pintu kamar Ray.


“Hai, Khay. Kau sudah pulang? Ya ampun, ini sudah malam


kenapa tidak mengganti bajumu lalu pergi tidur.”


“Tidak. Aku tidak akan bisa tidur sebelum aku bicara


denganmu.”


“Heh?! Bicara apa? Kalau begitu, masuklah!”


Ray mempersilahkan Khay masuk dan duduk di sofa sederhana


kamar Ray. Yah memang apartemen mereka memang amat sangat sederhana dan jauh


dari kesan mewah. Bahkan tidak terpasang kamera pengawas di seluruh bagian


apartemen.


“Ray, aku rasa aku mulai menemukan titik terang dari masalah


ini. Aku… mulai bisa mengendus apa yang sebenarnya terjadi pada kakakku.”


Ray membelalakkan mata mendengar pernyataan Khay. “Lalu?”


“Tolong katakan yang sebenarnya padaku, Ray. Kau tahu


sesuatu tentang misteri ini, bukan?” ucap Khay dengan mata berkaca-kaca.


Ray hanya bisa menghela nafas.


“Kita adalah partner. Jadi, aku mohon jangan sembunyikan


apapun dariku…” pinta Khay dengan wajah memelasnya. “Aku tidak bisa menghadapi


semua ini sendirian, Ray. Aku lelah…” lanjut Khay.


“Kau tidak sendirian, Khay. Jangan takut! Kita akan


menghadapinya bersama…”

__ADS_1


#bersambung…


__ADS_2