
Halo readers kesayangan mamak, RaKhania is back! Don’t forget to leave
Like and Comments. Thank You.
*Happy Reading*
Khay menyusuri kamar milik Liana. Seperti yang pernah
terjadi dengan kamar Khania, Khay juga ikut menyelidik ke beberapa lukisan yang
ada di kamar Liana. Mungkin saja ada petunjuk atau brankas yang tersimpan di
balik lukisan yang terpajang di dinding.
“Aku yakin ada sesuatu yang aneh dengan ibu Liana. Pertanyaannya waktu itu kepadaku, membuatku yakin
jika dia pasti mencurigaiku. Dan aku jadi mencurigainya. Bisa saja dia ada hubungannya
dengan menghilangnya kak Khania di malam itu. orang yang membawa kakak pergi
bukanlah anggota organisasi hitam, jadi pasti kemungkinannya mereka adalah agen
ISS.” Batin Khay.
.
.
.
.
.
*Flashback*
“Tapi, nak, ISS tidak akan akan membunuh orang meski orang
itu berasal dari organisasi hitam.” Jelas Rein pada Khay saat Khay bicara
berdua dengan Rein.
“Tapi, paman, aku yakin orang-orang itu bukan dari
organisasi. Paman lihat sendiri bukan rekaman videonya?”
“Iya, nak. Tapi, paman minta kau jangan gegabah.”
“Aku yakin orang-orang disekitar Rakha adalah salah satu
dari mereka. Entah itu anggota organisasi ataupun ISS.”
“Adakah yang kau curigai, Nak?”
“Aku mencurigai ibu Liana, ibunya Rakha.”
Rein menghela nafas. “Baiklah. Kuijinkan kau untuk
menyelidikinya. Tapi, kau harus hati-hati. Jangan sampai penyamaranmu
terbongkar.”
“Iya, paman.”
.
.
.
.
.
Khay masih belum menemukan petunjuk penting di kamar Liana. “Bagaimana ini? tidak ada apapun disini. Atau
mungkin… firasatku salah? Sebaiknya aku segera keluar. Rakha pasti akan curiga
jika dia kembali dan aku tidak ada.” Batin Khay. Ia lalu segera keluar dari
kamar Liana.
Dari kejauhan, Liana sudah tersenyum penuh misteri. “Rupanya gadis itu memang mencurigaiku. Tidak
apa. Karena dia tidak akan menemukan apapun disana. Aku tidak sebodoh itu,
Khayla…” gumam Liana dalam hati.
Khay kembali keruang pribadi Rakha. Khay bernafas lega
karena ternyata Rakha belum kembali setelah menerima panggilan telepon.
“Sebenarnya siapa yang meneleponnya hingga lama sekali?”
gumam Khay bertanya-tanya.
Tak lama Rakha kembali ke ruang pribadinya. Mungkin bisa di
__ADS_1
sebut seperti museum kecil miliknya. Ia menaruh benda-benda koleksi
kesayangannya disana.
“Hai, sayang… maaf ya lama…” sapa Rakha pada Khay yang sedang
berdiri memandangi benda-benda koleksi milik Rakha.
Rakha memeluk Khay dari belakang. Khay tersenyum. “Tidak
apa. Apa tadi telepon dari klienmu?”
“Hmm, begitulah.” Jawab Rakha sambil makin mengeratkan
pelukannya.
“Maafkan aku, Khania,
aku tidak bisa memberitahumu jika tadi adalah panggilan dari Niya. Ibu dan Niya
masih belum bisa menerima hubungan kita. Tapi kau tenang saja sayang. Aku akan
berjuang demi cinta kita.” Ucap Rakha dalam hati.
Rakha membalikkan tubuh Khay agar berhadapan dengannya. Rakha
memegang kedua bahu Khay.
“Sayang, berjanjilah kau akan tetap di sisiku. Apapun yang
terjadi. Ya?”
DEG
Kenapa Rakha bertanya
seperti ini? apa yang harus kukatakan?
“Sayang… aku tidak mau kehilangan kamu lagi untuk kedua
kalinya.”
Rakha…
Khay tersenyum lalu mengangguk. Rakha begitu gembira lalu
memeluk Khay dengan erat.
“Terima kasih, sayang… Kita akan menghadapi ini bersama. Jadi
rambut Khay.
.
.
.
.
.
Khay lagi-lagi berjalan gontai menuju kamar apartemennya. Dan
untuk kesekian kalinya, Ray memergoki Khay yang lesu seperti ini.
“Khay! Ada apa denganmu?”
“Ray?” Khay memutar bola matanya malas. Ia merasa lagi-lagi
terciduk oleh Ray.
“Kau belum tidur? Kenapa masih ada di lobi?”
“Aku menunggumu. Kenapa kau tidak bersemangat? Bukankah kau
baru saja bertemu dengan keluarga Rakha?”
Khay menarik nafas lalu menghembuskannya kasar. “Entahlah,
Ray. Aku merasa hidupku ini abu-abu.”
“Abu-abu? Kenapa?”
“Ah, lupakan saja. Ayo kita ke kamar. Oh ya, Andre mana?”
“Ada di kamarku, ada apa?”
.
.
.
“Jadi, kau mencurigai ibunya Rakha sebagai agen ISS?” Tanya Andre.
“Entah dia ISS atau malah organisasi hitam. Tapi aku tidak
__ADS_1
menemukan apapun di kamarnya.”
“Gila! Kau menggeledah kamar orang asing?” Tanya Ray
terperangah.
“Ya mau bagaimana lagi, hanya itu satu-satunya cara. Aku harus
masuk kedalam keluarga itu. dan menemukan petunjuk lain.”
“Umm,Khay… sebenarnya… ada cara lain daripada kau harus
menerobos masuk ke kamar orang. Itu melanggar hukum, Khay.” Ucap Andre. Sepertinya
dia akan memancing Khay agar membaca buku harian Khania.
“Cara apa?”
“Umm…” Andre melirik kearah Ray terlebih dahulu.
“Begini… bukankah kau sendiri memiliki bukti penting dari
masalah ini. kenapa… tidak kau gunakan?”
Khay mendelik kearah Andre. “Maksudmu buku harian milik
kakakku?”
Andre saling pandang dengan Ray.
“Tidak! Aku tidak akan sanggup membacanya.” Jawab Khay
tegas. Ia lalu segera pergi dari kamar Ray dan menuju kamarnya.
Ray mengikuti langkah Khay. Khay melotot kearah Ray. “apa
kau juga ingin menyuruhku agar membaca buku itu?”
“Tidak, Khay. Aku tidak akan setega itu. aku akan menunggu
hingga kau sanggup untuk membukanya dan membacanya.”
“………….” Khay menatap tajam kearah Ray.
“Tadi kami menemui Arthur. Tapi dia juga bungkam. Ayahku yakin
jika Arthur masih berhubungan dengan agen ISS yang menyamar.”
“Lalu?”
Ray mengedikkan bahunya. “Tidak dapat hasil.”
Khay menepuk bahu Ray. “Tunggulah. Aku harus menyiapkan
hatiku dulu untuk membaca buku harian itu. aku merasa bersalah pada Kak Khania
karena telah melakukan semua ini.” ada nada sedih dalam suara Khay.
“Apa ini tentang Rakha?” tebak Ray.
Khay menatap Ray. Ingin rasanya mencurahkan semua rasa
padanya. Namun Khay tidak mau menambah beban Ray.
“Apa kau mencintainya, Khay?”
“Eh?”
“Apa kau mencintai Rakha?”
Khay memalingkan wajahnya. Tanpa Khay menjawab pun, Ray
sudah mengetahui jawabannya.
“Ya sudah, sebaiknya kau istirahat. Besok kau harus bekerja
bukan?” Ray mengusap kepala Khay kemudian berbalik badan dan kembali masuk
kedalam kamarnya.
Ray menutu pintu dan bersandar disana. “Sudah sangat jelas,
Khay. Semuanya sudah sangat jelas…” batin Ray dengan memegangi dadanya.
Sementara Khay, usai membersihkan diri, ia mengambil buku
harian Khania lalu mengusapnya. Khay menatap kedepan dan menerawang jauh. Khay memejamkan
mata dan berusaha meyakinkan dirinya.
Ia tidak mau membiarkan masalah ini semakin larut dan berputar-putar.
Dengan mengumpulkan segala keberaniannya, Khay lalu membuka buku harian itu. Membaca
perlahan lembar demi lembar yang tertulis disana.
#bersambung…
__ADS_1