RaKhania

RaKhania
RaKhania ~ 038


__ADS_3

Halo readers kesayangan mamak, RaKhania is back! Don’t forget to leave


Like and Comments. Thank You.


*Happy Reading*


Khay menyusuri kamar milik Liana. Seperti yang pernah


terjadi dengan kamar Khania, Khay juga ikut menyelidik ke beberapa lukisan yang


ada di kamar Liana. Mungkin saja ada petunjuk atau brankas yang tersimpan di


balik lukisan yang terpajang di dinding.


“Aku yakin ada sesuatu yang aneh dengan ibu Liana. Pertanyaannya waktu itu kepadaku, membuatku yakin


jika dia pasti mencurigaiku. Dan aku jadi mencurigainya. Bisa saja dia ada hubungannya


dengan menghilangnya kak Khania di malam itu. orang yang membawa kakak pergi


bukanlah anggota organisasi hitam, jadi pasti kemungkinannya mereka adalah agen


ISS.” Batin Khay.


.


.


.


.


.


*Flashback*


“Tapi, nak, ISS tidak akan akan membunuh orang meski orang


itu berasal dari organisasi hitam.” Jelas Rein pada Khay saat Khay bicara


berdua dengan Rein.


“Tapi, paman, aku yakin orang-orang itu bukan dari


organisasi. Paman lihat sendiri bukan rekaman videonya?”


“Iya, nak. Tapi, paman minta kau jangan gegabah.”


“Aku yakin orang-orang disekitar Rakha adalah salah satu


dari mereka. Entah itu anggota organisasi ataupun ISS.”


“Adakah yang kau curigai, Nak?”


“Aku mencurigai ibu Liana, ibunya Rakha.”


Rein menghela nafas. “Baiklah. Kuijinkan kau untuk


menyelidikinya. Tapi, kau harus hati-hati. Jangan sampai penyamaranmu


terbongkar.”


“Iya, paman.”


.


.


.


.


.


Khay masih belum menemukan petunjuk penting di kamar Liana. “Bagaimana ini? tidak ada apapun disini. Atau


mungkin… firasatku salah? Sebaiknya aku segera keluar. Rakha pasti akan curiga


jika dia kembali dan aku tidak ada.” Batin Khay. Ia lalu segera keluar dari


kamar Liana.


Dari kejauhan, Liana sudah tersenyum penuh misteri. “Rupanya gadis itu memang mencurigaiku. Tidak


apa. Karena dia tidak akan menemukan apapun disana. Aku tidak sebodoh itu,


Khayla…” gumam Liana dalam hati.


Khay kembali keruang pribadi Rakha. Khay bernafas lega


karena ternyata Rakha belum kembali setelah menerima panggilan telepon.


“Sebenarnya siapa yang meneleponnya hingga lama sekali?”


gumam Khay bertanya-tanya.


Tak lama Rakha kembali ke ruang pribadinya. Mungkin bisa di

__ADS_1


sebut seperti museum kecil miliknya. Ia menaruh benda-benda koleksi


kesayangannya disana.


“Hai, sayang… maaf ya lama…” sapa Rakha pada Khay yang sedang


berdiri memandangi benda-benda koleksi milik Rakha.


Rakha memeluk Khay dari belakang. Khay tersenyum. “Tidak


apa. Apa tadi telepon dari klienmu?”


“Hmm, begitulah.” Jawab Rakha sambil makin mengeratkan


pelukannya.


“Maafkan aku, Khania,


aku tidak bisa memberitahumu jika tadi adalah panggilan dari Niya. Ibu dan Niya


masih belum bisa menerima hubungan kita. Tapi kau tenang saja sayang. Aku akan


berjuang demi cinta kita.” Ucap Rakha dalam hati.


Rakha membalikkan tubuh Khay agar berhadapan dengannya. Rakha


memegang kedua bahu Khay.


“Sayang, berjanjilah kau akan tetap di sisiku. Apapun yang


terjadi. Ya?”


DEG


Kenapa Rakha bertanya


seperti ini? apa yang harus kukatakan?


“Sayang… aku tidak mau kehilangan kamu lagi untuk kedua


kalinya.”


Rakha…


Khay tersenyum lalu mengangguk. Rakha begitu gembira lalu


memeluk Khay dengan erat.


“Terima kasih, sayang… Kita akan menghadapi ini bersama. Jadi


rambut Khay.


.


.


.


.


.


Khay lagi-lagi berjalan gontai menuju kamar apartemennya. Dan


untuk kesekian kalinya, Ray memergoki Khay yang lesu seperti ini.


“Khay! Ada apa denganmu?”


“Ray?” Khay memutar bola matanya malas. Ia merasa lagi-lagi


terciduk oleh Ray.


“Kau belum tidur? Kenapa masih ada di lobi?”


“Aku menunggumu. Kenapa kau tidak bersemangat? Bukankah kau


baru saja bertemu dengan keluarga Rakha?”


Khay menarik nafas lalu menghembuskannya kasar. “Entahlah,


Ray. Aku merasa hidupku ini abu-abu.”


“Abu-abu? Kenapa?”


“Ah, lupakan saja. Ayo kita ke kamar. Oh ya, Andre mana?”


“Ada di kamarku, ada apa?”


.


.


.


“Jadi, kau mencurigai ibunya Rakha sebagai agen ISS?” Tanya Andre.


“Entah dia ISS atau malah organisasi hitam. Tapi aku tidak

__ADS_1


menemukan apapun di kamarnya.”


“Gila! Kau menggeledah kamar orang asing?” Tanya Ray


terperangah.


“Ya mau bagaimana lagi, hanya itu satu-satunya cara. Aku harus


masuk kedalam keluarga itu. dan menemukan petunjuk lain.”


“Umm,Khay… sebenarnya… ada cara lain daripada kau harus


menerobos masuk ke kamar orang. Itu melanggar hukum, Khay.” Ucap Andre. Sepertinya


dia akan memancing Khay agar membaca buku harian Khania.


“Cara apa?”


“Umm…” Andre melirik kearah Ray terlebih dahulu.


“Begini… bukankah kau sendiri memiliki bukti penting dari


masalah ini. kenapa… tidak kau gunakan?”


Khay mendelik kearah Andre. “Maksudmu buku harian milik


kakakku?”


Andre saling pandang dengan Ray.


“Tidak! Aku tidak akan sanggup membacanya.” Jawab Khay


tegas. Ia lalu segera pergi dari kamar Ray dan menuju kamarnya.


Ray mengikuti langkah Khay. Khay melotot kearah Ray. “apa


kau juga ingin menyuruhku agar membaca buku itu?”


“Tidak, Khay. Aku tidak akan setega itu. aku akan menunggu


hingga kau sanggup untuk membukanya dan membacanya.”


“………….” Khay menatap tajam kearah Ray.


“Tadi kami menemui Arthur. Tapi dia juga bungkam. Ayahku yakin


jika Arthur masih berhubungan dengan agen ISS yang menyamar.”


“Lalu?”


Ray mengedikkan bahunya. “Tidak dapat hasil.”


Khay menepuk bahu Ray. “Tunggulah. Aku harus menyiapkan


hatiku dulu untuk membaca buku harian itu. aku merasa bersalah pada Kak Khania


karena telah melakukan semua ini.” ada nada sedih dalam suara Khay.


“Apa ini tentang Rakha?” tebak Ray.


Khay menatap Ray. Ingin rasanya mencurahkan semua rasa


padanya. Namun Khay tidak mau menambah beban Ray.


“Apa kau mencintainya, Khay?”


“Eh?”


“Apa kau mencintai Rakha?”


Khay memalingkan wajahnya. Tanpa Khay menjawab pun, Ray


sudah mengetahui jawabannya.


“Ya sudah, sebaiknya kau istirahat. Besok kau harus bekerja


bukan?” Ray mengusap kepala Khay kemudian berbalik badan dan kembali masuk


kedalam kamarnya.


Ray menutu pintu dan bersandar disana. “Sudah sangat jelas,


Khay. Semuanya sudah sangat jelas…” batin Ray dengan memegangi dadanya.


Sementara Khay, usai membersihkan diri, ia mengambil buku


harian Khania lalu mengusapnya. Khay menatap kedepan dan menerawang jauh. Khay memejamkan


mata dan berusaha meyakinkan dirinya.


Ia tidak mau membiarkan masalah ini semakin larut dan berputar-putar.


Dengan mengumpulkan segala keberaniannya, Khay lalu membuka buku harian itu. Membaca


perlahan lembar demi lembar yang tertulis disana.


#bersambung…

__ADS_1


__ADS_2