RaKhania

RaKhania
RaKhania ~ 079


__ADS_3

Ken dan Khay kembali melanjutkan perjalanan mereka usai mendatangi klini laborat milik teman Ken. Mereka berdua hanya terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Khay, kau ingin pergi kemana?" tanya Ken pada akhirnya memecahkan keheningan.


"Umm, aku tidak ingin kemana-mana. Sebenarnya aku ingin menemui Ray, tapi..."


"Apa dia masih marah denganmu?"


"Entahlah..." Khay mengedikkan bahunya.


"Kau bahkan tidak peka dengan perasaannya."


"Eh? Apa maksudmu?"


"Kau benar-benar payah, Khay..."


"Cih, kau ini. Selalu bicara berputar-putar. Katakan saja intinya apa susahnya!!" sungut Khay.


Ken malah terkekeh melihat tingkah Khay.


"Oh ya, masalah gadis itu... Aku yakin dia sudah mengetahui sejauh apa hubunganmu dengan Rakha, makanya dia berani berbuat makin jauh."


"Maksudmu? Aaah, aku tahu. Aku lupa jika dia memasang alat penyadap di kamar Rakha. Hmm, dia pasti ingin membalasku."


"Jadi, kau memang sudah berhubungan jauh dengan Rakha?"


"Hei, kenapa bertanya tentang hal seperti itu? Tidak sopan!"


"Ya, ya, baiklah. Sekarang kita temui Bibi Liana saja."


"Kau akan memberitahunya jika Disha adalah anak Tuan Ardi?"


"Iya, kami bekerja bersama, Khay. Aku tidak mungkin mengkhianatinya. Dan kau... Kau sudah melangkah jauh. Jadi, sebaiknya kau juga lakukan yang terbaik."


Khay mengangguk paham.


"Kau cocok menjadi agen ISS, Khay."


Khay hanya tersenyum menanggapi pendapat Ken.


.


.


.


"Kau bukanlah kakakku, dan aku bukanlah adikmu. Kau boleh menyentuhku, Rakha..."


Niya mengarahkan tangan Rakha ke salah satu gundukan kenyal miliknya.


Seketika Rakha membulatkan mata. Ia langsung menepis tangan Niya.

__ADS_1


"Apa kau sudah gila? Jangan bicara sembarangan!"


"Aku tidak gila. Kita memang bukan kakak adik. Darah yang mengalir di tubuh kita berbeda. Dan aku, sudah menyiapkan seluruh jiwa ragaku hanya untuk kakak..."


Rakha makin kacau dan tubuhnya makin memanas. Ia butuh seseorang untuk melepaskan hasrat yang tinggi ini.


Tapi Rakha masih berpikir waras. Niya adalah adiknya, meski Niya menolak hubungan itu tapi tetap saja Rakha tak bisa mengubahnya. Rasa sayangnya hanya sebatas kakak kepada adiknya.


Rakha terus menghindari Niya yang terus mengejarnya dan memperlihatkan lekuk tubuhnya. Membuat Rakha mengerang frustasi.


Niya memeluk tubuh Rakha agar pria itu tak terus memberontak. Niya terus memberi rangsangan pada tubuh Rakha yang sudah sangat bergairah.


"Aarggghhh!!!" Rakha mengerang frustasi. Bayangan wajah Khay terus menghantuinya. Ia tak akan mengkhianati istrinya.


Dengan sekuat tenaga, Rakha melepas pelukan Niya dan ia berlari tertatih masuk ke dalam kamar mandi dan menguncinya.


Niya menggedor pintu kamar mandi. Ia amat marah karena Rakha terus menghindarinya.


"Kakak, jangan lakukan itu! Aku akan membantumu untuk melepas kesakitan kakak. Keluar, Kak!!!" teriak Niya dari luar pintu.


Rakha terus mengerang, berteriak karena bagian tubuhnya sudah menegang dan butuh pelampiasan.


"AAARRRGGGHHH!!!" Rakha berteriak keras. Ia menyalakan shower dan mengguyur tubuhnya.


Saat ini yang ada dipikirannya adalah menghilangkan efek obat yang diberikan Niya. Rakha terus berteriak dan meracau.


Niya pun tak kalah geram. Rencananya untuk mendapatkan Rakha ternyata tak semudah yang ia bayangkan. Namun tiba-tiba ia memiliki ide lain.


Sedari Rakha datang, Niya sudah merekam semua kejadian antara dirinya dan Rakha. Tak mau membuang waktu, Niya mengedit video yang menampilkan Rakha sedang menyentuh tubuhnya dan mengirimkannya pada Khay.


.


.


.


Ken dan Khay tiba di private room sebuah kafe. Khay mengernyit heran.


"Apa kalian selalu bertemu disini?" tanya Khay polos.


"Iya, ini adalah tempat rahasia kami para agen ISS." balas Ken.


Mereka disambut oleh Liana yang sudah lebih dulu datang.


"Ibu..." Khay memeluk Liana.


"Kalian sudah datang? Ayo duduklah!" Liana mempersilahkan Ken dan Khay untuk duduk berhadapan.


"Bibi, ternyata dugaanku benar." Ken memang tak pernah berbasa-basi.


"Benarkah, Ken? Aku sangat lega mendengarnya." balas Liana.

__ADS_1


"Tapi, apa Tuan Alan tidak mengetahui jika Disha bukan putrinya?" Tanya Khay yang mulai merasa semua ini menjadi rumit.


Ken tersenyum menyeringai. "Justru inilah yang menarik, Khayla. Kurasa Alan Thariq tahu jika Disha bukan putrinya, dan Niya lah putri kandungnya."


"Eh?"


"Apa maksudmu, Ken?" Liana makin tak paham.


"Maaf, Bi. Tapi kurasa aku mulai mengendus jika Alan Thariq ada hubungannya dengan komplotan hitam. Ini berhubungan dengan kejadian 10 tahun silam. Saat pertama kali Bibi masuk kedalam keluarga itu."


Liana dan Khay nampak mendengarkan dengan seksama penjelasan Ken.


"Aku masih belum menemukan bukti nyatanya, tapi kita pasti akan menemukan kebenarannya. Bibi, mulailah selidiki tentang perusahaan Alan Thariq. Dan juga masa lalu Alan. Kurasa ia ada hubungan dengan meninggalnya suami Bibi."


"Heh?!


Saat sedang berdiskusi, ponsel Khay bergetar. Sebuah pesan masuk dari Niya. Khay yang memang tidak suka dengan sikap gadis itu segera membuka pesan yang berupa video itu.


"TIDAAAKKK!!!"


Pekik Khay dengan mata memerah menahan amarah.


"Khay, ada apa?" tanya Ken.


"Nak, ada apa?" Liana pun ikut bertanya.


Khay memegangi ponselnya dengan gemuruh di dadanya. Setelah melihat isi video itu, sebuah pesan kembali masuk.


"Datanglah ke area gudang di jalan Mawar XXX. Harus kau yang datang sendiri. Atau kau tidak akan pernah melihat Rakha lagi."


Khay menatap Ken dan Liana dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Aku harus pergi, Bu, Ken." tutur Khay.


"Khay, ada apa?"


"Maaf, tapi kali ini, aku yang akan menyelesaikannya sendiri." ucap Khay mantap kemudian melangkahkan kakinya keluar dari private room kafe tersebut.


.


.


#bersambung lagi ya shay...


Jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan 💟💟


Yuk mampir ke proyek mamak yg lain:



__ADS_1




__ADS_2