
Halo readers kesayangan mamak, RaKhania is back! Don’t forget to leave
Like and Comments. Thank You.
*Happy Reading*
Khay terbangun di pagi hari dan mendapati sosok Ray tertidur
pulas di sofa. Ada perasaan bersalah menghinggapi hati Khay. Semalam dirinya
sangat kacau. Entah hari ini ia bisa fokus bekerja atau tidak.
Khay melamun duduk di tepi tempat tidur. Pikirannya masih
tertuju pada isi buku harian kakaknya.
“Khay, kau sudah bangun?” Tanya Ray yang ternyata juga
terbangun.
“Hmm,” jawab Khay dengan mengulas senyumnya.
“Maaf ya sudah membuatmu tidur di sofa.” Ucap Khay.
“Tidak apa. Bagaimana keadaanmu? Apa kau akan tetap
berangkat ke kantor?” Tanya Ray.
“Hu’um. Aku harus bersikap professional.”
“Ya sudah. Sebaiknya kau mandi dulu. Aku akan membersihkan
diri juga setelah itu kita sarapan bersama.” Ucap Ray.
Khay mengangguk. “Terima kasih, ya.”
“Jangan sungkan, Khay.” Ray tersenyum kemudian berlalu dari
kamar Khay.
.
.
.
Dikantor, Khay mengikuti rapat para karyawan bersama Rakha.
Ia terus memperhatikan apa yang di presentasikan oleh Rakha kemudian
mencatatnya. Pandangan Khay terlihat berbeda pada Rakha. Dika bisa melihat itu.
Entah itu sesuatu yang aneh atau pun bukan. Tapi ada sesuatu dalam tatapan
Khay.
“Aku harus bagaimana, Rakha? Kakakku tidak pernah
mencintaimu. Dia tidak merasakan seperti yang kau rasakan. Perasaannya hanya
semu. Bukan nyata. Apa kau tidak tahu? Apa kau idiot? Dia bahkan ingin
__ADS_1
melenyapkanmu. Tapi kau tidak merasakannya?” gumam Khay dalam hati.
Selesai rapat, semua karyawan kembali ke pekerjaan
masing-masing. Begitu pula dengan Khay yang kembali ke meja kerjanya. Sedangkan
Rakha segera pergi keluar kantor ada rapat dengan klien. Secara sengaja Dika
menghampiri Khay yang sedang memebereskan meja kerjanya.
“Khania…” sapa Dika.
“Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Khay sopan.
“Apa kau sedang ada masalah dengan Rakha?”
“Eh? Masalah apa, Pak? Tidak ada kok.” jawab Khay datar.
“Benarkah? Kulihat tadi tatapanmu pada Rakha sangatlah
berbeda.”
“Eh? Masa sih? Sepertinya itu hanya perasaan bapak saja.
Saya baik-baik saja dengan Pak Rakha.” Khay mencoba menjawab senormal mungkin
dengan mengulas senyumnya.
Dika menganggukkan kepala. “Baiklah kalau begitu. saya permisi. Maaf mengganggu waktumu.”
Sepeninggal Dika, Khay menghembuskan nafasnya. “Huft! Hampir
menggelengkan kepalanya.
Pulang bekerja, Khay langsung menuju apartemennya. Moodnya
benar-benar buruk hari ini. Khay bertemu Ray di lobi apartemen. Ray menyapa
Khay dengan senyumnya.
“Ray, apa yang kau lakukan disini?”
“Aku sengaja menunggumu. Ayahku datang. Dia ingin menemuimu.” Ucap Ray.
Khay mengangguk dan langsung melangkahkan kakinya menuju
kamar Ray. Tak lupa ia mampir dulu ke kamarnya untuk mengambil buku harian
milik Khania. Ia merasa jika Ray semalam pasti menghubungi ayahnya. Makanya
hari ini Rein datang ke Kota M.
Rein, Andre, Ray dan Khay duduk di sofa dan saling menatap.
Khay menyodorkan dua buku harian milik Khania tanpa ada ekspresi dalam
wajahnya. Sebenarnya apa yang ada dibenak Khay saat ini?
“Apa ini, Nak?” Tanya Rein agar Khay mau bicara dan
menjelaskan.
__ADS_1
“Itu adalah kedua buku harian milik kakakku. Dan salah
satunya adalah palsu…” Suara Khay bergetar saat menceritakan apa yang sudah
dibacanya.
Rein menghela nafas mengetahui kenyataan pahit tentang
Khania.
“Buku harian yang kutemukan bersama Ray waktu itu… adalah
hanya sebagai umpan dan tidak berarti apa-apa.”
“Khay…” Ray mengusap lengan Khay.
“Dia sengaja menulisnya agar dia terlihat mencintai Rakha.
Padahal semuanya palsu.”
Rein bisa melihat ada kebencian di wajah Khay. “Nak… Jangan
membenci Khania. Dia juga pasti sangat menderita.”
“Apapun alasannya… Dia… sudah membuatku kecewa. Dia seperti
bukan kakakku saja.”
“Semua orang yang masuk organisasi akan merasa jika itu
bukanlah dirinya sendiri, Khay.” Andre ikut menimpali. “Apalagi jika kita sudah
dipilih untuk melenyapkan target.” Tambah Andre.
Khay memalingkan wajahnya. Ia benar-benar tidak habis pikir
jika kakaknya bisa melakukan hal seperti ini.
“Ya sudah. Sebaiknya kita istirahat. Besok kau libur ‘kan,
Khay? Kita akan pergi ke suatu tempat.” Ucap Rein.
“Tempat apa, Paman?” Tanya Khay.
“Scarlet Tattoo.”
“Tempat itu lagi? Bukankah terakhir kali kita kesana kita
tidak mendapatkan apa-apa, Ayah.” Ucap Ray.
“Tidak, Nak. Kali ini kita pasti akan menemukan sesuatu…”
balas Rein yakin.
Andre, Khay dan Ray saling pandang. Khay juga merasa jika
Rein sangat meyakinkan. Dan itu pasti adalah hal yang benar-benar penting.
#bersambung dulu ya shay…
*setelah ini akan banyak kejutan untuk Khay dan Rakha… Stay tuned!
__ADS_1