RaKhania

RaKhania
RaKhania ~ 085


__ADS_3

"Jadi kau... membuntutiku? Rayshard Anderson..." ucap Ken dengan nada dingin.


"Hah?!"


Ray yang sudah terpergoki oleh Ken berusaha santai dan tidak gugup.


"Apa yang kau lakukan di rumah sakit?" tanya Ray memberanikan diri.


"Kau sungguh ingin tahu?" Tanya Ken yang seakan menguji Ray.


Ray tidak menjawab. Tapi dari tatapan matanya ia menyatakan 'iya'.


"Baiklah. Ayo ikut denganku!"


Ray mengikuti langkah kaki Ken menuju ke sebuah kamar rawat pasien. Ray membulatkan mata karena melihat James ada di depan kamar itu.


"Paman James?" Ray menyapa James.


"Ken, kau membawa Ray?" tanya James.


"Tidak, Paman. Dialah yang mengikutiku hingga kemari." jawab Ken.


"Apa ini? Jadi ini adalah rahasia ISS?" tanya Ray mencoba menerka.


"Tidak. Ini bukan rahasia. Ayahmu bahkan sudah tahu soal ini." balas Ken.


"Ayahku?" Ray menautkan alisnya.


"Sudahlah. Ayo masuk!" Ken mempersilahkan Ray untuk masuk ke kamar rawat milik seorang pasien.


Begitu memasuki kamar, Ray tidak begitu jelas melihat siapa pasien yang ada dikamar itu. Namun ketika dirinya makin mendekat...


"HAH?!"


Ray membulatkan mata melihat seseorang yang ia kenal berbaring di ranjang itu.


"Khania?"


Ray menatap Ken dengan tatapan tidak percaya.


"Bagaimana bisa?" ucap Ray.


"Tentu saja bisa. Aku yang melakukan semuanya." balas Ken santai.


Ken memberi kode agar mereka bicara di luar kamar. Ray kembali mengikuti langkah Ken.


"Katakan padaku, ada apa ini sebenarnya?" tanya Ray yang makin bingung dengan situasi ini.


"Seperti yang kau lihat. Khania belum meninggal. Dia hanya sedang tak sadarkan diri." jelas Ken.

__ADS_1


"Apa Khay tahu soal ini?"


"Tentu saja tidak. Aku akan memberitahunya jika waktunya sudah tepat."


"Kenapa kau melakukan ini?" tanya Ray lagi.


"Karena aku mencintainya. Dan aku tidak bisa melihatnya mati sia-sia ditangan organisasi."


Ray melirik kearah kamar dimana tubuh Khania terbaring. Perasaannya makin tak karuan setelah mengetahui Khania ternyata masih hidup.


Lalu bagaimana dengan nasib Khay jika Khania masih hidup? Apa Rakha akan kembali pada Khania?


.


.


.


Khay telah tiba di rumah sakit kepolisian Kota M. Danial mengarahkan Khay untuk masuk ke sebuah kamar yang di jaga ketat oleh petugas kepolisian.


"Masuklah!" perintah Danial.


Khay mengangguk dan membuka pintu kamar itu. Terlihat seorang wanita sedang duduk bersandar. Pasien itu tidak terlihat seperti seorang yang tengah sakit atau terluka. Meski kenyataannya ia baru saja mengalami luka tembak.


"Kau sudah baik-baik saja?" Ucap Khay untuk mengalihkan perhatian Niya yang sedari tadi hanya terdiam.


"Kau datang?" balas Niya datar.


Akhirnya Niya bicara sambil menatap Khay.


"Tentu saja. Bukankah sudah kukatakan jika aku adalah kekasih Jonas."


"Tidak mungkin!"


"Terserah kau mau percaya atau tidak. Tapi itulah kenyataannya."


"Kudengar kau sudah mengakui semuanya. Kenapa?"


"Kenapa apanya? Semua itu memang benar. Aku yang sudah melenyapkan Khania, kakakmu. Dan juga Rich."


"Apa kau berusaha menutupi kejahatan yang dilakukan komplotan hitam?"


"Kalau iya, kenapa? Apa kau ingin membalas dendam karena aku sudah membunuh kakakmu?"


"Tidak. Kakakku memang pantas mati. Dengan semua perbuatan kotor yang pernah dilakukannya dia pantas mendapat hukuman. Tapi Rich..."


Tiba-tiba dada Khay bergemuruh hebat saat mengenang tentang Rich.


"Kenapa kau sampai harus membunuh Rich?!" teriak Khay di depan Niya.

__ADS_1


"Kalian bahkan hidup bersama sebagai kakak adik, bagaimana bisa kau tega membunuhnya?!"


Dada Khay merasa sesak. Air mata yang sedari ia tahan akhirnya lolos juga mengalir ke pipinya.


Niya tak menanggapi Khay dan malah memalingkan wajahnya. Khay makin geram dengan sikap Niya yang seakan tak peduli dengan nyawa Rich.


Khay memegangi kedua bahu Niya dengan cengkeraman erat.


"Katakan dimana Jonas?" Teriak Khay.


"Katakan dimana dia? Jangan menyembunyikannya!!!"


Khay mengguncang-guncangkan tubuh Niya dengan kencang. Ia benar-benar sudah kalap sekarang. Ingin rasanya segera menghabisi gadis didepannya ini.


Niya tersenyum sinis. "Sampai matipun aku tidak akan pernah mengatakannya padamu ataupun polisi."


Mata Khay memerah karena menahan amarah dan juga kesedihannya. Ia melepaskan tangannya dari bahu Niya.


Suara isak tangis masih terdengar dari bibir Khay. Hatinya amat sakit karena mengenang tentang Rich.


"Kau bodoh, Khayla!" Ucap Niya seakan mengejek.


"Untuk apa kau menangisi orang yang jelas-jelas bukan keluargamu? Kau bahkan menyalahkan kakakmu dan kau membela Rich. Kau memang bodoh!"


Khay mengatur nafasnya dan kembali menatap Niya.


"Orang yang tidak punya hati sepertimu tidak akan pernah mengerti. Maka membusuklah kau dipenjara, Ghaniya Thariq." ucap Khay sebelum akhirnya ia keluar dari kamar itu.


Danial kembali menyapa Khay.


"Kau baik-baik saja?"


"Aku baik, Paman."


"Apa perlu aku mengantarmu pulang?"


"Tidak perlu, Paman. Aku akan naik taksi saja. Terima kasih."


Khay berpamitan pada Danial dan melangkahkan kakinya keluar untuk memanggil taksi. Ia akan kembali ke rumah sakit dimana Rakha di rawat.


...***...


...***...


#BERSAMBUNG...


Jangan lupa dukungannya untuk karya receh mamak yg satu ini. Kuharap kalian tetap setia menemani sampai cerita ini selesai yaak 😊😊


Give me Like, Vote, Comments, and Gifts, Becoz U are my everything πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ

__ADS_1


...TERIMA KASIH...


__ADS_2