
Khay sudah bersiap dengan outfit andalannya. Kaos oblong berukuran besar dan celana jeans. Tak lupa rambutnya ia kuncir kuda dan diselipkan pada topi yang dulu selalu ia pakai. Ia berpamitan pada Amara jika hari ini ia akan ke kantor detektif miliknya dan Ray.
"Syukurlah kau sudah tidak mengurung diri terus di rumah." ucap Amara.
"Iya, Bu. Aku cukup bosan jika harus berada di rumah sepanjang hari. Nanti setelah dari sana aku akan ke warung Ibu."
Amara selama ini menjalankan bisnis rumah makan kecil-kecilan dibantu keponakannya bernama Resti.
"Bibi, ayo berangkat!" ucap Resti.
"Res, titip ibuku ya." ucap Khay.
"Kau ini. Bibi sudah seperti ibuku sendiri." balas Resti.
Khay berpamitan dengan Ibunya kemudian pergi dengan mengendarai ojek.
Sesampainya di kantor detektif miliknya, Khay berdiri memandangi gedung berlantai dua yang tidak terlalu besar itu. Disinilah Khay banyak menghabiskan waktu saat dulu sebelum berpindah ke Kota M.
Khay menghela nafas mengingat tentang kenangannya di Kota M. Ia akan mulai melupakan semuanya.
Khay melangkah masuk ke kantor dan menyapa Lusi.
"Hai, Lus..."
"Hah?! Kak Khay? Kau ada disini?"
"Iya. Untuk beberapa hari aku akan disini."
Andre yang kini menempati kamar Khay pun ikut terkejut melihat sosok yang sudah lama tak dilihatnya. Tanpa malu, Andre langsung memeluk Khay.
"Aku merindukanmu, Khay..."
"Iya, iya. Tapi tidak begini juga caranya, Ndre." Khay menepuk bahu Andre.
"Kenapa kau ada disini, Khay?" tanya Andre.
"Hmm, aku hanya mengunjungi ibu sebentar. Setelah ini aku akan kembali ke Kota M. Kau tenang saja, hahahaha." Khay memaksakan tawanya.
Andre tahu pasti ada sesuatu yang terjadi antara Khay dan juga Rakha.
"Ada kasus apa di kota ini, Lus?" ucap Khay untuk memecahkan kecanggungan.
Khay tahu jika alasannya tidak masuk akal saat tiba-tiba ada di Kota D. Namun Andre dan Lusi hanya mengiyakan apa yang dikatakan oleh Khay.
Sementara itu, Rakha yang juga berada di Kota D, sedang berdiskusi dengan Dika mengenai kondisi keuangan perusahaan cabang Kota D.
Rakha menekan-nekan jari telunjuknya ke meja. "Dik, sebaiknya ambil saja semua sahamku di cabang utama untuk menutup kerugian di cabang ini."
"Hah? Bos? Apa yang kau lakukan? Kau tak punya cadangan saham lagi jika semua sahammu kau gunakan."
"Aku tahu. Tapi aku tidak bisa membiarkan cabang disini ditutup. Bagaimana dengan nasib para karyawan disini jika perusahaan ini ditutup?" Rakha mengusap wajahnya.
"Kau memang orang yang baik, Bos."
"Bukan begitu, Dik. Aku hanya berusaha berbuat yang terbaik untuk perusahaan. Bahkan semua aset Om Alan tidak bisa kita jual karena disita oleh negara."
"Baiklah jika itu keinginan Bos. Aku akan segera meminta manajer keuangan di cabang utama untuk mencairkan semua saham milik Bos."
"Terima kasih atas kerja kerasmu selama ini, Dik."
"Jangan sungkan, Bos."
.
.
.
Malam harinya, Rakha dan Dika melewati jalanan yang penuh dengan kenangan bersama Khayla. Rakha menatap jalanan yang sudah mulai sepi itu.
"Hentikan mobilnya, Dik!" perintah Rakha.
"Ada apa? Apa ada yang tertinggal di kantor?"
"Tidak ada. Hanya saja..."
Dika mulai paham apa yang sedang dirasakan oleh sahabatnya itu.
"Kau teringat tentang dia?"
"Eh?"
"Rakha, jangan membohongi dirimu sendiri. Apa kau menyukai Khayla?"
__ADS_1
Rakha terdiam.
"Entahlah, Dik. Meski dia sudah membohongiku, tapi..."
"Itu artinya kau menyukainya. Bahkan mungkin kau sudah jatuh cinta padanya."
"Begitu ya?"
"Hu'um. Kalau begitu kau harus meyakinkan dia agar percaya jika kau mencintainya, dan bukan Khania."
"Dia tidak akan percaya begitu saja, Dik."
"Kau harus lebih berusaha, Rakha."
"Aku mengenal Khania lebih dari siapapun. Dan aku... merasa jika Khayla berbeda dengan Khania. Ada sesuatu yang disembunyikan oleh Khania. Aku bisa merasakan itu."
"Dan kau tidak pernah bertanya apapun padanya?"
"Tidak. Aku menghargai privasinya. Lalu tentang organisasi yang dikatakan Om Alan, aku merasa jika Khania bisa saja terhubung dengan mereka."
PUK!
Dika menepuk bahu Rakha. "Yang terpenting sekarang adalah mengurus tentang perusahaan. Setelah semua selesai, kau harus mulai membenahi hidupmu. Kau pilih Khania atau Khayla, itu urusan hatimu. Tanyakan pada hatimu siapa yang mengisinya."
Rakha mengangguk. Mereka pun kembali melaju menuju apartemen tempat mereka tinggal selama di Kota D.
Sepeninggal Rakha, Khay melintasi jalan yang sama dengan ojek.
"Berhenti, Pak!!" perintah Khay.
"Ada apa, Nona?"
"Saya turun disini saja."
Khay membayar ongkos ojeknya kemudian berjalan menyusuri trotoar tempat pertemuan pertamanya dengan Rakha. Ada rasa rindu ketika mengingat tentang hal itu.
Khay tidak pernah merasakan jatuh cinta hingga sedalam ini. Bahkan ia sudah menyerahkan sesuatu yang berharga kepada Rakha. Malam-malam yang mereka lewati bersama tidak bisa ia lupakan.
Namun semua itu segera ia tepis. Khay menggeleng cepat.
"Tidak, Khay! Bukan saatnya kau memikirkan soal hati. Kau harus fokus pada tujuanmu." gumam Khay menyemangati dirinya sendiri.
Khay kembali memanggil ojek yang mangkal kemudian pulang ke rumahnya.
"Masuk!" ucap Khay.
Sosok Resti sang sepupu masuk ke kamar dengan mengulas senyum. Resti tahu jika ada sesuatu yang Khay sembunyikan dari ibunya.
"Khay, kita sudah seperti saudara kandung. Jika kau ingin bicara, kau bisa bicara denganku." ucap Resti.
Khay hanya mengulas senyum.
"Aku tahu kau sudah menikah dengan kekasih Khania. Lalu, sekarang apa yang terjadi dengan kalian?"
Khay menarik nafas dan menghembuskannya pelan.
"Kak Khania masih hidup, Res..."
"Hah?! Apa maksudmu? Khania masih hidup?" Resti amat terkejut dengan pernyataan Khay.
"Itulah kenyataannya."
"Jadi kau akan mengalah demi Khania?"
Khay mengedikkan bahunya. "Entahlah. Saat ini aku belum memikirkan hingga kesana. Kakak masih dalam kondisi koma."
"Khay, kuberi nasihat untukmu. Jika kau memang menyukai Rakha, kenapa tidak kau perjuangkan? Kau berhak bahagia, Khay. Khania sudah menghilang selama satu tahun. Dan bukan salahmu jika ternyata dia masih hidup."
"Kau benar, Res. Tapi untuk saat ini, aku punya prioritas lebih tinggi daripada sekedar urusan pribadiku. Aku akan mengurusnya setelah semua masalah ini selesai."
"Ya sudah. Terserah kau saja. Yang terpenting kau harus lebih mementingkan kebahagiaanmu. Ingat itu, Khay!"
Resti keluar dari kamar Khay setelah mendengar semua cerita dari Khay. Khay sendiri merasa lega karena bebannya sedikit berkurang setelah bercerita pada Resti.
.
.
.
Keesokan harinya, Khay masih menutup matanya kala mendengar bunyi getar dari ponselnya. Sedari datang ke Kota D, ia bahkan tidak mengurusi ponselnya yang banyak panggilan tidak terjawab.
Khay mengerjapkan mata karena ternyata bunyi getar ponselnya tak mau berhenti. Dengan kesal Khay terbangun dan meraih ponsel di atas nakas.
__ADS_1
"Ck, siapa yang menelepon sepagi ini?"
Tertera nama Liana di layar ponsel Khay. Ia ragu ingin mengangkatnya atau tidak. Tapi urusannya dengan Liana tidak sebatas hanya masalahnya dengan Rakha. Siapa tahu saja ini adalah urusan pekerjaan.
"Halo...."
"Halo, Khay. Kau dimana sekarang?"
"Ibu? Ada apa, Bu? Kenapa suara ibu terdengar panik?"
"Disha! Disha diculik, Khay!"
"APA?!"
"Kurasa ini ada hubungannya dengan komplotan hitam. Kumohon kau segera datang, Khay."
"Iya, iya, Ibu. Aku akan segera kesana."
Telepon terputus. Khay segera melompat dari tempat tidur dan menuju kamar mandi.
Tanpa berlama-lama lagi, Khay segera menghubungi Andre dan melacak keberadaan kalung milik Khay. Beruntung saat Disha diketahui adalah adik kandung Rakha, Khay menyerahkan kalungnya kepada Disha.
Khay sudah curiga jika organisasi akan mengincar Disha. Dan ternyata firasat Khay benar.
Khay tergesa-gesa kembali ke Kota M. Ia menaiki pesawat agar lebih cepat sampai dibanding menggunakan mobil atau bus.
Setengah jam berlalu, dan Khay telah tiba di Kota M. Khay segera menemui Liana di markas milik ISS.
Disana ada Ray dan Rein yang sedang menyusun rencana. Khay menyapa Rein dan Ray bergantian.
"Apa yang mereka katakan, Ibu?" tanya Khay tanpa berbasa-basi.
"Dia meminta Liana datang sendiri untuk memjemput Disha." Rein yang menjawab.
"Omong kosong macam apa itu? Aku tidak bisa membiarkan Ibu datang kesana sendirian. Aku punya rencana..."
Khay memberitahukan tentang rencananya kepada Ray, Rein dan juga Liana.
"Kapan dia meminta bertemu, Ibu?"
"Besok, Nak. Di area pergudangan dekat pelabuhan." jawab Liana.
"Baiklah. Kita akan habisi mereka." Ucap Khay dengan seringai penuh arti.
Malam harinya, Rakha juga telah tiba di Kota M. Ia langsung meninggalkan pekerjaannya di Kota D dan kembali ke rumah. Hanya Dika saja yang masih ada disana untuk mengurus perusahaan.
Rakha menemui Liana di kamarnya. Rakha duduk disamping Liana yang masih terjaga di sofa.
"Maaf jika Ibu membuatmu segera pulang, Nak."
"Tidak apa, Bu. Disha adalah adikku. Tentu saja dia adalah prioritas utamaku."
"Terima kasih, Nak." Liana mengusap lengan Rakha.
"Ibu, tolong ceritakan semuanya padaku. Jangan menutupinya lagi."
"Eh?"
"Apa ini ada hubungannya dengan organisasi hitam?"
"Hah?! Kau..."
"Iya, Bu. Aku sudah tahu tentang itu. Maka dari itu, tolong beritahu padaku yang sebenarnya."
Liana menghela nafasnya dan menatap putra sulungnya itu.
"Baiklah, Nak. Mungkin sudah saatnya kau mengetahui semuanya. Tentang Ibu, Khania dan Khayla."
"Hah?! Mereka juga ada hubungannya dengan ini?" Rakha mengerutkan keningnya.
"Iya, Nak."
Liana menceritakan semua kebenaran tentang dirinya yang seorang anggota ISS, tentang Khay yang seorang detektif, dan Khania yang menjadi bagian organisasi hitam.
Rakha masih belum bisa mencerna semua cerita Liana. Fakta didalamnya seperti sebuah kisah dalam film ataupun novel. Tapi inilah yang harus ia hadapi. Ia dihadapkan pada dua pilihan wanita. Satu seorang detektif. dan satunya anggota mafia hitam. Lalu manakah yang lebih Rakha cintai?
...***...
#bersambung...
Jangan lupa dukungannya untuk karya receh mamak yg satu ini. Kuharap kalian tetap setia menemani sampai cerita ini selesai yaak ππ
Give me Like, Vote, Comments, and Gifts, Becoz U are my everything πππ
__ADS_1
...TERIMA KASIH...