
Rio de Janeiro, Brazil
Ponsel Ray sudah berkali-kali bergetar namun pria itu masih mengabaikan panggilan itu. Ia masih fokus dengan pekerjaannya. Begitulah pria itu kini. Tidak akan mengurus yang lain sebelum pekerjaannya selesai.
Dua tahun telah berlalu sejak kepindahannya ke negara ini bersama dengan ketiga anak didiknya. Ray lebih suka menyebut mereka begitu daripada harus menyebut mereka anak buah.
Lexi yang mendengar suara getaran di ponsel Ray melirik ke arah pria itu. Bosnya itu masih sibuk mengotak atik layar datar di depannya. Lexi ingin sekali menginterupsi kegiatan pria berwajah datar itu, namun rasanya tak etis bila melakukannya. Dengan sedikit lirikan, Lexi melihat ponsel milik Ray dan membaca nama yang tertera disana.
"Hah?! Itu adalah nomor dari Indonesia. Apa jangan-jangan itu panggilan dari keluarga bos Ray?" batin Lexi.
Panggilan itu berlangsung berkali-kali itu berarti panggilan itu sangat penting. Lexi akhirnya memberanikan diri untuk bicara kepada Ray.
"Maaf, Sir. Ponsel Anda terus berdering. Itu panggilan dari Indonesia. Saya rasa itu adalah panggilan penting. Sebaiknya Anda jawab dulu, Sir." Dengan suara terbata Lexi berusaha bicara. Ia sangat hapal perangai Ray yang sangat mengedepankan pekerjaannya.
Ray melirik Lexi kemudian melirik ponselnya. Ia tahu jika ini adalah panggilan dari Khania. Gadis itu selalu minta dimanjakan oleh Ray. Dan terkadang Ray kurang suka dengan sikap Khania.
"Halo," ucap Ray dengan suara dingin.
"Kak Ray! Syukurlah akhirnya kau menjawab teleponmu."
"Disha? Ada apa?" Ray mengerutkan dahinya.
"Maaf jika aku mengganggu waktu kakak. Tapi, ada hal yang harus kubicarakan denganmu. Ini tentang Khania."
Ray memutar bola matanya malas. "Ada apa lagi dengannya? Apa dia membuat ulah?"
"Tidak, Kak! Dia ... dia sudah ingat masa lalunya. Dia ingat bagaimana ayah dan ibunya meninggal."
"A-apa?" Ray membulatkan mata.
"Khania bukan lagi gadis yang dulu lagi, Kak. Bagaimana ini? Aku tidak bisa lagi menghadapinya. Dia bahkan mengatakan jika dirinya akan mencari siapa pembunuh kedua orang tuanya."
Ray memijat pelipisnya pelan. "Baiklah. Aku akan atur waktu agar bisa kembali ke Indonesia secepatnya."
"Terima kasih, Kak. Sekali lagi terima kasih."
Panggilan berakhir. Ray terdiam dengan mengepalkan tangan.
"Ada apa, Sir? Apa terjadi sesuatu dengan Khania?" tanya Lexi hati-hati.
"Lex, tolong minta Bastian pesankan tiket untukku ke Indonesia. Kalau bisa cari penerbangan hari ini juga. Kelas yang paling bagus. Mengerti?"
"Iya, Sir. Akan segera saya laksanakan."
.
.
__ADS_1
.
Beberapa jam kemudian, Ray sudah terbang ke Indonesia dengan penerbangan komersil nomer satu. Sementara ketiga orang anak didik Ray masih tinggal di Brazil. Mereka menyelesaikan pekerjaan yang ditinggalkan Ray.
"Sebenarnya ada apa, Lex? Kenapa tuan Ray memintaku untuk memesankan tiket ke Indonesia? Bukankah ulang tahun keponakannya masih dua bulan lagi?" tanya Bastian.
"Kau seperti tidak tahu Bos saja, Bas. Dia akan melakukan apa pun untuk gadis manja itu," sahut Isabel.
"Ish, kau jangan berburuk sangka. Kurasa memang ada sesuatu yang terjadi di Indonesia," timpal Lexi.
"Melihat ekspresi tuan Ray, kurasa memang ada hal mendesak," balas Bastian dengan menatap Lexi dan Isabel bergantian.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, bahkan Ray tak sempat mengistirahatkan tubuhnya. Hal yang terlintas di pikirannya adalah segera melihat keadaan Khania. Ray sudah berjanji akan menjaga Khania, maka ia harus menepati janjinya.
Ray tiba di kediaman keluarga Wicaksana di waktu dini hari. Disha menyambut kedatangan Ray.
"Kak Ray! Terima kasih sudah datang," ucap Disha dengan penuh rasa syukur.
Ray menganggukkan kepala dan bertanya, "Bagaimana kondisi Khania?"
"Dia sudah tidur. Kakak silakan beristirahat di kamar tamu. Besok kita akan menemui dokter Diana untuk berkonsultasi."
"Iya. Apa Khania juga ikut?"
"Tidak, Kak! Dokter Diana ingin bicara dengan kakak."
"Baiklah. Ini sudah malam, kau beristirahatlah!" Ray menepuk pelan bahu Disha.
.
.
.
Keesokan harinya, Ray bersama Disha datang ke klinik dokter Diana. Dua orang itu duduk berhadapan dengan dokter Diana.
Ray menatap serius ke arah dokter Diana.
"Tentu Tuan Ray sudah mendengar kondisi Khania, bukan? Saya mohon maaf karena ternyata ini semua terjadi diluar kuasa kami sebagai seorang dokter. Hipnoterapi hanya membuatnya tenang dan berusaha menjalani kehidupan yang sekarang dengan tidak mengingat hal di masa lalu. Tapi bukan berarti dia melupakan kenangan masa lalunya," ucap dokter Diana.
Ray menghela napasnya.
"Khania sudah berhasil mengingat memori masa lalunya. Kecelakaan yang terjadi tujuh tahun silam, dia mengingatnya dengan jelas. Ditambah..." Dokter Diana menjeda kalimatnya.
"Ditambah apa, Dok?" tanya Ray.
"Khania mengingat seorang pemuda yang menolongnya setelah kecelakaan terjadi," jawab Disha.
__ADS_1
"Seorang pemuda?" Ray terbelalak.
"Iya. Bukankah menurut petugas kepolisian, Khania ditemukan sendirian dalam kondisi tak sadarkan diri? Tidak ada siapapun disana. Apa mungkin Khania berhalusinasi?" imbuh Disha.
Ray menatap Dokter Diana.
"Saya rasa itu bukan halusinasi, Nona Disha. Bisa saja pemuda itu memang ada," jawab Dokter Diana.
Ray dan Disha saling pandang. Mereka mencoba menerka apa yang terjadi dalam pikiran mereka masing-masing.
.
.
.
Ray melihat sesosok gadis belia yang sedang berdiri di depan dua buah makam. Sunyi. Tak ada suara atau apa pun yang terdengar. Bahkan isak tangis pun tidak.
Gadis belia itu menatap nanar ke dua nisan yang adalah kedua orang tuanya. Gadis itu adalah Khania. Gadis 17 tahun itu terlihat berbeda dari yang terakhir Ray temui.
Tentu saja dua tahun bukanlah waktu yang singkat.
"Khania..." panggil Ray.
Gadis itu tak menjawab dan tak menoleh kearah Ray.
"Aku sudah ingat semuanya, Paman." Suara merdu Khania akhirnya terdengar.
Ray menatap sendu. Khania pun menoleh dan menatap Ray.
"Orang tuaku bukan meninggal karena kecelakaan, tapi mereka dilenyapkan."
Kini Ray yang terdiam.
"Aku juga sudah tahu kenapa orang tuaku dilenyapkan. Itu karena pekerjaan ibuku, bukan? Dia seorang agen."
Ray masih diam dan tak menanggapi.
"Pekerjaan Paman juga sama kan seperti ibuku? Kalian sengaja menutup-nutupi kematian ayah dan ibuku."
"Khania..."
"Aku akan mencari tahu tentang semua ini, Paman. Alasan dibalik kematian ibu dan ayahku. Aku akan mencari tahunya. Dan aku akan membalas orang-orang yang melakukan ini pada mereka!"
"Khania! Kau tidak tahu apa yang sedang kau hadapi! Jangan gegabah! Biarkan kami yang melakukan semua ini!"
"Sudah tujuh tahun, Paman! Tujuh tahun tapi kalian tidak mendapatkan apa pun! Maka aku tidak perlu lagi penegak hukum seperti kalian! Aku akan melakukan sendiri dengan tanganku!" ucap Khania dengan berapi-api. Tatapan matanya menyiratkan sebuah dendam yang mendalam.
__ADS_1
Setelah mengatakan semua hal kepada Ray, Khania segera pergi meninggalkan Ray yang masih mematung tak percaya jika gadis kecilnya kini berubah menjadi gadis yang memendam kebencian dan dendam.
#bersambung