RaKhania

RaKhania
RaKhania ~ 091


__ADS_3

Usai bicara dengan Khania, Liana duduk di bangku panjang depan kamar Khania. Ia menerawang jauh dan memijat pelipisnya pelan. Ia memikirkan banyak hal tentang kerumitan hubungan Rakha, Khayla dan Khania.


Apa yang akan terjadi jika Rakha tahu bahwa Khania masih hidup? Lalu bagaimana dengan Khayla?


Semua pertanyaan pertanyaan yang tentunya memiliki jawaban yang tidak mudah. Lalu bagaimana dengan Ken? Cintanya yang tak pernah pudar pada Khania, akankah terbalas saat Khania terbangun nanti?


Liana benar benar menjadi orang tua yang terlibat dengan segala kerumitan yang dihadapi oleh anak anaknya. Satu masalah selesai, muncul lagi masalah lain. Begitu seterusnya seakan tak pernah berhenti.


"Bibi..."


Suara Ken membuyarkan lamunan Liana.


"Lho, Ken? Kau bilang akan mengurus sesuatu, kenapa ada disini?" tanya Liana.


"Paman Rein meminta kita berkumpul." jawab Ken.


"Rein meminta kita berkumpul?" Liana masih tidak paham dengan situasi yang terjadi.


Tak lama, nampak Ray berjalan menghampiri mereka berdua.


"Ray? Kau juga datang? Apa ayahmu yang memintamu datang?" tanya Liana kepada Ray.


"Iya, Bibi. Ayah memintaku kemari. Dia bilang ada hal penting yang harus di bicarakan."


Liana menatap Ken. Ken mengedikkan bahunya. Kemudian datanglah James bersama dengan Rein.


Mereka mencari tempat yang agak sepi untuk berdiskusi.


"Katakan ada apa Rein? Kenapa meminta kami berkumpul?" tanya Liana.


"Begini, aku mengirim orang untuk berjaga di rumah tahanan yang ditempati Niya. Karena aku merasa yakin jika Alan Thariq pasti datang kesana untuk menemui putrinya." jelas Rein.


"Lalu?"

__ADS_1


"Kita tinggal menunggu kabar. Berkas-berkas mengenai tindak kejahatan yang dilakukan Alan sudahlah lengkap." lanjut Rein.


"Bibi, aku sudah menemukan semua bukti-bukti itu." ucap Ken.


"Silahkan Bibi baca." Ken menyerahkan tablet pintarnya kepada Liana.


Liana mulai membaca dengan teliti semua berkas yang ada di tab pintar Ken.


"Ini..." Liana seakan tak percaya.


"Iya, Bi. Orang yang menjadi dalang dibalik kemalangan yang menimpa keluarga Bibi adalah dia. Alan Thariq." tutur Ken.


"Hah?! Tidak mungkin!" Liana menggeleng pelan.


"Tenanglah, Liana. Aku yakin kau masih berat untuk menerima semuanya. Ditambah Alan adalah sahabat dari mendiang suamimu. Kau pasti tidak mengira dia bisa melakukan ini pada kalian." sahut Rein.


Liana mengangguk pelan. "Baiklah. Aku akan ikuti rencanamu, Rein. Apa ini menjadi tugas kepolisian atau..."


"Aku sudah memberitahu semuanya pada Danial. Dia yang akan memprosesnya. Jika ISS terlibat, maka organisasi hitam tidak akan tinggal diam. Ini tidak bagus untuk kita. Kita akan melakukan semuanya secara diam diam." jelas Rein.


Beberapa saat kemudian, ponsel Rein berdering. Sebuah panggilan dari orang yang di tunggu.


"Halo, bagaimana hasil pengintaianmu?"


"Seperti yang sudah komandan prediksi. Alan Thariq baru saja mengunjungi Ghaniya."


"Hmm, kerja bagus."


Rein menutup panggilannya kemudian menatap keempat orang yang sedang bersamanya.


"Kita harus segera bergerak! Siapkan diri kalian!"


Mereka saling pandang namun sudah tahu apa yang akan mereka lakukan.

__ADS_1


.


.


.


.


Beberapa jam kemudian di sebuah bandar udara,


Surat perintah pencekalan atas nama Alan Thariq sudah diterbitkan. Mereka sudah tahu jika Alan pasti akan pergi ke luar negeri untuk melarikan diri. Untuk itu, pihak kepolisian sudah menyiapkan rencana indah untuk Alan.


Mereka sudah mendapat informasi jika Alan Thariq akan menaiki pesawat hari ini. Pihak kepolisian ditemani ISS sudah berada di bandara.


Sebenarnya, Alan bisa saja menaiki jet pribadi miliknya. Namun entah kenapa ada rasa tak biasa darinya. Mungkinkah ia sudah bosan kucing kucingan dengan pihak polisi? Entahlah.


Saat Alan sedang berjalan menuju tempat pemeriksaan bandara, secara tiba tiba...


"Jangan bergerak! Anda kami tahan, Tuan Alan Thariq. Silahkan ikut kami, dan anda berhak didampingi pengacara." ucap Danial yang memimpin jalannya rencana ini.


Alan Thariq hanya pasrah dan tak melawan. Jujur ia tidak menyangka jika hal ini akan terjadi secepat ini.


Sesampainya di kantor kepolisian pusat Kota M, Alan di tempatkan disebuah ruang investigasi khusus. Meski masih bungkam, tapi Danial membeberkan fakta yang sesungguhnya satu persatu.


Alan pun tak dapat mengelak lagi.


"Baiklah. Aku mengakui semuanya..."


...***...


...***...


#bersambung lagi dulu ya shay...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian setelah baca 😉😉 Like, Vote, Comments, Gifts.


...terima kasih ...


__ADS_2