
Hari itu juga Khania kembali ke Indonesia sesuai dengan apa yang ia katakan pada Ray. Sudah cukup dirinya membuat Ray kalang kabut karena menghilang di tengah Kota Rio.
Kini Ray kembali fokus pada pekerjaannya di ISS. Banyak hal yang ditargetkan ISS meski dirinya berada di luar negeri.
Tentu saja menangkap para buronan yang kabur ke luar negeri itu adalah yang utama. Ray dan anak buahnya belum bisa menangkap dalang dari kematian Khayla dan Rakha beberapa tahun lalu. Kasus kecelakaan itu terlalu misterius. Seakan-akan ada hal besar yang membelakanginya.
Disisi lain, Josh menyusun rencana untuk bisa menghancurkan ISS. Putra dari Jonas Wilder ini tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang dia mau. Yaitu melihat kehancuran Ray dan timnya.
Josh yang memang memiliki otak cerdas, menyiapkan penjebakan terhadap Ray. Meski ia masih terluka karena tembakan kepolisian setempat, tapi Josh bukanlah pria yang lemah.
Ray mendapatkan pesan dari anonim jika ia harus datang ke sebuah tempat yang diyakini sebagai tempat dari Josh. Dalam pesan itu Josh menulis jika dirinya adalah anak dari Jonas, musuh Ray di masa lalu.
"Apa?! Tidak mungkin! Jadi Jonas memiliki seorang putra?"
Ray mencoba mengingat bagaimana masa lalunya dulu bersama Zevanya. Seingatnya Zevanya tidak pernah menyebutkan jika kakaknya hamil dan itu adalah anak Jonas.
Karena tak ingin terus berspekulasi sendiri, Ray memutuskan untuk menemui Josh secara langsung. Tanpa ia sadar jika semua itu adalah jebakan yang disiapkan oleh Josh.
Di dalam markas, ketiga orang anak buah Ray kini sedang tak berdaya karena diserang tanpa adanya persiapan yang matang. Josh membakar markas milik ISS itu dan membuat ketiga orang Isabel, Lexi dan Bastian tidak bisa keluar lagi.
Letak bangunan tua yang berada jauh dari kota membuat Josh mudah melancarkan aksinya. Tembakan beruntun ia arahkan ke tempat itu.
Josh tertawa puas setelah melihat bangunan itu terbakar habis. Ia pun pergi dari sana dan berniat melarikan diri ke negara lain lagi. Ia akan bersembunyi disana.
Namun saat ia akan kembali ke apartemennya, sebuah mobil menghantam tubuhnya. Josh terkapar di jalan. Seseorang langsung turun dari dalam mobil.
"Maafkan Paman, Nak! Paman harus melakukan ini untuk membuatmu menghentikan semuanya." Dia adalah Zidane. Ia membawa tubuh Josh yang bersimbah darah masuk ke dalam mobil. Kali ini ia akan membawa Josh kembali ke jalan yang benar. Ia tak ingin keponakannya ini terus menerus menjadi seorang penjahat.
#
#
#
Ray mendapat telepon jika markas milik ISS mengalami kebakaran. Ray melaju dengan sangat cepat menuju kesana. Ray tertegun melihat bangunan itu sudah dilalap si jago merah.
"Tidak! Tidak! Isabel, Lexi, Bastian!"
__ADS_1
Ray histeris di depan bangunan yang hampir menjadi abu itu. Ray terduduk lemas dan merutuki dirinya sendiri.
Tiga hari kemudian, Penasehat ISS datang menemui Ray dan meminta Ray kembali ke Indonesia. Kondisi Ray masih kacau saat ini, ketika ia menjalani sidang pendisiplinan dirinya di depan para tetinggi ISS.
"Orang tua ketiga anggota timmu melakukan tuntutan. Apa yang akan kau lakukan, Ray?" tanya Harold, ketua ISS.
"Lakukan sesuai prosedur saja, Pak." Ray menjawab lemah. Ia sudah kehilangan murid-murid yang begitu hebat. Ray seakan tidak sanggup melihat penderitaan keluarga korban.
"Jadi, kau siap untuk dihukum?"
Ray mengangguk. "Iya, saya siap dihukum."
#
#
#
Berita mengenai penangkapan Ray akhirnya di dengar juga oleh keluarga Wicaksana. Tentu saja Khania tidak percaya jika pria yang sangat ia kagumi kini malah berada dalam hukuman penjara.
Waktu berlalu begitu cepat. Khania sudah menyelesaikan studinya di jurusan hukum dan kini ia memilih berkarir di ISS, sama seperti ibunya. Sebenarnya tujuannya adalah agar bisa menemui Ray.
Namun Ray masih saja tidak ingin ditemui oleh siapapun termasuk Khania. Hanya satu orang yang mau ditemui oleh Ray, yaitu Randy. Pria kecil yang dulu pernah di tolong oleh Ray itu kini menjelma menjadi agen ISS yang cukup handal dalam memecahkan kasus.
Khania hanya menerima kabar tentang Ray dari Randy. Bagi Khania, menurutnya itu sudah lebih dari cukup. Yang penting ia tahu jika Ray dalam keadaan baik-baik saja.
Khania yang kini berusia 23 tahun, memiliki seorang kekasih dan berniat ingin menikah dengannya. Namanya Jay, hanya pria biasa yang di temuinya ketika sedang mengantri di kedai eskrim.
Khania sudah yakin dengan Jay yang memiliki kepribadian ramah dan santun. Keluarga Khania juga sangat menyukai Jay.
Khania hidup bahagia Jay dan dikaruniai seorang putri cantik yang mereka beri nama Agnes.
#
#
#
__ADS_1
Lima tahun kembali berlalu. Dan Ray sudah menjalani hukumannya selama 10 tahun. Selama itu pula ia tidak bersedia ditemui oleh Khania, meski wanita itu selalu datang untuk menemui Ray.
Khania harus menelan pil kekecewaan karena Ray tidak mau bertemu dengannya. Padahal kedatangannya kali ini adalah untuk memberi tahu perihal kebahagiaan keluarga kecilnya bersama Jay dan Agnes.
"Jangan memaksanya. Dia sedang menghukum dirinya sendiri, Khania." Randy yang bisa menemui Ray hanya dapat menenangkan Khania.
"Iya, aku tahu. Padahal aku hanya ingin memberikan ini padanya." Khania menyerahkan selembar foto pada Randy.
Randy menerimanya. "Akan aku sampaikan pada paman Ray. Kudengar dia mendapatkan keringanan hukuman, jadi mungkin dia akan dibebaskan dalam waktu dekat."
"Benarkah? Kalau begitu tolong katakan padanya, kami merindukannya."
"Baiklah."
"Kalau begitu aku pergi dulu ya."
"Hati-hati, Khania."
Khania melambaikan tangannya dan meninggalkan Randy. Pria itu tersenyum melihat foto keluarga kecil Khania.
Sejak dulu Randy mengagumi sosok Khania. Tapi ternyata mereka tidaklah berjodoh.
#
#
#
Hari kebebasan Ray akhirnya tiba. Pria itu disambut hangat oleh sahabat lamanya, Dorian. Bahkan ketika Randy ingin menemui Ray, ternyata Ray sudah pergi dengan Dorian.
Randy merasa kecewa. Ia tak menyangka jika Ray tidak peduli padanya.
"Kemana perginya paman Ray?" gumam Randy dan menghubungi Dorian.
Dorian bilang Ray tidak ingin berhubungan dengan para anggota ISS lagi. Randy merasa kecewa.
"Tapi kau jangan khawatir, jika Ray ingin menemuimu, maka dia akan menghubungimu nantinya." Begitulah yang Dorian katakan pada Randy.
__ADS_1